Latest Entries »

Ini dia BUXTO salah satu cara untuk mengumpulkan duit lewat internet. Jika dulu Anda takut terkena click fraud (klik curang untuk mendapatkan dolar dari program pay per click (PPC)) maka sekarang tugas anda hanya men-click iklan yang muncul. Bagi yang belum tahu program BUXTO adalah program PTC (Paid To Click) yaitu anda akan dibayar ketika mengeklik iklan yang muncul, setiap iklan biasanya dihargai sebesar 0.01 dolar, sekitar 100 rupiah dan setiap hari biasanya ada sekitar 10-20 iklan, tergantung jenis PTCnya dan status member anda. Jika Anda premium member jumlah iklannya lebih banyak dan harganya juga meningkat, per klik iklannya bisa mencapai 0.02 dolar atau kira-kira 200 rupiah. Begitulah deskripsi singkat tentang PTC BUXTO. Yang pasti program ini bisa menghasilkan earning tambahan bagi anda, tentang cara untuk mendapatkan banyak dolar dari program PTC BUXTOini ada banyak, diantaranya berikut ini.

Selain dengan membangun sistem bertingkat macam MLM, ada cara lain untuk mendapatkan uang, agak curang memang, tapi sekedar coba-coba sih saya rasa tidak masalah. Caranya adalah dengan menggunakan program (software komputer) khusus. Dengan software tersebut Anda tidak perlu masuk ke sistem BUXTO, bahkan anda tidak perlu mengeklik iklannya, biarkan software ini yang bekerja. Yang perlu anda lakukan adalah menjalankan program itu, login dan klik start, maka secara otomatis program akan mengeklik daftar iklan, anda tidak melihat bagaimana program itu mengeklik iklan, dolar akan langsung masuk ke dalam akun anda.

Nah Bagaimana cara mendapatkan program/software otomatis itu?
Tenang saja bos, ketika hasrat ingin memiliki program itu, Saya menyediakan program tersebut secara gratis, tapi tidak bisa didownload lewat blog ini, ada aturan khususnya he he Smile. Syarat untuk mendapatkannya anda harus mendaftar lewat referal saya, klik link dibawah ini :

JOIN BUXTO SILAHKAN KLIK LINK DI BAWAH INI!!

——————————–
http://bux.to/?r=joecky
——————————–

1000% GRATIS..TIS..TIS !!

misalkan referral yang kita dapat sebanyak 30 orang (terlalu sedikit ya:-),ntar kalo yang lebih banyak hitung sendiri aja!)

Ok…misalkan kita punya 30 orang referral dan iklan yang tersedia rata2 10 iklan dalam satu hari (pada kenyataanya lebih banyak!)

Earning/penghasilan dari iklan yang kita klik sendiri adalah :
- Anda klik 10 link iklan per hari = 10 link x $0.01 = $0.10
- 30 referral mengklik 10 link iklan per hari = 30 x 10 x 0.01 = $3.00
- Penghasilan harian anda = $0.01 + $3.00 = $3.10
- Penghasilan mingguan anda = $3.10 x 7 hari = $21.70
- Penghasilan bulanan anda = $3.10 x 30 hari = $93.00
Atau kalau dirupiahkan = ± Rp.837.000,- per bulan (Kurs $1 = Rp.9000)

WOW…Lumayan, bukan? Ini baru kegiatan yang dilakukan oleh anda bersama 30 referral anda. Bagaimana jika anda memiliki 100 atau lebih referral? Coba kita hitung jika misalnya anda memiliki 1000 orang referral dan masing-masing referral melakukan klik 10 link per hari, maka anda akan mendapatkan :

**1000 orang x 10 link x $0.01 = $100 per hari
atau sekitar ± Rp.900.000,- per hari

Jadinya anda bisa cashout (tarik uang) setiap hari karena minimal cashout adalah apabila di account anda terdapat saldo min. $10.

Menggiurkan bukan…Wink?Tapi, kayanya susah juga kalo harus nyari referral, online tiap hari lagi, harus ngeklik2 lagi kaya orang gila! Tenang, kan ada rahasianya bos, yaitu dengan program/software itu yang bisa mengeklik sendiri iklan2 yang ada, otomatis! Mau???
Sebelumnya, Anda harus daftar dulu [GRATIS TIS ] :

JOIN BUXTO SILAHKAN KLIK LINK DI BAWAH INI!!

——————————–
http://bux.to/?r=joecky
——————————–

1. Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu pusat keaneka-ragaman hayati terpenting di dunia dengan tingkat endemisme tertinggi. Dengan 25.000 spesies tumbuhan berbunga, Indonesia memiliki 10% dari seluruh spesies tumbuhan berbunga dunia. Selain itu, Indonesia juga memiliki 12% spesies mamalia, 16% spesies reptilia, dan 16% spesies burung. Sementara itu di perairan, kurang lebih 25% spesies ikan dunia ada di Indonesia. Semua kekayaan alam dan hayati tersebut merupakan aset yang tak ternilai. Kekayaan daratan dan perairan baik perairan darat maupun perairan laut ini sudah selayaknya dilestarikan. Pelestarian alam dan sumber daya hayati ini secara berkelanjutan dalam jangka panjang sangat penting, karena kelestarian hidup di masa depan bergantung pada kelestarian alam dan lingkungan.

Sehubungan dengan upaya-upaya pelestarian itu, Pemerintah Republik Indonesia telah melakukan berbagai upaya guna melindungi kekayaan alam yang luar biasa ini melalui berbagai kebijakan dan kerja sama dengan berbagai kelompok masyarakat, baik nasional maupun internasional. Pemerintah telah menetapkan 179 wilayah sebagai cagar alam dan daerah konservasi, antara lain: 40 di Pulau Jawa dan Bali, 29 di Sumatera, 16 di Kalimantan, 23 di Sulawesi, 31 di Nusa Tenggara,16 di Maluku dan 18 di Irian Jaya. Berbagai upaya pelestarian keanekaragaman hayati ini bukan tanpa hambatan. Kerusakan lingkungan baik yang disengaja atau tidak disengaja masih terjadi dan cenderung mengalami peningkatan. Penambangan tak terkendali, penebangan dan kebakaran hutan, alih fungsi lahan yang kurang tepat, pencemaran dan sebab-sebab lain menjadi pendorong semakin cepatnya kerusakan alam dan kekayaan hayati.

Upaya-upaya Pemerintah dalam pelestarian dan pengembangan sumber daya alam ini tentu harus didukung oleh seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah Daerah yang di era otonomi daerah memiliki peranan yang lebih besar dalam upaya-upaya pelestarian kekayaan hayati ini harus lebih banyak lagi melibatkan partisipasi masyarakat daerahnya. Hal ini karena perencanaan pembangunan daerah perlu dilakukan secara terintegrasi pada semua sektor, sehingga diperoleh manfaat yang lebih besar dari berbagai potensi ekonomi daerah. Selain itu, perencanaan yang terintegrasi juga akan mengurangi dampak-dampak yang tidak diharapkan baik pada saat ini maupun yang akan datang.

Sementara itu, pariwisata merupakan salah satu sektor ekonomi penting dan strategis di masa depan. Identifikasi dan perencanaan pengembangan industri pariwisata perlu dilakukan secara lebih rinci dan matang. Pengembangan industri pariwisata ini diharapkan juga mampu menunjang upaya-upaya pelestarian alam, kekayaan hayati dan kekayaan budaya bangsa. Pengembangan agrowisata merupakan salah satu alternatif yang diharapkan mampu mendorong baik potensi ekonomi daerah maupun upaya-upaya pelestarian tersebut.

Pemanfaatan potensi sumber daya alam sering kali tidak dilakukan secara optimal dan cenderung eksploitatif. Kecenderungan ini perlu segera dibenahi salah satunya melalui pengembangan industri pariwisata dengan menata kembali berbagai potensi dan kekayaan alam dan hayati berbasis pada pengembangan kawasan secara terpadu. Potensi wisata alam, baik alami maupun buatan, belum dikembangkan secara baik dan menjadi andalan. Banyak potensi alam yang belum tergarap secara optimal. Pengembangan kawasan wisata alam dan agro mampu memberikan kontribusi pada pendapatan asli daerah, membuka peluang usaha dan kesempatan kerja serta sekaligus berfungsi menjaga dan melestarikan kekayaaan alam dan hayati. Apalagi kebutuhan pasar wisata agro dan alam cukup besar dan menunjukkan peningkatan di seluruh dunia. Sekitar 52% aset wisata Indonesia sebenarnya berupa sumber daya alam. Australia memiliki 55% aset wisata yang juga merupakan jenis wisata alam. Tercatat lebih dari 29 juta penduduk Amerika melakukan sejumlah 310 juta perjalanan yang dimotivasi oleh wisata alam.

Sebagai negara agraris yang memiliki kekayaan sumber daya alam berlimpah, pengembangan industri agrowisata seharusnya memegang peranan penting di masa depan. Pengembangan industri ini akan berdampak sangat luas dan signifikan dalam pengembangan ekonomi dan upaya-upaya pelestarian sumber daya alam dan lingkungan. Melalui perencanaan dan pengembangan yang tepat, agrowisata dapat menjadi salah satu sektor penting dalam ekonomi daerah.

Pengembangan industri pariwisata khususnya agrowisata memerlukan kreativitas dan inovasi, kerjasama dan koordinasi serta promosi dan pemasaran  yang baik. Pengembangan agrowisata berbasis kawasan berarti juga adanya keterlibatan unsur-unsur wilayah dan masyarakat secara intensif.

2.   Pengertian Kawasan Agrowisata

Agrowisata memiliki pengertian yang sangat luas, dalam banyak hal sering kali berisikan dengan ekowisata. Ekowisata dan agrowisata memiliki banyak persamaan, terutama karena keduanya berbasis pada sumber daya alam dan lingkungan. Di beberapa negara agrowisata dan ekowisata dikelompokkan dalam satu pengertian dan kegiatan yang sama, agrowisata merupakan bagian dari ekowisata. Untuk itu, diperlukan kesamaan pandangan dalam perencanaan dan pengembangan agrowisata dan ekowisata. Sedikit perbedaan antara agrowisata dan ekowisata dapat dilihat pada definisi dibawah ini.

EKOWISATA atau ecotourism merupakan pengembangan industri wisata alam yang bertumpu pada usaha-usaha pelestarian alam atau konservasi. Beberapa contoh ekowisata adalah Taman Nasional, Cagar Alam, Kawasan Hutan Lindung, Cagar Terumbu Karang, Bumi Perkemahan dan sebagainya.

AGROWISATA, menurut Moh. Reza T. dan Lisdiana F, adalah objek wisata dengan tujuan untuk memperluas pengetahuan, pengalaman rekreasi, dan hubungan usaha di bidang pertanian. Agrowisata atau agrotourism dapat diartikan juga seabagai pengembangan industri wisata alam yang bertumpu pada pembudidayaan kekayaan alam. Industri ini mengandalkan pada kemampuan budidaya baik pertanian, peternakan, perikanan atau pun kehutanan. Dengan demikian agrowisata tidak sekedar mencakup sektor pertanian, melainkan juga budidaya perairan baik darat maupun laut.

Baik agrowisata yang berbasis budidaya, maupun ekowisata yang bertumpu pada upaya-upaya konservasi, keduanya berorientasi pada pelestarian sumber daya alam serta masyarakat dan budaya lokal. Pengembangan agrowisata dapat dilakukan dengan mengembangkan kawasan yang sudah atau akan dibangun seperti kawasan agropolitan, kawasan usaha ternak maupun kawasan industri perkebunan. Jadi, Pengembangan kawasan agrowisata berarti mengembangkan suatu kawasan yang mengedepankan wisata sebagai salah satu pendorong pertumbuhan ekonominya. Industri wisata ini yang diharapkan mampu menunjang berkembangnya pembangunan agribisnis secara umum.

Kawasan agrowisata sebagai sebuah sistem tidak dibatasi oleh batasan-batasan yang bersifat administratif, tetapi lebih pada skala ekonomi dan ekologi yang melingkupi kawasan agrowisata tersebut. Ini berarti kawasan agrowisata dapat meliputi desa-desa dan kota-kota sekaligus, sesuai dengan pola interaksi ekonomi dan ekologinya. Kawasan-kawasan pedesaan dan daerah pinggiran dapat menjadi kawasan sentra produksi dan lokasi wisata alam, sedangkan daerah perkotaan menjadi kawasan pelayanan wisata, pusat-pusat kerajinan, yang berkaitan dengan penanganan pasca panen, ataupun terminal agribisnis.

Kawasan agrowisata yang dimaksud merupakan kawasan berskala lokal yaitu pada tingkat wilayah Kabupaten/Kota baik dalam konteks interaksi antar kawasan lokal tersebut maupun dalam konteks kewilayahan propinsi atau pun yang lebih tinggi.

2.1. Kriteria Kawasan Agrowisata

Kawasan agrowisata yang sudah berkembang memiliki kriteria-kriteria, karakter dan ciri-ciri yang dapat dikenali. Kawasan agrowisata merupakan suatu kawasan yang memiliki kriteria sebagai berikut:

1)   Memiliki potensi atau basis kawasan di sektor agro baik pertanian, hortikultura, perikanan maupun peternakan, misalnya:

a.   Sub sistem usaha pertanian primer (on farm) yang antara lain terdiri dari pertanian tanaman pangan dan holtikultura, perkebunan, perikanan, peternakan dan kehutanan.

b.   Sub sistem industri pertanian yang antara lain terdiri industri pengolahan, kerajinan, pengemasan, dan pemasaran baik lokal maupun ekspor.

c.   Sub sistem pelayanan yang menunjang kesinambungan dan daya dukung kawasan baik terhadap industri & layanan wisata maupun sektor agro, misalnya transportasi dan akomodasi, penelitian dan pengembangan, perbankan dan asuransi, fasilitas telekomunikasi dan infrastruktur.

2)   Adanya kegiatan masyarakat yang didominasi oleh kegiatan pertanian dan wisata dengan keterkaitan dan ketergantungan yang cukup tinggi. Kegiatan pertanian yang mendorong tumbuhnya industri pariwisata, dan sebaliknya kegiatan pariwisata yang memacu berkembangnya sektor agro.

3)   Adanya interaksi yang intensif dan saling mendukung bagi kegiatan agro dengan kegiatan pariwisata dalam kesatuan kawasan. Berbagai kegiatan dan produk wisata dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

2.2. Prasyarat Kawasan Agrowisata

Pengembangan kawasan agrowisata harus memenuhi beberapa prasyarat dasar antara lain:

1.   Memiliki sumberdaya lahan dengan agroklimat yang sesuai untuk mengembangkan komoditi pertanian yang akan dijadikan komoditi unggulan.

2.   Memiliki prasarana dan infrastruktur yang memadai untuk mendukung pengembangan sistem dan usaha agrowisata, seperti misalnya: jalan, sarana irigasi/pengairan, sumber air baku, pasar, terminal, jaringan telekomunikasi, fasilitas perbankan, pusat informasi pengembangan agribisnis, sarana produksi pengolahan hasil pertanian, dan fasilitas umum serta fasilitas sosial lainnya.

3.   Memiliki sumberdaya manusia yang berkemauan dan berpotensi untuk mengembangkan kawasan agrowisata.

4.   Pengembangan agrowisata tersebut mampu mendukung upaya-upaya konservasi alam dan kelestarian lingkungan hidup bagi kelestarian sumberdaya alam, kelestarian sosial budaya maupun ekosistem secara keseluruhan.

3.  Tujuan Pengembangan Kawasan Agrowisata

Pariwisata menurut Undang-undang kepariwisataan No. 9 tahun 1990 adalah bahwa penyelenggaraan kepariwisataan adalah memperkenalkan, mendayagunakan, melestarikan dan meningkatkan mutu obyek dan daya tarik wisata; memupuk rasa cinta tanah air dan meningkatkan persahabatan antar bangsa; memperluas dan memeratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja; meningkatkan pendapatan nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat; mendayagunakan produksi nasional.

Pariwisata diarahkan sebagai sektor andalan dan unggulan di luar migas diharapkan memberikan kontribusi yang besar peranannya sebagai (1) penghasil devisa negara, (2) mendorong pertumbuhan ekonomi nasional/daerah, (3) pemberdayaan ekonomi masyarakat, (4) memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusaha, (5) meningkatkan pemasaran produk nasional, (6) meningkatkan kesejahteraan, (7) memelihara kepribadian bangsa, (8) melestarikan fungsi dan mutu lingkungan hidup.

Sebagai bagian dari pengembangan pariwisata bahwa tujuan pengembangan kawasan agrowisata adalah:

(a) Mendorong tumbuhnya visi jangka panjang pengembangan industri pariwisata, khususnya agrowisata, sebagai salah satu sarana peningkatan ekonomi dan pelestarian sumber daya alam masa depan.

(b) Memberikan kerangka dasar untuk perencanaan dan pengembangan agrowisata secara umum.

(c) Mendorong upaya-upaya untuk pengembangan industri wisata yang terpadu berbasis kawasan dan potensi-potensi kewilayahan, sosial dan budaya daerah.

Perencanaan pengembangan kawasan agrowisata berbasis kawasan ini ditujukan untuk meningkatkan kegiatan Pemerintah Daerah, dunia usaha dan masyarakat umum, dimana sasaran yang hendak dicapai adalah:

1.   Terwujudnya panduan awal bagi Pemerintah Daerah dalam perencanaan pengembangan kawasan agrowisata;

2.   Terwujudnya pengembangan kawasan agrowisata sebagai bahan masukan kebijakan dan pengembangan kawasan pariwisata di daerah;

3.   Terwujudnya motivasi bagi Pemerintah Daerah dan swasta/masyarakat untuk pengembangan kawasan agrowisata.

4.   Terwujudnya kawasan yang mendukung kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup di daerah;

5.   Terwujudnya peningkatan kesempatan kerja dan pendapatan daerah/masyarakat.

4.  Pengembangan Kawasan Agrowisata

Pengembangan kawasan agrowisata ini menuntut pengelolaan ruang (tata ruang) yang lebih menyeluruh baik yang meliputi pengaturan, evaluasi, penertiban maupun peninjauan kembali pemanfaatan ruang sebagai kawasan agrowisata, baik dari sisi ekologi, ekonomi maupun sosial budaya. Penataan kawasan agrowisata ini sangat mungkin beririsan dengan pemanfaatan kawasan lain seperti kawasan pemukiman atau kawasan industri. Prioritas perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kepentingan jangka panjang. Oleh karena itu dalam pengembangannya diperlukan pendekatan kawasan yang bukan hanya meliputi sisi ekologi, tetapi juga sosial budaya dan ekonomi. Sehingga dalam jangka panjang, bukan hanya pelestarian daya dukung lingkungan saja yang tercapai, tetapi juga pertumbuhan ekonomi yang stabil serta budaya yang lestari.

Pengembangan agrowisata sebagai salah satu sektor pembangunan secara umum menjadi sangat relevan, sesuai dengan potensi daerah masing-masing.

Pengembangan agrowisata berbasis kawasan akan mampu mendorong berbagai sektor lain baik ekonomi, sosial maupun budaya. Dan perencanaan pengembangan kawasan agrowisata harus dilihat dalam bingkai hubungan faktor pemintaaan (demand) dan faktor penawaran (supply factor). Demand Factor adalah profil dan situasi pasar wisata baik internasional maupun domestik, kecenderungan pasar dan sebagainya. Sedangkan supply factor merupakan produk dan layanan wisata yang dikembangkan baik berupa kegiatan, fasilitas maupun aset wisata.

Gambar 1. Hubungan Faktor Permintaan dan Penawaran dalam Pengembangan Kawasan Agrowisata

Pengembangan kawasan agrowisata harus dilakukan secara terintegrasi dengan sektor-sektor terkait seperti pertanian, peternakan, perikanan, pengolahan, perhotelan, biro perjalanan, industri, kesenian dan kebudayaan dan sebagainya dalam bingkai kewilayahan dan keterpaduan pengelolaan kawasan. Agrowisata dapat merupakan pengembangan dari sektor lain yang diharapkan mampu menunjang pengembangan ekonomi secara berkelanjutan, misalnya pengembangan kawasan agrowisata pada kawasan agropolitan, pengembangan kawasan agrowisata pada kawasan perkebunan, pengembangan kawasan agrowisata pada tanaman pangan dan hortikultura, pengembangan kawasan agrowisata pada kawasan peternakan, pengembangan kawasan agrowisata pada kawasan perikanan darat dan lain sebagainya.

4.1. Prinsip-prinsip Pengembangan

Perencanaan pengembangan kawasan agrowisata harus memenuhi prinsipprinsip tertentu yaitu:

a.   Pengembangan kawasan agrowisata harus mempertimbangkan penataan dan pengelolaan wilayah dan tata ruang yang berkelanjutan baik dari sisi ekonomi, ekologi maupun sosial budaya setempat.

•     Mempertimbangkan RTRWN yang lebih luas sebagai dasar pengembangan kawasan.

•     Mendorong apresiasi yang lebih baik bagi masyarakat luas tentang pentingnya pelestarian sumber daya alam yang penting dan karakter sosial budaya.

•     Menghargai dan melestarikan keunikan budaya, lokasi dan bangunanbangunan bersejarah maupun tradisional.

b. Pengembangan fasilitas dan layanan wisata yang mampu memberikan kenyamanan pengunjung sekaligus memberikan benefit bagi masyarakat setempat.

•     Memberikan nilai tambah bagi produk-produk lokal dan meningkatkan pendapatan sektor agro.

•     Merangsang tumbuhnya investasi bagi kawasan agrowisata sehingga menghidupkan ekonomi lokal.

•     Merangsang tumbuhnya lapangan kerja baru bagi penduduk lokal.

•     Menghidupkan gairah kegiatan ekonomi kawasan agrowisata dan sekitarnya.

•     Meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya lokal.

c.   Pengembangan kawasan agrowisata harus mampu melindungi sumber daya dan kekayaan alam, nilai-nilai budaya dan sejarah setempat. Pengembangan kawasan agrowisata ini tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar semata, tetapi harus dalam koridor melindungi dan melestarikan aset-aset yang menjadi  komoditas utama pengembangan kawasan. Penggalian terhadap nilai-nilai, lokasi, kegiatan, atraksi wisata yang unik ditujukan untuk mendorong pertumbuhan kawasan agrowisata secara berkelanjutan.

d.   Diperlukan studi dan kajian yang mendalam, berulang (repetitive) dan melibatkan pihak-pihak yang relevan baik dari unsur masyarakat, swasta maupun pemerintah. Dengan demikian diharapkan perencanaan & pengembangan kawasan semakin baik dari waktu ke waktu serta terdokumentasi dengan baik.

4.2. Ruang Lingkup/Cakupan Kawasan

Ruang Lingkup/cakupan kawasan agrowisata dapat meliputi pegunungan, lereng, lembah, perairan (sungai dan danau) sampai ke pantai dan perairan laut.

Dari segi fungsi dapat terdiri dari antara lain:

1.   Sub Sistem Lahan Budidaya

Kawasan lahan budidaya merupakan kawasan dimana produk-produk agribisnis dihasilkan. Kawasan ini dapat berupa pertanian tanaman pangan, holtikultura, perkebunan dan perikanan baik darat maupun laut. Kegiatan dalam kawasan ini antara lain pembenihan, budidaya dan pengelolaan. Pengembangan produk wisata pada sub sistem ini misalnya wisata kebun, wisata pemancingan, wisata pendidikan, wisata boga di saung, penginapan saung, dan sebagainya.

2.   Sub Sistem Pengolahan & Pemasaran

Pengolahan produk-produk agribisnis dapat dilakukan di kawasan terpisah dengan kawasan lahan budidaya. Kawasan ini dapat terdiri dari kawasan industri pengolahan dan pemasaran baik bahan pangan maupun produk kerajinan. Standardisasi dan pengemasan dapat juga dilakukan di kawasan ini sebelum produk-produk agribisnis siap dipasarkan. Wisata belanja, wisata boga atau pun wisata pendidikan dapat dikembangkan pada sub sistem ini.

Gambar  2. Siklus Berkesinambungan Dalam Pengembangan Kawasan Agrowisata
3.      Sub Sistem Prasarana & Fasilitas Umum

Sub sistem ini merupakan sub sistem pendukung kawasan agrowisata. Prasarana dan Fasilitas Umum dapat terdiri dari pasar, kawasan perdagangan, transportasi dan akomodasi, fasilitas kesehatan serta layanan-layanan umum lainnya. Pengembangan fasilitas ini harus memperhatikan karakter dan nilai-nilai lokal tanpa meninggalkan unsur-unsur keamanan dan kenyamanan peminat agrowisata.

4.4. Interaksi antar Sub Sistem

Interaksi antar kawasan harus memperoleh perhatian yang serius misalnya kawasan cagar budaya, cagar alam, kawasan pemukiman dan kawasan sentra industri. Interaksi keseluruhan kawasan harus mampu mendukung pengembangan industri wisata secara keseluruhan. Untuk itu diperlukan kesadaran kolektif yang kuat sesuai dengan semangat pelayanan untuk pengembangan industri agrowisata.

a.   Cakupan Sektor Agrowisata

Pengembangan kawasan agrowisata dapat dilakukan sesuai dengan potensi yang dapat dikembangkan di daerah. Hal ini perlu mempertimbangkan antara agroklimat, kesesuaian lahan, budaya agro yang sudah berkembang, potensi pengembangan dan kemungkinan-kemungkinan produk-produk turunan yang dapat dikembangkan di masa depan.

Berkaitan dengan sektor agribisnis yang dapat dikembangkan, tipologinya dapat terdiri atas: usaha pertanian tanaman pangan dan hortikultura, usaha perkebunan, usaha peternakan, usaha perikanan darat, usaha perikanan laut, dan kawasan hutan wisata konservasi alam.

Pengembangan kawasan agrowisata dimungkinkan untuk dilakukan secara lintas sektor. Kreativitas dan inovasi dalam pengembangan produk-produk wisata dan membidik celah pasar merupakan sesuatu yang sangat penting.

Pengembangan kawasan agrowisata secara lintas sektoral ini harus direncanakan dan dikemas secara terpadu dengan memperhatikan aksesibilitas, kemudahan dan ketersedian berbagai fasilitas dan layanan. Semakin banyaknya pilihan produk wisata dalam suatu kawasan memungkinkan kawasan agrowisata semakin menarik.

b.   Tipologi Kawasan Agrowisata

Kawasan agrowisata memiliki tipologi kawasan sesuai klasifikasi usaha pertanian dan agribisnisnya masing-masing. Adapun tipologi kawasan agrowisata tersebut dalam Tabel 1 dibawah ini, sebagai berikut:

c.   Infrastruktur

Infrastruktur penunjang diarahkan untuk mendukung pengembangan sistem dan usaha agrowisata sebagai sebuah kesatuan kawasan yang antara lain meliputi:

1.   Dukungan fasilitas sarana & prasarana yang menunjang kegiatan agrowisata yang mengedepankan kekhasan lokal dan alami tetapi mampu memberikan kemudahan, kenyamanan dan keamanan bagi wisatawan. Fasilitas ini dapat berupa fasilitas transportasi & akomodasi, telekomunikasi, maupun fasilitas lain yang dikembangkan sesuai dengan jenis agrowisata yang dikembangkan.

2.   Dukungan sarana dan prasarana untuk menunjang subsistem kegiatan agribisnis primer terutama untuk mendukung kerberlanjutan kegiatan agribisnis primer, seperti: bibit, benih, mesin dan peralatan pertanian, pupuk, pestisida, obat/vaksin ternak dan lain-lain. Jenis dukungan sarana dan prasarana dapat berupa:

a.   Jalan

b.   Sarana Transportasi.

c.   Pergudangan Sarana Produksi Pertanian

d.   Fasilitas Bimbingan dan Penyuluhan, pendidikan dan pelatihan.

e.   Fasilitas lain yang diperlukan

3.   Dukungan sarana dan prasarana untuk menunjang subsistem usaha tani/ pertanian primer (on-farm agribusiness) untuk peningkatan produksi dan keberlanjutan (sustainability) usaha budi-daya pertanian: tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan. Jenis sarana dan prasarana ini antara lain:

a.   Jalan-jalan pertanian antar kawasan.

b.   Sarana air baku melalui pembuatan sarana irigasi untuk mengairi dan menyirami lahan pertanian.

c.   Dermaga, tempat pendaratan kapal penangkap ikan, dan tambatan perahu pada kawasan budi daya perikanan tangkapan, baik di danau ataupun di laut.

d.   Sub terminal agribisnis & terminal agribisnis.

4.   Infrastruktur yang tepat guna, yang dimaksud infrastruktur yang dibangun baik jenis maupun bentuk bangunan harus dirancang sedemikian rupa tanpa melakukan eksploitasi yang berlebihan dan menimbulkan dampak yang seminimal mungkin pada lingkungan sekitarnya. Teknologi yang digunakan dapat bervariasi dan sebaiknya jenis teknologi harus disesuaikan dengan kondisi setempat.

5.   Biro perjalanan wisata sebagai pemberi informasi dan sekaligus mempromosikan pariwisata, meskipun mereka lebih banyak bekerja dalam usaha menjual tiket dibandingkan memasarkan paket wisata.

d. Kelembagaan

1)   Lingkup pedoman kelembagaan adalah suatu ketentuan berupa sistem pengelolaan yang menjembatani berbagai kepentingan antara instansi terkait atau disebut protokol

2)   Protokol diarahkan kepada pengaturan hubungan antara pemangku kepentingan dan antar tingkat pemerintahan baik di pusat maupun daerah

3)   Sesuai dengan kondisi daerah dan jenis agrowisata yang dikembangkan, pihak-pihak stakeholders yang berkepentingan dan terkait baik langsung maupun tidak langsung dengan pengembangan kawasan agrowisata ini antara lain:

a.   Kantor Kementerian Pariwisata & Persenibud

b.   Dinas Pariwisata dan Persenibud

c.   Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah

d.   Dinas Pertanian

e.   Dinas Kelautan dan Perikanan

f.    Dinas Perdagangan dan Perindustrian

g.   Dinas Perhubungan

h.   Dinas Kehutanan dan Perkebunan

i.    Kanwil Pertanahan Nasional

j.    TKPRD (Tim Koordinasi Penataan Ruang Daerah)

k.   Pemerintah Daerah Tingkat I

l.    Pemerintah Daerah Tingkat II kabupaten/kota

m. Dunia Usaha dan Masyarakat

n.   Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)

o.   Perguruan Tinggi

p.   Dan Lain-Lain.

Tabel 1.  Tipologi Kawasan Agrowisata

No Sub-sektor Usaha Pertanian Tipologi Kawasan Persyaratan Agroklimat
1 Tanaman Pangan dan Hortikultura

.

Dataran rendah dan dataran tinggi, dengan tekstur lahan yang datar, memiliki sarana pengairan (irigasi) atau sumber air yang memadai. Harus sesuai dengan jenis komoditi yang dikembangkan seperti ketinggian lahan, jenis tanah, tekstur lahan, iklim, dan tingkat keasaman tanah
2 Perkebunan Dataran tinggi, tekstur lahan berbukit, tanaman tahunan, memiliki keindahan alam, dekat dengan kawasan konservasi alam. Harus sesuai dengan jenis komoditi yang dikembangkan seperti ketinggian lahan, jenis tanah, testur lahan, iklim, dan tingkat keasaman tanah.
3 Peternakan Dekat kawasan pertanian,

perkebunan dan kehutanan,

dengan sistem sanitasi yang

memadai.

Lokasi tidak boleh berada

dipermukiman & memperhatikan

aspek adaptasi

lingkungan.

4 Perikanan

darat

Terletak pada kolam perikanan darat, tambak, danau alam dan danau buatan, daerah aliran sungai baik dalam bentuk keramba maupun tangkapan alam. Memperhatikan aspek

keseimbangan ekologi dan

tidak merusak ekosistem

lingkungan yang ada.

5 Perikanan

laut

Daerah pesisir pantai hingga lautan dalam hingga batas wilayah zona ekonomi ekslusif perairan NKRI. Memperhatikan aspek keseimbangan ekologi dan tidak merusak ekosistem lingkungan yang ada.
6 Hutan wisata

konservasi

alam (Kebun

Raya)

Kawasan hutan lindung dikawasan

tanah milik negara, kawasan ini bia-sanya berbatasan langsung dengan kawasan lahan pertanian dan perkebunan dengan tanda batas wilayah yang jelas.

Sesuai dengan karakteristik

lingkungan alam wilayah

konservasi hutan setempat.

Lembaga-lembaga tersebut diatas seharusnya bertanggung jawab dalam perencanaan dan pengembangan agrowisata, berkaitan dengan penyediaan berbagai infrastruktur yang diperlukan. Pengalokasian akses seperti akses informasi, komunikasi dan transportasi menjadi tanggung jawab sektor publik. Tetapi dalam implementasinya, sektor publik berkonsentrasi pada perangkat keras, dari aksesakses tersebut, sedangkan perangkat lunak dan pengoperasiannya dapat dilakukan tidak hanya oleh sektor publik tetapi juga sektor swasta, terutama para pengusaha yang relevan dengan masing-masing akses tersebut. Pembangunan pusat-pusat informasi menjadi sangat krusial untuk memacu pengembangan agrowisata pada umumnya. Hal ini karena kegiatan pariwisata merupakan salah satu produk unggulan non migas bagi penerimaan daerah. Disamping itu pemda dan sektor yang relevan bertanggungjawab terhadap perlindungan dan kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup di lokasi. Oleh karena itu pelaksanaan kegiatan agrowisata harus ada kegiatan pemantauan yang dilakukan pemda. Untuk itu perlu ada instrumen yang jelas dan terukur agar monitoring kegiatan agrowisata dapat dilakukan secara optimal.

Swasta dalam pengembangan agrowisata (perguruan tinggi, Lembaga Swadaya Masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha dan masyarakat) diharapkan mempunyai peran yang sangat besar dalam pengembangan pariwisata. Swasta justru lebih berperan dalam pelaksanaan kegiatan agrowisata terutama pemasaran, penyediaan jasa dan opersional kegiatan, disini karena peran swasta melengkapi sektor publik. Oleh karena itu kedua stakeholder tersebut harus bekerjasama dan berkoordinasi agar kegiatan agrowisata dapat berjalan baik.

Dunia usaha dan masyarakat sesuai dengan prinsip agrowisata, keterlibatan dunia usaha dan masyarakat setempat sangat penting dan mutlak diperlukan. Kegiatan ini harus mengakomodasi dan terintegrasi dengan budaya local serta harus memberikan manfaat ekonomi dalam kehidupan masyarakat sekitar. Oleh karena itu perlu diupayakan peningkatan ketrampilan melalui pendidikan latihan agar kesempatan dan kemampuan masyarakat dapat memberikan peran yang lebih besar dalam kegiatan agrowisata.

Kerjasama dan koordinasi antar berbagai stakeholder terkait dalam pengusahaan agrowsisata sangat penting dan menjadi faktor kunci keberhasilan dalam pengembangan agrowisata. Kerjasama dan koordinasi antar berbagai stakeholder dapat bervariasi, mulai dari informasi sampai dengan bentuk kerjasama yang legal dan formal. Sedangkan areal kerjasama juga sangat luas meliputi semua proses pengembangan agrowisata, mulai dari perencanaan seperti penetapan lokasi kawasan, pelaksanaan kegiatan termasuk operasional sampai kepada pemantauan kegiatan agar dapat dicapai sasaran secara berkelanjutan dengan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat setempat khususnya, sebagaimana konsep pengembangan kawasan agrowisata (Gambar 3).

Gambar  3. Konsep Pengembangan Kawasan Agrowisata

5.  Manajemen Pengembangan Kawasan Agrowisata

Pengembangan Agrowisata berbasis kawasan merupakan pengembangan kawasan yang tumbuh dan berkembang dengan memadukan berbagai kelebihan dan keuntungan agribisnis dengan kegiatan wisata secara berkelanjutan. Hal ini memerlukan rencana pengembangan yang menyentuh hal-hal yang paling mendasar baik dari sisi penataan wilayah dan kawasan, pengelolaan sumber daya lokal (baik alam, penduduk, ekonomi, sosial maupun budaya). Penetapan dan pengembangan kawasan agrowisata dapat dilakukan pada beberapa kawasan secara terpadu seperti kawasan sentra produksi pertanian dengan kawasan danau dan sungai. Dengan demikian kawasan agrowisata bukanlah kawasan yang secara khusus diperuntukkan bagi industri wisata, melainkan dapat saja berupa kawasan lain dengan memberikan pengembangan fasilitas, kegiatan serta promosi wisata.

Strategi dan arah kebijakan pengembangan kawasan agrowisata sekurangkurang dilakukan dengan beberapa tahapan berikut ini:

1.   Adanya pedoman pengelolaan ruang kawasan agrowisata sebagai bagian dari RTRWN, yang berupa strategi pola pengembangan kawasan agrowisata tersebut.

2.   Penetapan kawasan agrowisata dilakukan berdasarkan studi kelayakan yang secara mendasar mempertimbangkan kelayakan ekologis, kelayakan ekonomis, kelayakan teknis (agroklimat, kesesuaian lahan, dll), dan kelayakan sosial budaya.

3.   Pengembangan Kawasan Agrowisata harus melalui tahapan-tahapan yang jelas dan terarah. Tahapan-tahapan tersebut antara lain:

a.   Persiapan Kawasan Agrowisata

Merupakan rencana pengembangan jangka pendek antara 0 -1 tahun.

Kawasan ini merupakan daerah potensi pengembangan yang diidentifikasi memiliki potensi yang layak dikembangkan karena kekayaan alamnya dan topologinya, peruntukan maupun sosial budaya. Kawasan ini dapat juga berupa kawasan yang diarahkan untuk kawasan agrowisata, misalnya kawasan bantaran sungai atau danau yang akan direhabilitasi. Melalui pengembangan fasilitas yang mendukung, daerah ini dapat dikembangkan sebagai kawasan agrowisata.

b.   Pra Kawasan Agrowisata

Merupakan rencana pengembangan jangka menengah 1 – 5 tahun, dimana kawasan mulai dikembangkan sesuai dengan arah perencanaan dan pengembangan. Pada tahap ini kawasan sudah mulai berkembang dan kegiatan agrowisata sudah mulai berjalan. Hal ini dapat dicirikan dengan adanya kesadaran yang mulai tumbuh di masyarakat tentang pengembangan kawasan agrowisata di daerahnya serta kegiatan agribisnis dan agrowisata yang berjalan bersama secara serasi. Kegiatan pengembangan sumber daya manusia dan lingkungan pada tahap ini harus dilakukan secara intensif, untuk mempersiapkan sebuah kawasan dengan kesadaran agrowisata.

c.   Tahap Kawasan Agrowisata

Pada tahap ini kawasan sudah mapan sebagai kawasan agrowisata. Pada tahapan ini kawasan agrowisata sudah berkembang dan memiliki ciri-ciri seperti: optimalisasi sumberdaya alam; adanya pusat-pusat kegiatan wisata terpadu dengan berbagai kegiatan budidaya, pengolahan dan pemasaran; minimalnya dampak lingkungan yang terjadi; pemberdayaan masyarakat lokal, seni, sosial dan budaya.

4.   Pengembangan kawasan agrowisata dalam jangka panjang berorientasi pada pelestarian daya dukung lingkungan dan sumber daya alam. Hal ini menuntut pola agribisnis yang dikembangkan benar-benar sesuai dengan karakter dan kesesuaian lahan, memiliki dampak lingkungan minimal (misalnya tidak diperkenankan penggunaan pestisida secara berlebihan atau aplikasi pestisida organik yang aman secara ekologis). Berbagai kebijakan, program, prosedur dan petunjuk pelaksanaan harus dirumuskan secara lebih rinci dengan melibatkan berbagai pihak terkait.

5. Pengembangan kawasan agrowisata diharapkan mampu memelihara dan bahkan memperbaiki daya dukung lingkungan dan kelestarian sumber daya alam secara berkelanjutan dalam jangka panjang. Upaya-upaya pelestarian flora dan fauna yang mulai langka diharapkan dapat dilakukan dan memberikan nilai ekonomi bagi pelaku usaha agrowisata misalnya dengan mengembangkan kawasan budidaya tanaman obat atau tanaman pangan yang sudah mulai jarang dikonsumsi pada masyarakat modern. Hal ini dapat juga dilakukan pada bidang peternakan dan perikanan.

6.   Manfaat Pengembangan agrowisata (warta penelitian dan pengembangan pertanian vol 24 no, 1, 2002). Pengembangan agrowisata sesuai dengan kapabilitas, tipologi, dan fungsi ekologis lahan akan berpengaruh langsung terhadap kelestarian sumberdaya lahan dan pendapatan petani dan masyarakat sekitarnya. Kegiatan ini secara tidak langsung meningkatkan persepsi positif petani serta masyarakat di sekitarnya akan arti pentingnya pelestarian sumberdaya lahan pertanian. Pengembangan agrowisata pada gilirannya akan menciptakan lapangan pekerjaan, karena usaha ini dapat menyerap tenaga kerja dari masyarakat pedesaan, sehingga dapat menahan atau mengurangi arus urbanisasi yang semakin meningkat saat ini. Manfaat yang dapat diperoleh dari agrowisata antara lain adalah melestarikan sumberdaya alam, melestarikan teknologi local dan meningkatkan pendapatan petani/masyarakat sekitar lokasi wisata.

a. Arah Pengembangan

Arah & strategi pengembangan Kawasan Agrowisata harus bertumpu pada kekuatan dan potensi lokal dan berorientasi pasar. Pertumbuhan pasar agrowisata dan ekowisata cukup tinggi di seluruh dunia. Diperlukan kreativitas dan inovasi untuk mengemas dan memasarkan produk-produk unggulan agrowisata dengan menjual keaslian, kekhasan dan ke-lokalan yang ada di kawasan agrowisata. Hal ini dapat dikombinasikan dengan produk-produk yang lebih umum seperti pengembangan wisata petualangan, perkemahan, pengembangan fasilitas hiking/tracking, pemancingan, wisata boga, wisata budaya dan lain-lain sesuai dengan potensi yang dimiliki.

Selain itu, harus diberikan kemudahan dan dukungan melalui penyediaan sarana & prasarana yang menunjang baik dari sisi budidaya, pengolahan pasca panen maupun infrastruktur dan fasilitas lain seperti promosi, transportasi dan akomodasi dan pemasaran yang terpadu harus dilakukan oleh pemerintah baik di pusat maupun di daerah.

Arah pengembangan kawasan agrowisata harus mampu menyentuh komponen-komponen kawasan secara mendasar. Hal ini antara lain meliputi:

a.   Pemberdayaan masyarakat pelaku agrowisata

b.   Pengembangan pusat-pusat kegiatan wisata sebagai titik pertumbuhan.

c.   Pengembangan sarana dan prasarana yang menunjang.

d.   Adanya keterpaduan antar kawasan yang mendukung upaya peningkatan dan pelestarian daya dukung lingkungan serta sosial dan budaya setempat.

e.   Adanya keterpaduan kawasan agrowisata dengan rencana tata ruang wilayah daerah dan nasional.

b. Kordinasi Kelembagaan

Kegiatan perencanaan, pengembangan dan pelaksanaan kawasan agrowisata memerlukan koordinasi antara lembaga terkait dalam pelaksanaan di lapangan dengan membentuk tim teknis pokja tata ruang kawasan agrowisata lintas departemen/sektor terkait.

Bentuk pelaksanaan tugas koordinasi berbentuk:

(1). Pembagian Tugas

Di tingkat pusat dan nasional dilaksanakan melalui BKTRN (Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional), ditingkat propinsi dan kabupaten/kota melalui TKPRD (Tim Koordinasi Penataan Ruang Daerah) di tingkat I dan tingkat II.

(2). Fungsi Pengawasan

BKTRN, TKPRD tingkat I dan TKPRD tingkat II bertugas untuk melakukan pengawasan dan memantau di lapangan, apakah terjadi penyimpangan, pelanggaran, pengrusakan, dan konversi lahan yang telah diperuntukkan sebagai kawasan agrowisata. Selain itu akan selalu memantau perkembangan yang terjadi serta kebijakan dan keputusan yang dibuat oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan departemen teknis yang terkait dengan tata ruang dan pemanfaatan ruang kawasan agrowisata, konversi lahan serta koordinasi teknis di tingkat pelaksanaan.

(3). Penertiban

BKTRN, TKPRD tingkat I dan TKPRD tingkat II akan melakukan penertiban berdasarkan hasil temuan dilapangan sesuai dengan fungsi, tugas, dan kewenangan. Penertiban dalam bentuk memo dinas internal lintas departemen dan rekomendasi tindakan hukum ke instansi penegakkan hukum terkait (Kejaksaan dan Kepolisian).

c. Peran Serta Masyarakat

1. Perguruan Tinggi

Perguruan tinggi sebagai center of excellence akan menjadi mitra pemerintah baik ditingkat pusat maupun daerah dalam pengembangan riset di berbagai bidang termasuk dalam pengembangan agrowisata ini baik yang berkaitan dengan budidaya pertanian, peternakan, perikanan dan pengembangan wisata. Studi, Penelitian & Pengembangan maupun konsultansi diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan.

2. Lembaga Swadaya Masyarakat

Lembaga swadaya masyarakat memiliki cukup banyak data dan informasi yang dapat dijadikan referensi dan bahan-bahan penunjang untuk perencanaan dan pengembangan agrowisata. Masyarakat, LSM dan Pemerintah diharapkan memiliki interaksi yang konstruktif untuk pengembangan agrowisata. Fungsi LSM antara lain dapat berperan untuk:

a.   Memberikan fungsi kontrol & pengawasan terhadap program-program pemerintah khususnya tata ruang kawasan agrowisata.

b.   LSM akan memberikan masukan, kritik dan saran atas pedoman tata ruang kawasan agrowisata yang ada dan sedang berjalan, sehingga diharapkan akan memberikan feed back yang baik untuk perbaikan di masa yang akan datang.

3. Masyarakat dan dunia usaha

Dalam rangka mewujudkan penyelenggaraan penataan ruang perlu terus didorong keterlibatan masyarakat dan dunia usaha dengan pendekatan community driven planning, dengan pendekatan ini diharapkan:

a.   Terciptanya kesadaran, kesepakatan dan ketaatan masyarakat dan dunia usaha terhadap aturan tata ruang kawasan agrowisata dan sarana-sarana pendukungnya.

b.   Masyarakat dan dunia usaha ikut merencanakan, menggerakkan, melaksanakan dan juga mengontrol pelaksanaan program agrowisata dan penataan ruang kawasannya.

c.   Adanya kesadaran hukum dan budaya masyarakat akan pentingnya tata ruang kawasan agrowisata, sehingga masyarakat dan dunia usaha selalu berkoordinasi dan berhubungan dengan instansi pemerintah terkait jika melakukan kegiatan yang berkaitan dan berhubungan dengan usaha agribisnis dan agrowisata.

d.   Meningkatkan legitimasi program pembangunan kawasan agrowisata.

e.   Masyarakat dan dunia usaha menjadi pelaku langsung dan obyek dari program pengembangan kawasan agrowisata baik sebagai investor, tenaga pertanian maupun tenaga wisata.

d. Indikator Keberhasilan

Pedoman pengelolaan kawasan agrowisata bisa dinyatakan berhasil apabila dalam implementasi lapangan terjadi:

1)   Munculnya berbagai kawasan agrowisata yang mampu memberikan multi-effect secara positif baik dari sisi ekologi & lingkungan, ekonomi maupun sosial budaya.

2)   Masuknya investasi sektor swasta baik PMA maupun PMDN ke kawasan agrowisata.

3)   Tumbuhnya paradigma baru di jajaran departemen teknis terkait dan pemerintah daerah, dimana dalam pengembangan kawasan agrowisata, akan selalu merujuk pada RTRWN, RTRW, peraturan dan pedoman terkait.

4)   Pedoman pengelolaan ruang agrowisata nasional dan daerah ini tersosialisasi dengan baik kepada semua pihak yang berkepentingan

5)   Tidak terjadi konversi lahan pertanian maupun lahan konservasi alam yang menyalahi ketentuan RTRWN dan RTRW secara signifikan yang berkaitan dengan rencana pengembangan kawasan agrowisata di suatu wilayah.

6)   Tidak terjadi benturan dan kesimpangsiuran di tingkat teknis atas model pengelolaan ruang dan kawasan suatu wilayah.

e. Pemberdayaan Masyarakat

Pembinaan dan sosialisasi ditujukan kepada para masyarakat dan dunia usaha yang menjadi subjek dan objek dari pengembangan kawasan agrowisata, tolok ukur keberhasilannya adalah:

1)   Masyarakat dan dunia usaha yang terlibat sebagai pelaku dalam program pengembangan dan pengelolaan kawasan agrowisata sepenuhnya mengerti, mentaati, mematuhi dan berperan serta aktif dalam penegakan rambu-rambu dan etika pengembangan agrowisata.

2)   Meningkatnya tingkat kesejahteraan sosial masyarakat di kawasan agrowisata dan sekitarnya.

3)   Berkembangnya usaha berbasis agribisnis dan agroindustri, baik dalam skala kecil, menengah dan besar yang juga berorientasi pada insdustri wisata di kawasan agrowisata.

4)   Tidak terjadi konversi lahan kawasan agrowisata secara tidak terkendali yang dapat merusak ekologi dan lingkungan.

TELADAN  1.

PENGEMBANGAN WISATA AGRO

KOTA BATU , JAWA TIMUR

Latar Belakang

Kota Batu adalah salah satu wilayah yang pada tahun 2001 menjadi daerah otonom. terpisah dari wilayah pemerintah Kabupaten Malang. Sebagai Kota Otonom yang baru, perlu segera disusun Kebijakan, Strategi dan Program-progam pembangunan berdasarkan potensi dan peluangnya. Wilayah Batu sangat potensial disektor pertanian, khususnya holtikultura, potensi tersebut merupakan peluang untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata agro. Salah satu kendala dalam mengembangkan kawasan Wisata Agro adalah terbatasnya prasarana dan sarana dasar pelayanan kota yang masih dibawah kebutuhan nyata. Penataan dan pengembangan kawasan Wisata Agro diharapkan wilayah Batu menjadi kawasan cepat tumbuh (Rapid Growth Area), yakni mampu mempercepat laju pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan masyarakat, disisi lain kerusakan lingkungan hutan menjadi masalah yang harus segera dikendalikan.

Sasaran:

•     Memberikan pelayanan prima pada masyarakat kota Batu khususnya pada insan wisata maupun wisatawan yang berkunjung ke Kota Batu.

•     Menata dan mengembangkan sektor unggulan obyek wisata agro dan sektor pendukungnya.

Terminologi Perkotaan:

1.   PERKOTAAN adalah wilayah yang berfungsi sebagai pusat pelayanan berbagai jasa dan barang.

2.   PRASARANA (infrastruktur) adalah jaringan/aset fisik yang membentuk struktur untuk pelayanan sarana yang berpola sistem (tidak langsung di nikmati).

3.   SARANA adalah produk atau jasa fasilitas yang diciptakan oleh prasarana.·

4.   LAYANAN JASA adalah kegiatan manusia dalam bentuk kinerja hasil manajemen yang langsung dinikmati pengguna jasa.

5.   FASILITAS adalah kemudahan yang diciptakan oleh prasarana, sarana dan layanan hasil.

6.   UTILITAS adalah produk yang dimanfaatkan langsung oleh penggura jasa.

7.   WISATA AGRO adalah bidang singgung antara sektor pertanian dengan sektor pariwisata, khusus pemanfaatan sumberdaya pertanian/ hutan untuk kepariwisataan.

Masalah Dan Prospek Pengembangan Kota Batu:

Beberapa masalah pokok di Kota Batu, Antara lain:

• Kerusakan lingkungan hutan dan lingkungan sumbr daya air

• Kesulitan air bersih.

• Jalan belum belum beraspal dan lalu-lintas -

• Peaduduk setengah pengangguran.

• Kebersihan dan pertamanan Kota

• Penataan Kota

Karakteristik Kota Batu, adalah :

• Sumberdaya alam dimanfaatkan untuk pertanian dan hutan.

• Nuansa pegunungan dengan udara sejuk dan pemandangan indah.

• Masyarakat Inovatif.

Prospek Pengembangan Kota Batu:-

• Sentra roduksi Holtikultura dan bunga.

• Kawasan Kota agro.

Visi Dan Misi Kota Batu

• Visi Kota Batu: KOTA WISATA AGRO 2020

• Misi Kota Batu:

Ö   Memberikan Pelayanan Prima.

Ö   Mengembangkan Sektor Unggulan, khususnya Pertanian, Agroindustri dan Agrowisata.

Ö   Meningkatkan Kualitas SDM.

Ö   Membangun Prasarana dan Sarana Kota.

Ö   Mengendalikan Kawasan Lindung.

Ö   Menata Ruangan Kota Batu.

Arah Dan Kebijakan Strategi Pembangunan Kota Batu

Arah Kebijkan Umum Pembangunan Kota Batu:

1.   Memenuhi kebutuhan pelayanan dasar masyarakat (Basic Services), seperti  Kebutuhan air bersih, Tranportasi kota,Pendidikan latihan kerja.

2.   Mengembangkan sektor unggulan daerah (Core Comptetence)

Dasar Pertimbangan Penataan Kota Batu:

• Pertimbangan Spasial (Ruang) mengarah pada terbentuknya sistem·

• Pertimbangan Struktural mengarah pada hiraki fungsi jaringan.·

• Pertimbangan Fungsional mengarah pada tingkat pelayanan.

Rencana Umum Tata Ruang Kota Batu:

1. Rencana Bagian Wilayah Kota (RBWK)·

•     BWK I meliputi: Kel. Sisir, Kel. Temas, Kel. Ngaglik, Kel. Songgokerto, Sebag. Ds. Oro-oro Ombo, Sebag. Ds. Pandanrejo·

•     BWK II meliputi: Desa Junrejo, Desa Tlekung, Desa Dadaprejo, Desa Mojorejo, Desa Pendem, Desa Torongrejo, Sebag Ds. Oro-oro Ombo·

•     BWK III meliputi:Desa Bumiaji, Desa Bulukerto, Desa Girippurno, Sebag. Ds. Pandanrejo·

•     BWK IV meliputi Desa Punten, Desa Sidomulyo, Desa Sumberejo, Desa Gunungsari, Desa Tulungrejo, Desa Sumbergondo2.

2. Tata Jenjang Pusat Pelayanan Kota

• Pusat pelayanan Kota Batu (BWK I)-

Ö Orientasi kegiatan terpusat di BWK III-

Ö Pusat Pemerintahan- Central Business District-

Ö Pusat Pelayanan Sosial ·

• Sub Pusat Kota-

Ö BWK I Pusat BWK Kelurahan Sisir-

Ö BWK II Pusat BWK Desa Junrejo-

Ö BWK III Pusat BWK Desa Bumiaji-

Ö BWK IV Pusat BWK Desa Punten


Strategi Pengembangan Kota Batu:

1. Model Pengembangan Wilayah

Pemanfaatan dan pengolahan sumberdaya alam di Kota Batu secara optimal akan menjadikan wilayah Kota Batu sebagai Kawasan Wisata agro Cepat Tumbuh (Rapid Growth Resort), dan dalam upaya mewujudkan Kawasan Cepat Tumbuh, maka di gunakan model pengembangan wilayah berkelanjutan, sebagai berikut :

• GROWTH CENTER adalah Kawasan Pusat pertumbuhan diharapkan mendorong perkembangan kawasan di sekelilingnya (hinterland) yaitu efek rembesan kebawah (trickle down effect). Karakter Kawasan Pusat Pertumbuhan, yaitu .-

Ö Central Businees District-

Ö Pusat Pemerintahan-

Ö Pusat Pelayaan Sosial-

Ö Kawasan Permukiman Padat.

• AGROPOLITAN DISTRICT adalah penyediaan fasilitas pelayanan perkotaan pada kawasan pertanian / pedesaan, karakter. Agropolitan District yaitu :-

Ö Sentra Produksi Pertanian -

Ö Agroindustri-

Ö Agribisnis -

Ö Wisata Agro.

• ZONA KONTROL KETAT adalah Kawasan Lindung Muilak dan Lindung Terbatas.

2. Langkah-langkah Penataan dan Pengembangan Wisata Agro.

Beberapa langkah Penataan – Pengembangan Wisata Agro di Wilayah Kota Batu, sebagai berikut :

• Menginventarisasi / Identifikasi Obyek Wisata Agro·

• Menentukan Jenis Obyek Wisata Agro-

Ö Wisata Kebun Sayur-

Ö Wisata Kebun Bunga-

Ö Wisata Kebun Buah-

Ö Wisata Kebun Obat-

Ö Wisata Tanaman Padi Organik-

Ö Wisata Gunung-Hutan-

Ö Wisata Ternak Sapi Perah.

• Menentukan Batas Cakupan Pelayannan·

• Menentukan Model Penataan Pengembangan Kawasan Wisata Agro-

Ö Kemasan Obyek Wisata Agro-

Ö Pengelolaan Kawasan Wisata Agro-

Ö Fasilitas Kawasan Wisata Agro.

• Menentukan Pusat Wisata Agro·

• Merencanakan Program / Proyek Terpadu Pengembangan Kawasan Wisata Agro.

Rencana Pengembangan Kawasan Wisata Bunga Sidomulyo

(contoh)

KEGIATAN WISATA AGRO DI KOTA BATU

Kegiatan wisata dengan mengunjungi objek-objek pertanian sekaligus menikmati suasana pedesaan, udara sejuk pegunungan, hamparan hijau dedaunan, akhir-akhir ini semakin diminati oleh para wisatawan khususnya orang-orang kota. Agrowisata di keun apel secara profesional dirintis sejak tahun 1991 di Nongkojajar, Pasuruan di bawah pembinaan Balai Benih Induk Hortikultura Nongkojajar. Selanjutnya, diikuti daerah-daerah sentra apel lain (Batu: Kusumo

Agro).

Agrowisata di Nongkojajar sebenarnya tidak hanya tanaman apel, tetapi juga tanaman buah-buahan lainnya (jeruk dan durian). Agrowisata di Nongkojajar yang lebih berkembang adalah agrowisata apel, karena tanaman apel tidak mengenal musim, ada setiap saat. Agrowisata di Nongkojajar beranggotakan 40 petani apel, namun saat ini (1995) yang aktif dalam kegiatan agrowisata sebanyak 10 petani (kelompok tani Kresna) dengan luas lahan sekitar 50 ha yang berlokasi ditepi jalan beraspal. Kegiatan agrowisata biasanya ramai pada hari-hari libur karena para wisatawan datang secara rombongan atau satu keluarga. Untuk masuk kebun dikenakan biaya Rp. 1.500,00/orang dan dapam memakan buah apel sepuasnya. Apabila memetik buah apel untuk dibawa pulang dikenakan harga Rp. 2.500,00/ kg. Agar kegiatan agrowisata ini tidak merusak pertamanan apel, peranan pemandu sangat penting untuk memperhatikan petunjuk-petunjuk cara memetik buah apel yang baik.

(Dikutip dari: R. Bambang Soelarso, Ir., Budidaya Apel, Kanisius, 1996, halaman 67-68).

Sumber: Kepala Bappeko Batu-Malang, Propinsi Jawa Timur, Makalah pada Diskusi Strategi Pengembangan Kawasan Strategis dan Cepat Tumbuh, Bappenas, 2001).

PENATAAN DAN PENGEMBANGAN URAIAN KEGIATAN
RENCANA PENATAAN KAWASAN RENCANA PENATAAN RUANG

KAWASAN SIDOMULYO

PEMBANGUNAN

INFRASTRUKTUR DAN UTILITAS

* PERBAIKAN JALAN / GANG
  • PEMBANGUNAN DRAINASE DAN SANITASI
  • PEMBANGUNAN PEDESTRIAN
  • FASILITAS PERSAMPAHAN DAN LAMPU JALAN
  • FASILITAS PARKIR
FASILITAS UMUM DAN SOSIAL * PENATAAN STAND BUNGA

* TPS DAN TONG SAMPAH

* TAMAN BUNGA

SEKTOR UNGGULAN * BUDIDAYA BUNGA

* SOUVENIR

* PEDAGANG BUNGA

KEMITRAAN PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL * PETANI BUNGA

* PAGUYUBAN BUNGA


KUSUMA AGROWISATA

SEKITAR tahun 1992 Kusuma Agrowisata sudah menggeluti tanaman jeruk selain tanaman apel yang menjadi unggulan pada saat itu di Kota Batu. Dengan ketekunan, ketelitian dan pengalaman selama ±15 tahun lamanya dari H. Hary Bagio, tanaman jeruk, apel dan kini juga mengembangkan strawberry, dapat terlihat di lahan perkebunan Kusuma Agrowisata. Jenis-jenis jeruk di Kusuma Agrowisata ada 3 macam, yaitu: jeruk Jova, jeruk Groovery (tanpa biji) dan jeruk Keprok Punten. Untuk jeruk jenis Jova spesifiknya hanya berada di daerah Jawa Timur. “Karena buah yang asalnya dari lembah Jova, Palestina itu dibawa sendiri oleh Pak Harjito dan buah ini masih ada juga di daerah Selokerto, Dau”, ungkap Hary Bagio. Sebenarnya Kusuma Agrowisata pernah mengembangkan jeruk jenis Nambangan atau dikenal jeruk Pamelo, namun tidak cocok dikarenakan tidak cocok ketinggiannya sehingga buah tersebut memiliki rasa getir. Menurut Hary Bagio, prinsip dasar untuk budidaya tanaman jeruk adalah memperhatikan agroklimatnya, seperti suhu, ketinggian tempat dan kelembaban dan juga memperhatikan karakteristik tanaman yang akan ditanam.

Untuk tanaman jeruk cocok sekali di daerah tropis dengan ketinggian, untuk jeruk Jova misalnya, adalah 200 -700 m dialas permukaan air laut. Luas areal sekitar ± 4 ha yang ada di lahan Kusuma Agrowisata, dibagi menjadi di antaranya 2 ha dialas untuk tanaman jeruk Groovery dan sedikit Valencia. Dua hektar lainnya ada dibawah dan berada di kawasan tanaman apel ditanami jeruk berumur 12 tahun. “Memang ukurannya, sudah tua. Tetapi, mereka bisa menghasilkan 60 ton setiap panennya,” jelas Hary Bagio. Total umur jeruk menurutnya sekitar 8 – 11 bulan dengan proses mulai pembuahan sampai pemanenan.Saat sebelum pembuahan perlu adanya stressing agar bisa dibuahkan setiap 6 bulan sekali di musim kemarau. Dimaksud stressing adalah tidak ada perlakuan pemupukan dan pemberian air. Pemanenan di Kusuma Agrowisata dilakukan hanya sekali dalam tiap tahun agar perawatannya mudah.

Menata wisata petik jeruk dapat dilihat dari pengaruh iklim terhadap tanaman apel. Seperti tidak adanya apel di kebun berarti juga untuk sementara waktu berhenti pula wisata petik apel karena tidak berbuah akibat pengaruh musim penghujan. Misalnya apabila pada saat ini sampai bulan Juli musimnya panen jeruk, dikarenakan 5 bulan sebelumnya hujan terus menerus mengguyur tanaman apel sehingga tidak dapat berbunga. Selain itu juga perlu adanya rotasi penanaman dengan membaginya secara blok-blok agar terjadwal pemanenannya dan sesuai waktu yang diinginkan. Pemanenan jeruk pada musimnya kalau dihitung nilai ekonomi perhitungan produksi (Takson) menurut Hary Bagio dibagi menjadi dua bagian yaitu ; bukan petik dan petik berapa. Bukan petik dipakai untuk pemenuhan produksi seperti pengolahan pangan dan di jual ke pasaran ataupun juga sampai menerima pesanan dari luar. Harga jual di pasaran untuk jeruk jenis keprok berkisar Rp 8.000/kg, jeruk Groovery Rp 6.000/kg dan Jova Rp 7.000/kg. Kelebihan produksi dimasukkan dalam petik atau lebih mudah dipahami masuk ke dalam “Paket Wisata Petik” di Kusuma Agrowisata.

Dengan kisaran hitung yang dibuat adalah ton dikonversikan ke kilogram, kemudian dengan pembagi 2-3 (orang) maka akan didapat jumlah yang dikonsumsikan. Di luar paket wisata petik, katanya; “Konsumen dapat memetik langsung di pohon sesuai yang diinginkan, kemudian dapat ditimbang untuk mengetahui total harganya.”  Konsep wisata paket di Kusuma Agrowisata mempunyai nilai plus, karena menurut Hary Bagio, konsumen sebelum masuk ke area petik memperoleh servis dengan mendapatkan minuman Welcome Drink; tinggal pilih sari apel atau juice jeruk, kemudian bisa petik langsung dengan jatah maksimum 2 buah jeruk yang bisa dikupaskan atau kupas sendiri kalau ingin langsung memakannya. Kemudian, pulangnya bisa membawa oleh-oleh seperti jenang apel, wingko apel atau sayurmayur beserta sari strawberry. “Dijamin konsumennya akan puaslah,” cetusnya. Ia menambahkan, Kusuma Agrowisata juga menerima pemesanan berbagai macam bibit, seperti: apel, jeruk dan lainnya.

(Dikutip dari: Tabloid AGRO TODAY, No. 03 Tahun 1, Mei-Juni 2003).

TELADAN 2.

AGROWISATA SALAK PONDOH DI LERENG MERAPI

Alam Indonesia menjanjikan sejuta pesona. Objek apa saja tampaknya bisa dikemas untuk menjaring wisatawan. Bukan hanya pantai, laut, pegunungan, budaya, atau peninggalan bersejarah, tapi juga kebun salak. Inilah yang sedang digarap secara intensif Pemda Sleman, Yogyakarta, di lereng Gunung Merapi. Namanya Wisata Agro Salak Pondoh (WASP). Terletak di tiga dusun (Gadung, Candi, dan Ganggong), Desa Bangunkerto, Kecamatan Turi, sebagian fasilitas agrowisata itu sudah bisa dinikmati. Kolam pemancingan misalnya, setiap hari libur selalu dipadati pengunjung. Di sisi kolam itu, berdiri tegak sebuah bangunan untuk pentas kesenian. Selebihnya adalah hamparan kebun-kebun salak, yang tampak sekali sudah tertata rapi. Gelombang turis mulai mengalir ke kawasan sejuk tersebut, terutama dari Belanda dan Jepang. “Pekan depan akan datang rombongan wanita dari negara-negara ASEAN, sekitar 100 orang,” tutur Sudibyo SU, koordinator pengembangan WASP Sleman.

Fasilitas yang belum lengkap, tidak menghalangi objek wisata ini untuk go public. Dalam setiap kesempatan Bupati Sleman, Drs. Arifin Ilyas, dengan bangga memperkenalkan wisata agro di wilayahnya. “Kami ingin Wisata Agro Salak Pondoh, menjadi tempat persinggahan para turis dalam perjalanan dari Candi Prambanan ke Candi Borobudur,” ujarnya suatu ketika.

Tekad Bupati mendapat dukungan penuh dari masyarakat yang berdiam di lokasi objek wisata itu. Sejak turis berdatangan, sebagian dari mereka sudah mulai kecipratan rejeki, antara lain dari hasil penjualan salak atau makanan lain di sekitar tempat itu. Belum lagi berkah berupa dibangunnya berbagai fasilitas penunjang, seperti jalan desa yang kini beraspal mulus. WASP diresmikan sebagai objek wisata pada tahun 1990. Nama itu dipilih karena aset utamanya adalah pembudayaan salak Pondoh. Di DI Yogyakarta, ini merupakan objek wisata baru. Dari kota gudeg itu lokasinya sekitar 23 kilometer.

Berada di ketinggian sekitar 400 – 500 meter di atas permukaan laut, suhu udara kawasan itu siang hari sekitar 22 derajat Celcius. Dalam lima tahun terakhir ini, rata-rata curah hujannya 2,392 milimeter, dengan hari hujan 92 kali per tahun.Berkunjung ke lokasi WASP, mata clan pikiran segera saja disergap suasana pedesaan yang khas. Rumah-rumah penduduk dengan halaman sangat luas, pohon salak bertebaran di setiap pojok. Di tempat-tempat tertentu, penduduk membuka kios kecil menawarkan buah salak dan makanan kecil. “Turis asing lebih suka melihat langsung ke pekarangan rumah,” tutur Sudibyo. WASP dibagi beberapa bagian. Ada zona inti seluas 17 hektar yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas tambahan, termasuk penginapan. Kolam pemancingan dan panggung pertunjukan terletak di kawasan ini. Di luar zona inti ada desa wisata seluas 60 hektar. Kawasan ini tak ubahnya sebuah dusun biasa, dengan rumah-rumah penduduk dan aktivitas kesehariannya, tapi ditata sedemikian rupa agar tampak menarik. Di desa wisata ini, turis dapat mengikuti proses budi daya salak, mulai dari cara penanaman hingga memanennya. Di luar kedua bagian itu masih ada hamparan pemukiman dan kebun buah-buahan seluas 633 hektar, yang tidak hanya menyajikan salak Pondoh.Daerah WASP mempunyai jenis tanah regosol yang berasal dari batuan Gunung Merapi. Endapan vulkaniknya tergolong muda, dengan kedalaman efektif sekitar 60-90 sentimeter.

Tanah di sini memiliki kadar pasir lebih dari 60 persen. Derajat keasamannya (pH) berkisar 5,5 sampai 7,5 (agak asam netral), dengan kemiringan 2 hingga 15 persen.Masyarasat Desa Bangunkerto umumnya menanam padi, ubi kayu, jagung, dan sayur-sayuran. Ada juga yang menanam jeruk, mangga, rambutan, pisang, duku, kokosan, nangka, langsat, dan tebu, selain salak Pondoh dan salak biasa. Pohon kelapa tumbuh di sela-sela rumah penduduk, menjulang dari kerimbunan rumpun salakRumah penduduk tergolong dalam kondisi sedang. Sebagian malahan sudah cukup bagus, terbuat dari tembok. Meski demikian, masih ada yang terbuat dari bilik bambu dengan atap rumbia. Satu-dua antena televisi menjulang di atas atap. Prasarana menuju WASP terus dibenahi. Jalan desa yang tiga tahun lalu masih berbatubatu, kini sudah berlapis aspal. Lalu lintas semakin ramai, setelah dibukanya jalur angkutan Turi-Tempel.

Turi adalah kota kecamatan di dekat kawasan wisata Kaliurang. Sedangkan Tempel terletak di jaIan raya Yogyakarta – Magelang. Makin hidupnya jalur Tempel – Turi membuat prospek WASP semakin cerah.Di masa mendatang, WASP bisa disatukan dalam paket wisata Candi Prambanan dan Borobudur. Wisatawan yang berkunjung ke Prambanan meneruskan perjalanannya ke Borobudur melalui kawasan WASP. Begitu juga turis dari Borobudur yang akan ke Prambanan. Itu sebabnya mengapa pengembangan WASP tidak mengkonsentrasikan zona inti, tapi diperluas dengan desa-desa wisata. “Kami ingin turis yang lewat sini dapat menikmati pemandangan khas,” ujar Sudibyo. Wajah dusun-dusun di sana kini sedang dipermak pagarpagar dibuat rapi, papan-papan petunjuk bertebaran di mana-mana. dan kioskios kecil dihias semarak. Sekilas tampak seperti wajah desa ketika akan menyambut kedatangan pejabat atau menjelang lomba desa. Itulah pemandangan keseharian Bangunkerto.

Upaya penataan itu direncanakan tidak merusak sendi-sendi sosial dan ekonomi masvarakat setempat. Pengembangan desa wisata akan tetap mempertahankan pola dan bentuk asli (tradisional), baik dalam tata ruang maupun penampilan arsitekturnya. Tata ruang desa disesuaikan dengan persyaratan kesehatan lingkungan, dan pemanfaatan lingkungan pekarangan dengan menanam tanaman-tanaman produktif.Pemanfaatan lahan tegalan atau ladang, tetap dikelola oleh penduduk untuk dijadikan tempat tujuan wisatawan, sebagai pendukung zona inti. Pengembangan desa-desa wisata, dimaksudkan agar dapat memperpanjang lama tinggal (length of stay). Untuk mewujudkan desa wisata ini, dibuatlah kelompok-kelompok dusun yang termasuk dalam bagian kawasan wisata agro, dengan fokus utama sebagai desa wisata buah. Rencana buah-buahan yang akan ditanam di tempat tersebut, selain salak Pondoh, adalah buah rambutan, durian, mangga, duku, petai, langsem, dan sebagainya.Menurut Sudibyo, untuk lebih meningkatkan daya tarik WASP akan dilengkapi kebun bonsai, taman anggrek, juga pasar burung. Sebuah museum mungkin dicantumkan pula dalam rencana pengembangan tempat wisata ini. “Perlu dibangun rumah makan yang menyediakan masakan untuk wisatawan domestik maupun mancanegara,” tambahnya.Dalam tahun 1993/1994 ini, lanjut Sudibyo, dinas-dinas terkait di Pemda Sleman, sudah melakukan koordinasi untuk pengembangan wisata agro.

Beberapa fasilitas penunjang mulai dibangun. Memang masih jauh dari kelengkapan fasilitas yang direncanakan.Meski demikian, beberapa biro perjalanan sudah memasukkan WASP, sebagai objek wisata yang disodorkan kepada turis asing. Terlebih bila turis tersebut merencanakan perjalanan dari Yogyakarta ke Borobudur.

(Dikutip dari: Widji Anarsis, Agribisnis Komoditas Salak, Bumi Aksara, 1999,

halaman 95-98).

sumber : http://soemarno.multiply.com

1. Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu pusat keaneka-ragaman hayati terpenting di dunia dengan tingkat endemisme tertinggi. Dengan 25.000 spesies tumbuhan berbunga, Indonesia memiliki 10% dari seluruh spesies tumbuhan berbunga dunia. Selain itu, Indonesia juga memiliki 12% spesies mamalia, 16% spesies reptilia, dan 16% spesies burung. Sementara itu di perairan, kurang lebih 25% spesies ikan dunia ada di Indonesia. Semua kekayaan alam dan hayati tersebut merupakan aset yang tak ternilai. Kekayaan daratan dan perairan baik perairan darat maupun perairan laut ini sudah selayaknya dilestarikan. Pelestarian alam dan sumber daya hayati ini secara berkelanjutan dalam jangka panjang sangat penting, karena kelestarian hidup di masa depan bergantung pada kelestarian alam dan lingkungan.

Sehubungan dengan upaya-upaya pelestarian itu, Pemerintah Republik Indonesia telah melakukan berbagai upaya guna melindungi kekayaan alam yang luar biasa ini melalui berbagai kebijakan dan kerja sama dengan berbagai kelompok masyarakat, baik nasional maupun internasional. Pemerintah telah menetapkan 179 wilayah sebagai cagar alam dan daerah konservasi, antara lain: 40 di Pulau Jawa dan Bali, 29 di Sumatera, 16 di Kalimantan, 23 di Sulawesi, 31 di Nusa Tenggara,16 di Maluku dan 18 di Irian Jaya. Berbagai upaya pelestarian keanekaragaman hayati ini bukan tanpa hambatan. Kerusakan lingkungan baik yang disengaja atau tidak disengaja masih terjadi dan cenderung mengalami peningkatan. Penambangan tak terkendali, penebangan dan kebakaran hutan, alih fungsi lahan yang kurang tepat, pencemaran dan sebab-sebab lain menjadi pendorong semakin cepatnya kerusakan alam dan kekayaan hayati.

Upaya-upaya Pemerintah dalam pelestarian dan pengembangan sumber daya alam ini tentu harus didukung oleh seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah Daerah yang di era otonomi daerah memiliki peranan yang lebih besar dalam upaya-upaya pelestarian kekayaan hayati ini harus lebih banyak lagi melibatkan partisipasi masyarakat daerahnya. Hal ini karena perencanaan pembangunan daerah perlu dilakukan secara terintegrasi pada semua sektor, sehingga diperoleh manfaat yang lebih besar dari berbagai potensi ekonomi daerah. Selain itu, perencanaan yang terintegrasi juga akan mengurangi dampak-dampak yang tidak diharapkan baik pada saat ini maupun yang akan datang.

Sementara itu, pariwisata merupakan salah satu sektor ekonomi penting dan strategis di masa depan. Identifikasi dan perencanaan pengembangan industri pariwisata perlu dilakukan secara lebih rinci dan matang. Pengembangan industri pariwisata ini diharapkan juga mampu menunjang upaya-upaya pelestarian alam, kekayaan hayati dan kekayaan budaya bangsa. Pengembangan agrowisata merupakan salah satu alternatif yang diharapkan mampu mendorong baik potensi ekonomi daerah maupun upaya-upaya pelestarian tersebut.

Pemanfaatan potensi sumber daya alam sering kali tidak dilakukan secara optimal dan cenderung eksploitatif. Kecenderungan ini perlu segera dibenahi salah satunya melalui pengembangan industri pariwisata dengan menata kembali berbagai potensi dan kekayaan alam dan hayati berbasis pada pengembangan kawasan secara terpadu. Potensi wisata alam, baik alami maupun buatan, belum dikembangkan secara baik dan menjadi andalan. Banyak potensi alam yang belum tergarap secara optimal. Pengembangan kawasan wisata alam dan agro mampu memberikan kontribusi pada pendapatan asli daerah, membuka peluang usaha dan kesempatan kerja serta sekaligus berfungsi menjaga dan melestarikan kekayaaan alam dan hayati. Apalagi kebutuhan pasar wisata agro dan alam cukup besar dan menunjukkan peningkatan di seluruh dunia. Sekitar 52% aset wisata Indonesia sebenarnya berupa sumber daya alam. Australia memiliki 55% aset wisata yang juga merupakan jenis wisata alam. Tercatat lebih dari 29 juta penduduk Amerika melakukan sejumlah 310 juta perjalanan yang dimotivasi oleh wisata alam.

Sebagai negara agraris yang memiliki kekayaan sumber daya alam berlimpah, pengembangan industri agrowisata seharusnya memegang peranan penting di masa depan. Pengembangan industri ini akan berdampak sangat luas dan signifikan dalam pengembangan ekonomi dan upaya-upaya pelestarian sumber daya alam dan lingkungan. Melalui perencanaan dan pengembangan yang tepat, agrowisata dapat menjadi salah satu sektor penting dalam ekonomi daerah.

Pengembangan industri pariwisata khususnya agrowisata memerlukan kreativitas dan inovasi, kerjasama dan koordinasi serta promosi dan pemasaran  yang baik. Pengembangan agrowisata berbasis kawasan berarti juga adanya keterlibatan unsur-unsur wilayah dan masyarakat secara intensif.

2.   Pengertian Kawasan Agrowisata

Agrowisata memiliki pengertian yang sangat luas, dalam banyak hal sering kali berisikan dengan ekowisata. Ekowisata dan agrowisata memiliki banyak persamaan, terutama karena keduanya berbasis pada sumber daya alam dan lingkungan. Di beberapa negara agrowisata dan ekowisata dikelompokkan dalam satu pengertian dan kegiatan yang sama, agrowisata merupakan bagian dari ekowisata. Untuk itu, diperlukan kesamaan pandangan dalam perencanaan dan pengembangan agrowisata dan ekowisata. Sedikit perbedaan antara agrowisata dan ekowisata dapat dilihat pada definisi dibawah ini.

EKOWISATA atau ecotourism merupakan pengembangan industri wisata alam yang bertumpu pada usaha-usaha pelestarian alam atau konservasi. Beberapa contoh ekowisata adalah Taman Nasional, Cagar Alam, Kawasan Hutan Lindung, Cagar Terumbu Karang, Bumi Perkemahan dan sebagainya.

AGROWISATA, menurut Moh. Reza T. dan Lisdiana F, adalah objek wisata dengan tujuan untuk memperluas pengetahuan, pengalaman rekreasi, dan hubungan usaha di bidang pertanian. Agrowisata atau agrotourism dapat diartikan juga seabagai pengembangan industri wisata alam yang bertumpu pada pembudidayaan kekayaan alam. Industri ini mengandalkan pada kemampuan budidaya baik pertanian, peternakan, perikanan atau pun kehutanan. Dengan demikian agrowisata tidak sekedar mencakup sektor pertanian, melainkan juga budidaya perairan baik darat maupun laut.

Baik agrowisata yang berbasis budidaya, maupun ekowisata yang bertumpu pada upaya-upaya konservasi, keduanya berorientasi pada pelestarian sumber daya alam serta masyarakat dan budaya lokal. Pengembangan agrowisata dapat dilakukan dengan mengembangkan kawasan yang sudah atau akan dibangun seperti kawasan agropolitan, kawasan usaha ternak maupun kawasan industri perkebunan. Jadi, Pengembangan kawasan agrowisata berarti mengembangkan suatu kawasan yang mengedepankan wisata sebagai salah satu pendorong pertumbuhan ekonominya. Industri wisata ini yang diharapkan mampu menunjang berkembangnya pembangunan agribisnis secara umum.

Kawasan agrowisata sebagai sebuah sistem tidak dibatasi oleh batasan-batasan yang bersifat administratif, tetapi lebih pada skala ekonomi dan ekologi yang melingkupi kawasan agrowisata tersebut. Ini berarti kawasan agrowisata dapat meliputi desa-desa dan kota-kota sekaligus, sesuai dengan pola interaksi ekonomi dan ekologinya. Kawasan-kawasan pedesaan dan daerah pinggiran dapat menjadi kawasan sentra produksi dan lokasi wisata alam, sedangkan daerah perkotaan menjadi kawasan pelayanan wisata, pusat-pusat kerajinan, yang berkaitan dengan penanganan pasca panen, ataupun terminal agribisnis.

Kawasan agrowisata yang dimaksud merupakan kawasan berskala lokal yaitu pada tingkat wilayah Kabupaten/Kota baik dalam konteks interaksi antar kawasan lokal tersebut maupun dalam konteks kewilayahan propinsi atau pun yang lebih tinggi.

2.1. Kriteria Kawasan Agrowisata

Kawasan agrowisata yang sudah berkembang memiliki kriteria-kriteria, karakter dan ciri-ciri yang dapat dikenali. Kawasan agrowisata merupakan suatu kawasan yang memiliki kriteria sebagai berikut:

1)   Memiliki potensi atau basis kawasan di sektor agro baik pertanian, hortikultura, perikanan maupun peternakan, misalnya:

a.   Sub sistem usaha pertanian primer (on farm) yang antara lain terdiri dari pertanian tanaman pangan dan holtikultura, perkebunan, perikanan, peternakan dan kehutanan.

b.   Sub sistem industri pertanian yang antara lain terdiri industri pengolahan, kerajinan, pengemasan, dan pemasaran baik lokal maupun ekspor.

c.   Sub sistem pelayanan yang menunjang kesinambungan dan daya dukung kawasan baik terhadap industri & layanan wisata maupun sektor agro, misalnya transportasi dan akomodasi, penelitian dan pengembangan, perbankan dan asuransi, fasilitas telekomunikasi dan infrastruktur.

2)   Adanya kegiatan masyarakat yang didominasi oleh kegiatan pertanian dan wisata dengan keterkaitan dan ketergantungan yang cukup tinggi. Kegiatan pertanian yang mendorong tumbuhnya industri pariwisata, dan sebaliknya kegiatan pariwisata yang memacu berkembangnya sektor agro.

3)   Adanya interaksi yang intensif dan saling mendukung bagi kegiatan agro dengan kegiatan pariwisata dalam kesatuan kawasan. Berbagai kegiatan dan produk wisata dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

2.2. Prasyarat Kawasan Agrowisata

Pengembangan kawasan agrowisata harus memenuhi beberapa prasyarat dasar antara lain:

1.   Memiliki sumberdaya lahan dengan agroklimat yang sesuai untuk mengembangkan komoditi pertanian yang akan dijadikan komoditi unggulan.

2.   Memiliki prasarana dan infrastruktur yang memadai untuk mendukung pengembangan sistem dan usaha agrowisata, seperti misalnya: jalan, sarana irigasi/pengairan, sumber air baku, pasar, terminal, jaringan telekomunikasi, fasilitas perbankan, pusat informasi pengembangan agribisnis, sarana produksi pengolahan hasil pertanian, dan fasilitas umum serta fasilitas sosial lainnya.

3.   Memiliki sumberdaya manusia yang berkemauan dan berpotensi untuk mengembangkan kawasan agrowisata.

4.   Pengembangan agrowisata tersebut mampu mendukung upaya-upaya konservasi alam dan kelestarian lingkungan hidup bagi kelestarian sumberdaya alam, kelestarian sosial budaya maupun ekosistem secara keseluruhan.

3.  Tujuan Pengembangan Kawasan Agrowisata

Pariwisata menurut Undang-undang kepariwisataan No. 9 tahun 1990 adalah bahwa penyelenggaraan kepariwisataan adalah memperkenalkan, mendayagunakan, melestarikan dan meningkatkan mutu obyek dan daya tarik wisata; memupuk rasa cinta tanah air dan meningkatkan persahabatan antar bangsa; memperluas dan memeratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja; meningkatkan pendapatan nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat; mendayagunakan produksi nasional.

Pariwisata diarahkan sebagai sektor andalan dan unggulan di luar migas diharapkan memberikan kontribusi yang besar peranannya sebagai (1) penghasil devisa negara, (2) mendorong pertumbuhan ekonomi nasional/daerah, (3) pemberdayaan ekonomi masyarakat, (4) memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusaha, (5) meningkatkan pemasaran produk nasional, (6) meningkatkan kesejahteraan, (7) memelihara kepribadian bangsa, (8) melestarikan fungsi dan mutu lingkungan hidup.

Sebagai bagian dari pengembangan pariwisata bahwa tujuan pengembangan kawasan agrowisata adalah:

(a) Mendorong tumbuhnya visi jangka panjang pengembangan industri pariwisata, khususnya agrowisata, sebagai salah satu sarana peningkatan ekonomi dan pelestarian sumber daya alam masa depan.

(b) Memberikan kerangka dasar untuk perencanaan dan pengembangan agrowisata secara umum.

(c) Mendorong upaya-upaya untuk pengembangan industri wisata yang terpadu berbasis kawasan dan potensi-potensi kewilayahan, sosial dan budaya daerah.

Perencanaan pengembangan kawasan agrowisata berbasis kawasan ini ditujukan untuk meningkatkan kegiatan Pemerintah Daerah, dunia usaha dan masyarakat umum, dimana sasaran yang hendak dicapai adalah:

1.   Terwujudnya panduan awal bagi Pemerintah Daerah dalam perencanaan pengembangan kawasan agrowisata;

2.   Terwujudnya pengembangan kawasan agrowisata sebagai bahan masukan kebijakan dan pengembangan kawasan pariwisata di daerah;

3.   Terwujudnya motivasi bagi Pemerintah Daerah dan swasta/masyarakat untuk pengembangan kawasan agrowisata.

4.   Terwujudnya kawasan yang mendukung kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup di daerah;

5.   Terwujudnya peningkatan kesempatan kerja dan pendapatan daerah/masyarakat.

4.  Pengembangan Kawasan Agrowisata

Pengembangan kawasan agrowisata ini menuntut pengelolaan ruang (tata ruang) yang lebih menyeluruh baik yang meliputi pengaturan, evaluasi, penertiban maupun peninjauan kembali pemanfaatan ruang sebagai kawasan agrowisata, baik dari sisi ekologi, ekonomi maupun sosial budaya. Penataan kawasan agrowisata ini sangat mungkin beririsan dengan pemanfaatan kawasan lain seperti kawasan pemukiman atau kawasan industri. Prioritas perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kepentingan jangka panjang. Oleh karena itu dalam pengembangannya diperlukan pendekatan kawasan yang bukan hanya meliputi sisi ekologi, tetapi juga sosial budaya dan ekonomi. Sehingga dalam jangka panjang, bukan hanya pelestarian daya dukung lingkungan saja yang tercapai, tetapi juga pertumbuhan ekonomi yang stabil serta budaya yang lestari.

Pengembangan agrowisata sebagai salah satu sektor pembangunan secara umum menjadi sangat relevan, sesuai dengan potensi daerah masing-masing.

Pengembangan agrowisata berbasis kawasan akan mampu mendorong berbagai sektor lain baik ekonomi, sosial maupun budaya. Dan perencanaan pengembangan kawasan agrowisata harus dilihat dalam bingkai hubungan faktor pemintaaan (demand) dan faktor penawaran (supply factor). Demand Factor adalah profil dan situasi pasar wisata baik internasional maupun domestik, kecenderungan pasar dan sebagainya. Sedangkan supply factor merupakan produk dan layanan wisata yang dikembangkan baik berupa kegiatan, fasilitas maupun aset wisata.

Gambar 1. Hubungan Faktor Permintaan dan Penawaran dalam Pengembangan Kawasan Agrowisata

Pengembangan kawasan agrowisata harus dilakukan secara terintegrasi dengan sektor-sektor terkait seperti pertanian, peternakan, perikanan, pengolahan, perhotelan, biro perjalanan, industri, kesenian dan kebudayaan dan sebagainya dalam bingkai kewilayahan dan keterpaduan pengelolaan kawasan. Agrowisata dapat merupakan pengembangan dari sektor lain yang diharapkan mampu menunjang pengembangan ekonomi secara berkelanjutan, misalnya pengembangan kawasan agrowisata pada kawasan agropolitan, pengembangan kawasan agrowisata pada kawasan perkebunan, pengembangan kawasan agrowisata pada tanaman pangan dan hortikultura, pengembangan kawasan agrowisata pada kawasan peternakan, pengembangan kawasan agrowisata pada kawasan perikanan darat dan lain sebagainya.

4.1. Prinsip-prinsip Pengembangan

Perencanaan pengembangan kawasan agrowisata harus memenuhi prinsipprinsip tertentu yaitu:

a.   Pengembangan kawasan agrowisata harus mempertimbangkan penataan dan pengelolaan wilayah dan tata ruang yang berkelanjutan baik dari sisi ekonomi, ekologi maupun sosial budaya setempat.

•     Mempertimbangkan RTRWN yang lebih luas sebagai dasar pengembangan kawasan.

•     Mendorong apresiasi yang lebih baik bagi masyarakat luas tentang pentingnya pelestarian sumber daya alam yang penting dan karakter sosial budaya.

•     Menghargai dan melestarikan keunikan budaya, lokasi dan bangunanbangunan bersejarah maupun tradisional.

b. Pengembangan fasilitas dan layanan wisata yang mampu memberikan kenyamanan pengunjung sekaligus memberikan benefit bagi masyarakat setempat.

•     Memberikan nilai tambah bagi produk-produk lokal dan meningkatkan pendapatan sektor agro.

•     Merangsang tumbuhnya investasi bagi kawasan agrowisata sehingga menghidupkan ekonomi lokal.

•     Merangsang tumbuhnya lapangan kerja baru bagi penduduk lokal.

•     Menghidupkan gairah kegiatan ekonomi kawasan agrowisata dan sekitarnya.

•     Meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya lokal.

c.   Pengembangan kawasan agrowisata harus mampu melindungi sumber daya dan kekayaan alam, nilai-nilai budaya dan sejarah setempat. Pengembangan kawasan agrowisata ini tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar semata, tetapi harus dalam koridor melindungi dan melestarikan aset-aset yang menjadi  komoditas utama pengembangan kawasan. Penggalian terhadap nilai-nilai, lokasi, kegiatan, atraksi wisata yang unik ditujukan untuk mendorong pertumbuhan kawasan agrowisata secara berkelanjutan.

d.   Diperlukan studi dan kajian yang mendalam, berulang (repetitive) dan melibatkan pihak-pihak yang relevan baik dari unsur masyarakat, swasta maupun pemerintah. Dengan demikian diharapkan perencanaan & pengembangan kawasan semakin baik dari waktu ke waktu serta terdokumentasi dengan baik.

4.2. Ruang Lingkup/Cakupan Kawasan

Ruang Lingkup/cakupan kawasan agrowisata dapat meliputi pegunungan, lereng, lembah, perairan (sungai dan danau) sampai ke pantai dan perairan laut.

Dari segi fungsi dapat terdiri dari antara lain:

1.   Sub Sistem Lahan Budidaya

Kawasan lahan budidaya merupakan kawasan dimana produk-produk agribisnis dihasilkan. Kawasan ini dapat berupa pertanian tanaman pangan, holtikultura, perkebunan dan perikanan baik darat maupun laut. Kegiatan dalam kawasan ini antara lain pembenihan, budidaya dan pengelolaan. Pengembangan produk wisata pada sub sistem ini misalnya wisata kebun, wisata pemancingan, wisata pendidikan, wisata boga di saung, penginapan saung, dan sebagainya.

2.   Sub Sistem Pengolahan & Pemasaran

Pengolahan produk-produk agribisnis dapat dilakukan di kawasan terpisah dengan kawasan lahan budidaya. Kawasan ini dapat terdiri dari kawasan industri pengolahan dan pemasaran baik bahan pangan maupun produk kerajinan. Standardisasi dan pengemasan dapat juga dilakukan di kawasan ini sebelum produk-produk agribisnis siap dipasarkan. Wisata belanja, wisata boga atau pun wisata pendidikan dapat dikembangkan pada sub sistem ini.

Gambar  2. Siklus Berkesinambungan Dalam Pengembangan Kawasan Agrowisata
3.      Sub Sistem Prasarana & Fasilitas Umum

Sub sistem ini merupakan sub sistem pendukung kawasan agrowisata. Prasarana dan Fasilitas Umum dapat terdiri dari pasar, kawasan perdagangan, transportasi dan akomodasi, fasilitas kesehatan serta layanan-layanan umum lainnya. Pengembangan fasilitas ini harus memperhatikan karakter dan nilai-nilai lokal tanpa meninggalkan unsur-unsur keamanan dan kenyamanan peminat agrowisata.

4.4. Interaksi antar Sub Sistem

Interaksi antar kawasan harus memperoleh perhatian yang serius misalnya kawasan cagar budaya, cagar alam, kawasan pemukiman dan kawasan sentra industri. Interaksi keseluruhan kawasan harus mampu mendukung pengembangan industri wisata secara keseluruhan. Untuk itu diperlukan kesadaran kolektif yang kuat sesuai dengan semangat pelayanan untuk pengembangan industri agrowisata.

a.   Cakupan Sektor Agrowisata

Pengembangan kawasan agrowisata dapat dilakukan sesuai dengan potensi yang dapat dikembangkan di daerah. Hal ini perlu mempertimbangkan antara agroklimat, kesesuaian lahan, budaya agro yang sudah berkembang, potensi pengembangan dan kemungkinan-kemungkinan produk-produk turunan yang dapat dikembangkan di masa depan.

Berkaitan dengan sektor agribisnis yang dapat dikembangkan, tipologinya dapat terdiri atas: usaha pertanian tanaman pangan dan hortikultura, usaha perkebunan, usaha peternakan, usaha perikanan darat, usaha perikanan laut, dan kawasan hutan wisata konservasi alam.

Pengembangan kawasan agrowisata dimungkinkan untuk dilakukan secara lintas sektor. Kreativitas dan inovasi dalam pengembangan produk-produk wisata dan membidik celah pasar merupakan sesuatu yang sangat penting.

Pengembangan kawasan agrowisata secara lintas sektoral ini harus direncanakan dan dikemas secara terpadu dengan memperhatikan aksesibilitas, kemudahan dan ketersedian berbagai fasilitas dan layanan. Semakin banyaknya pilihan produk wisata dalam suatu kawasan memungkinkan kawasan agrowisata semakin menarik.

b.   Tipologi Kawasan Agrowisata

Kawasan agrowisata memiliki tipologi kawasan sesuai klasifikasi usaha pertanian dan agribisnisnya masing-masing. Adapun tipologi kawasan agrowisata tersebut dalam Tabel 1 dibawah ini, sebagai berikut:

c.   Infrastruktur

Infrastruktur penunjang diarahkan untuk mendukung pengembangan sistem dan usaha agrowisata sebagai sebuah kesatuan kawasan yang antara lain meliputi:

1.   Dukungan fasilitas sarana & prasarana yang menunjang kegiatan agrowisata yang mengedepankan kekhasan lokal dan alami tetapi mampu memberikan kemudahan, kenyamanan dan keamanan bagi wisatawan. Fasilitas ini dapat berupa fasilitas transportasi & akomodasi, telekomunikasi, maupun fasilitas lain yang dikembangkan sesuai dengan jenis agrowisata yang dikembangkan.

2.   Dukungan sarana dan prasarana untuk menunjang subsistem kegiatan agribisnis primer terutama untuk mendukung kerberlanjutan kegiatan agribisnis primer, seperti: bibit, benih, mesin dan peralatan pertanian, pupuk, pestisida, obat/vaksin ternak dan lain-lain. Jenis dukungan sarana dan prasarana dapat berupa:

a.   Jalan

b.   Sarana Transportasi.

c.   Pergudangan Sarana Produksi Pertanian

d.   Fasilitas Bimbingan dan Penyuluhan, pendidikan dan pelatihan.

e.   Fasilitas lain yang diperlukan

3.   Dukungan sarana dan prasarana untuk menunjang subsistem usaha tani/ pertanian primer (on-farm agribusiness) untuk peningkatan produksi dan keberlanjutan (sustainability) usaha budi-daya pertanian: tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan. Jenis sarana dan prasarana ini antara lain:

a.   Jalan-jalan pertanian antar kawasan.

b.   Sarana air baku melalui pembuatan sarana irigasi untuk mengairi dan menyirami lahan pertanian.

c.   Dermaga, tempat pendaratan kapal penangkap ikan, dan tambatan perahu pada kawasan budi daya perikanan tangkapan, baik di danau ataupun di laut.

d.   Sub terminal agribisnis & terminal agribisnis.

4.   Infrastruktur yang tepat guna, yang dimaksud infrastruktur yang dibangun baik jenis maupun bentuk bangunan harus dirancang sedemikian rupa tanpa melakukan eksploitasi yang berlebihan dan menimbulkan dampak yang seminimal mungkin pada lingkungan sekitarnya. Teknologi yang digunakan dapat bervariasi dan sebaiknya jenis teknologi harus disesuaikan dengan kondisi setempat.

5.   Biro perjalanan wisata sebagai pemberi informasi dan sekaligus mempromosikan pariwisata, meskipun mereka lebih banyak bekerja dalam usaha menjual tiket dibandingkan memasarkan paket wisata.

d. Kelembagaan

1)   Lingkup pedoman kelembagaan adalah suatu ketentuan berupa sistem pengelolaan yang menjembatani berbagai kepentingan antara instansi terkait atau disebut protokol

2)   Protokol diarahkan kepada pengaturan hubungan antara pemangku kepentingan dan antar tingkat pemerintahan baik di pusat maupun daerah

3)   Sesuai dengan kondisi daerah dan jenis agrowisata yang dikembangkan, pihak-pihak stakeholders yang berkepentingan dan terkait baik langsung maupun tidak langsung dengan pengembangan kawasan agrowisata ini antara lain:

a.   Kantor Kementerian Pariwisata & Persenibud

b.   Dinas Pariwisata dan Persenibud

c.   Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah

d.   Dinas Pertanian

e.   Dinas Kelautan dan Perikanan

f.    Dinas Perdagangan dan Perindustrian

g.   Dinas Perhubungan

h.   Dinas Kehutanan dan Perkebunan

i.    Kanwil Pertanahan Nasional

j.    TKPRD (Tim Koordinasi Penataan Ruang Daerah)

k.   Pemerintah Daerah Tingkat I

l.    Pemerintah Daerah Tingkat II kabupaten/kota

m. Dunia Usaha dan Masyarakat

n.   Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)

o.   Perguruan Tinggi

p.   Dan Lain-Lain.

Tabel 1.  Tipologi Kawasan Agrowisata

No Sub-sektor Usaha Pertanian Tipologi Kawasan Persyaratan Agroklimat
1 Tanaman Pangan dan Hortikultura

.

Dataran rendah dan dataran tinggi, dengan tekstur lahan yang datar, memiliki sarana pengairan (irigasi) atau sumber air yang memadai. Harus sesuai dengan jenis komoditi yang dikembangkan seperti ketinggian lahan, jenis tanah, tekstur lahan, iklim, dan tingkat keasaman tanah
2 Perkebunan Dataran tinggi, tekstur lahan berbukit, tanaman tahunan, memiliki keindahan alam, dekat dengan kawasan konservasi alam. Harus sesuai dengan jenis komoditi yang dikembangkan seperti ketinggian lahan, jenis tanah, testur lahan, iklim, dan tingkat keasaman tanah.
3 Peternakan Dekat kawasan pertanian,

perkebunan dan kehutanan,

dengan sistem sanitasi yang

memadai.

Lokasi tidak boleh berada

dipermukiman & memperhatikan

aspek adaptasi

lingkungan.

4 Perikanan

darat

Terletak pada kolam perikanan darat, tambak, danau alam dan danau buatan, daerah aliran sungai baik dalam bentuk keramba maupun tangkapan alam. Memperhatikan aspek

keseimbangan ekologi dan

tidak merusak ekosistem

lingkungan yang ada.

5 Perikanan

laut

Daerah pesisir pantai hingga lautan dalam hingga batas wilayah zona ekonomi ekslusif perairan NKRI. Memperhatikan aspek keseimbangan ekologi dan tidak merusak ekosistem lingkungan yang ada.
6 Hutan wisata

konservasi

alam (Kebun

Raya)

Kawasan hutan lindung dikawasan

tanah milik negara, kawasan ini bia-sanya berbatasan langsung dengan kawasan lahan pertanian dan perkebunan dengan tanda batas wilayah yang jelas.

Sesuai dengan karakteristik

lingkungan alam wilayah

konservasi hutan setempat.

Lembaga-lembaga tersebut diatas seharusnya bertanggung jawab dalam perencanaan dan pengembangan agrowisata, berkaitan dengan penyediaan berbagai infrastruktur yang diperlukan. Pengalokasian akses seperti akses informasi, komunikasi dan transportasi menjadi tanggung jawab sektor publik. Tetapi dalam implementasinya, sektor publik berkonsentrasi pada perangkat keras, dari aksesakses tersebut, sedangkan perangkat lunak dan pengoperasiannya dapat dilakukan tidak hanya oleh sektor publik tetapi juga sektor swasta, terutama para pengusaha yang relevan dengan masing-masing akses tersebut. Pembangunan pusat-pusat informasi menjadi sangat krusial untuk memacu pengembangan agrowisata pada umumnya. Hal ini karena kegiatan pariwisata merupakan salah satu produk unggulan non migas bagi penerimaan daerah. Disamping itu pemda dan sektor yang relevan bertanggungjawab terhadap perlindungan dan kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup di lokasi. Oleh karena itu pelaksanaan kegiatan agrowisata harus ada kegiatan pemantauan yang dilakukan pemda. Untuk itu perlu ada instrumen yang jelas dan terukur agar monitoring kegiatan agrowisata dapat dilakukan secara optimal.

Swasta dalam pengembangan agrowisata (perguruan tinggi, Lembaga Swadaya Masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha dan masyarakat) diharapkan mempunyai peran yang sangat besar dalam pengembangan pariwisata. Swasta justru lebih berperan dalam pelaksanaan kegiatan agrowisata terutama pemasaran, penyediaan jasa dan opersional kegiatan, disini karena peran swasta melengkapi sektor publik. Oleh karena itu kedua stakeholder tersebut harus bekerjasama dan berkoordinasi agar kegiatan agrowisata dapat berjalan baik.

Dunia usaha dan masyarakat sesuai dengan prinsip agrowisata, keterlibatan dunia usaha dan masyarakat setempat sangat penting dan mutlak diperlukan. Kegiatan ini harus mengakomodasi dan terintegrasi dengan budaya local serta harus memberikan manfaat ekonomi dalam kehidupan masyarakat sekitar. Oleh karena itu perlu diupayakan peningkatan ketrampilan melalui pendidikan latihan agar kesempatan dan kemampuan masyarakat dapat memberikan peran yang lebih besar dalam kegiatan agrowisata.

Kerjasama dan koordinasi antar berbagai stakeholder terkait dalam pengusahaan agrowsisata sangat penting dan menjadi faktor kunci keberhasilan dalam pengembangan agrowisata. Kerjasama dan koordinasi antar berbagai stakeholder dapat bervariasi, mulai dari informasi sampai dengan bentuk kerjasama yang legal dan formal. Sedangkan areal kerjasama juga sangat luas meliputi semua proses pengembangan agrowisata, mulai dari perencanaan seperti penetapan lokasi kawasan, pelaksanaan kegiatan termasuk operasional sampai kepada pemantauan kegiatan agar dapat dicapai sasaran secara berkelanjutan dengan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat setempat khususnya, sebagaimana konsep pengembangan kawasan agrowisata (Gambar 3).

Gambar  3. Konsep Pengembangan Kawasan Agrowisata

5.  Manajemen Pengembangan Kawasan Agrowisata

Pengembangan Agrowisata berbasis kawasan merupakan pengembangan kawasan yang tumbuh dan berkembang dengan memadukan berbagai kelebihan dan keuntungan agribisnis dengan kegiatan wisata secara berkelanjutan. Hal ini memerlukan rencana pengembangan yang menyentuh hal-hal yang paling mendasar baik dari sisi penataan wilayah dan kawasan, pengelolaan sumber daya lokal (baik alam, penduduk, ekonomi, sosial maupun budaya). Penetapan dan pengembangan kawasan agrowisata dapat dilakukan pada beberapa kawasan secara terpadu seperti kawasan sentra produksi pertanian dengan kawasan danau dan sungai. Dengan demikian kawasan agrowisata bukanlah kawasan yang secara khusus diperuntukkan bagi industri wisata, melainkan dapat saja berupa kawasan lain dengan memberikan pengembangan fasilitas, kegiatan serta promosi wisata.

Strategi dan arah kebijakan pengembangan kawasan agrowisata sekurangkurang dilakukan dengan beberapa tahapan berikut ini:

1.   Adanya pedoman pengelolaan ruang kawasan agrowisata sebagai bagian dari RTRWN, yang berupa strategi pola pengembangan kawasan agrowisata tersebut.

2.   Penetapan kawasan agrowisata dilakukan berdasarkan studi kelayakan yang secara mendasar mempertimbangkan kelayakan ekologis, kelayakan ekonomis, kelayakan teknis (agroklimat, kesesuaian lahan, dll), dan kelayakan sosial budaya.

3.   Pengembangan Kawasan Agrowisata harus melalui tahapan-tahapan yang jelas dan terarah. Tahapan-tahapan tersebut antara lain:

a.   Persiapan Kawasan Agrowisata

Merupakan rencana pengembangan jangka pendek antara 0 -1 tahun.

Kawasan ini merupakan daerah potensi pengembangan yang diidentifikasi memiliki potensi yang layak dikembangkan karena kekayaan alamnya dan topologinya, peruntukan maupun sosial budaya. Kawasan ini dapat juga berupa kawasan yang diarahkan untuk kawasan agrowisata, misalnya kawasan bantaran sungai atau danau yang akan direhabilitasi. Melalui pengembangan fasilitas yang mendukung, daerah ini dapat dikembangkan sebagai kawasan agrowisata.

b.   Pra Kawasan Agrowisata

Merupakan rencana pengembangan jangka menengah 1 – 5 tahun, dimana kawasan mulai dikembangkan sesuai dengan arah perencanaan dan pengembangan. Pada tahap ini kawasan sudah mulai berkembang dan kegiatan agrowisata sudah mulai berjalan. Hal ini dapat dicirikan dengan adanya kesadaran yang mulai tumbuh di masyarakat tentang pengembangan kawasan agrowisata di daerahnya serta kegiatan agribisnis dan agrowisata yang berjalan bersama secara serasi. Kegiatan pengembangan sumber daya manusia dan lingkungan pada tahap ini harus dilakukan secara intensif, untuk mempersiapkan sebuah kawasan dengan kesadaran agrowisata.

c.   Tahap Kawasan Agrowisata

Pada tahap ini kawasan sudah mapan sebagai kawasan agrowisata. Pada tahapan ini kawasan agrowisata sudah berkembang dan memiliki ciri-ciri seperti: optimalisasi sumberdaya alam; adanya pusat-pusat kegiatan wisata terpadu dengan berbagai kegiatan budidaya, pengolahan dan pemasaran; minimalnya dampak lingkungan yang terjadi; pemberdayaan masyarakat lokal, seni, sosial dan budaya.

4.   Pengembangan kawasan agrowisata dalam jangka panjang berorientasi pada pelestarian daya dukung lingkungan dan sumber daya alam. Hal ini menuntut pola agribisnis yang dikembangkan benar-benar sesuai dengan karakter dan kesesuaian lahan, memiliki dampak lingkungan minimal (misalnya tidak diperkenankan penggunaan pestisida secara berlebihan atau aplikasi pestisida organik yang aman secara ekologis). Berbagai kebijakan, program, prosedur dan petunjuk pelaksanaan harus dirumuskan secara lebih rinci dengan melibatkan berbagai pihak terkait.

5. Pengembangan kawasan agrowisata diharapkan mampu memelihara dan bahkan memperbaiki daya dukung lingkungan dan kelestarian sumber daya alam secara berkelanjutan dalam jangka panjang. Upaya-upaya pelestarian flora dan fauna yang mulai langka diharapkan dapat dilakukan dan memberikan nilai ekonomi bagi pelaku usaha agrowisata misalnya dengan mengembangkan kawasan budidaya tanaman obat atau tanaman pangan yang sudah mulai jarang dikonsumsi pada masyarakat modern. Hal ini dapat juga dilakukan pada bidang peternakan dan perikanan.

6.   Manfaat Pengembangan agrowisata (warta penelitian dan pengembangan pertanian vol 24 no, 1, 2002). Pengembangan agrowisata sesuai dengan kapabilitas, tipologi, dan fungsi ekologis lahan akan berpengaruh langsung terhadap kelestarian sumberdaya lahan dan pendapatan petani dan masyarakat sekitarnya. Kegiatan ini secara tidak langsung meningkatkan persepsi positif petani serta masyarakat di sekitarnya akan arti pentingnya pelestarian sumberdaya lahan pertanian. Pengembangan agrowisata pada gilirannya akan menciptakan lapangan pekerjaan, karena usaha ini dapat menyerap tenaga kerja dari masyarakat pedesaan, sehingga dapat menahan atau mengurangi arus urbanisasi yang semakin meningkat saat ini. Manfaat yang dapat diperoleh dari agrowisata antara lain adalah melestarikan sumberdaya alam, melestarikan teknologi local dan meningkatkan pendapatan petani/masyarakat sekitar lokasi wisata.

a. Arah Pengembangan

Arah & strategi pengembangan Kawasan Agrowisata harus bertumpu pada kekuatan dan potensi lokal dan berorientasi pasar. Pertumbuhan pasar agrowisata dan ekowisata cukup tinggi di seluruh dunia. Diperlukan kreativitas dan inovasi untuk mengemas dan memasarkan produk-produk unggulan agrowisata dengan menjual keaslian, kekhasan dan ke-lokalan yang ada di kawasan agrowisata. Hal ini dapat dikombinasikan dengan produk-produk yang lebih umum seperti pengembangan wisata petualangan, perkemahan, pengembangan fasilitas hiking/tracking, pemancingan, wisata boga, wisata budaya dan lain-lain sesuai dengan potensi yang dimiliki.

Selain itu, harus diberikan kemudahan dan dukungan melalui penyediaan sarana & prasarana yang menunjang baik dari sisi budidaya, pengolahan pasca panen maupun infrastruktur dan fasilitas lain seperti promosi, transportasi dan akomodasi dan pemasaran yang terpadu harus dilakukan oleh pemerintah baik di pusat maupun di daerah.

Arah pengembangan kawasan agrowisata harus mampu menyentuh komponen-komponen kawasan secara mendasar. Hal ini antara lain meliputi:

a.   Pemberdayaan masyarakat pelaku agrowisata

b.   Pengembangan pusat-pusat kegiatan wisata sebagai titik pertumbuhan.

c.   Pengembangan sarana dan prasarana yang menunjang.

d.   Adanya keterpaduan antar kawasan yang mendukung upaya peningkatan dan pelestarian daya dukung lingkungan serta sosial dan budaya setempat.

e.   Adanya keterpaduan kawasan agrowisata dengan rencana tata ruang wilayah daerah dan nasional.

b. Kordinasi Kelembagaan

Kegiatan perencanaan, pengembangan dan pelaksanaan kawasan agrowisata memerlukan koordinasi antara lembaga terkait dalam pelaksanaan di lapangan dengan membentuk tim teknis pokja tata ruang kawasan agrowisata lintas departemen/sektor terkait.

Bentuk pelaksanaan tugas koordinasi berbentuk:

(1). Pembagian Tugas

Di tingkat pusat dan nasional dilaksanakan melalui BKTRN (Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional), ditingkat propinsi dan kabupaten/kota melalui TKPRD (Tim Koordinasi Penataan Ruang Daerah) di tingkat I dan tingkat II.

(2). Fungsi Pengawasan

BKTRN, TKPRD tingkat I dan TKPRD tingkat II bertugas untuk melakukan pengawasan dan memantau di lapangan, apakah terjadi penyimpangan, pelanggaran, pengrusakan, dan konversi lahan yang telah diperuntukkan sebagai kawasan agrowisata. Selain itu akan selalu memantau perkembangan yang terjadi serta kebijakan dan keputusan yang dibuat oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan departemen teknis yang terkait dengan tata ruang dan pemanfaatan ruang kawasan agrowisata, konversi lahan serta koordinasi teknis di tingkat pelaksanaan.

(3). Penertiban

BKTRN, TKPRD tingkat I dan TKPRD tingkat II akan melakukan penertiban berdasarkan hasil temuan dilapangan sesuai dengan fungsi, tugas, dan kewenangan. Penertiban dalam bentuk memo dinas internal lintas departemen dan rekomendasi tindakan hukum ke instansi penegakkan hukum terkait (Kejaksaan dan Kepolisian).

c. Peran Serta Masyarakat

1. Perguruan Tinggi

Perguruan tinggi sebagai center of excellence akan menjadi mitra pemerintah baik ditingkat pusat maupun daerah dalam pengembangan riset di berbagai bidang termasuk dalam pengembangan agrowisata ini baik yang berkaitan dengan budidaya pertanian, peternakan, perikanan dan pengembangan wisata. Studi, Penelitian & Pengembangan maupun konsultansi diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan.

2. Lembaga Swadaya Masyarakat

Lembaga swadaya masyarakat memiliki cukup banyak data dan informasi yang dapat dijadikan referensi dan bahan-bahan penunjang untuk perencanaan dan pengembangan agrowisata. Masyarakat, LSM dan Pemerintah diharapkan memiliki interaksi yang konstruktif untuk pengembangan agrowisata. Fungsi LSM antara lain dapat berperan untuk:

a.   Memberikan fungsi kontrol & pengawasan terhadap program-program pemerintah khususnya tata ruang kawasan agrowisata.

b.   LSM akan memberikan masukan, kritik dan saran atas pedoman tata ruang kawasan agrowisata yang ada dan sedang berjalan, sehingga diharapkan akan memberikan feed back yang baik untuk perbaikan di masa yang akan datang.

3. Masyarakat dan dunia usaha

Dalam rangka mewujudkan penyelenggaraan penataan ruang perlu terus didorong keterlibatan masyarakat dan dunia usaha dengan pendekatan community driven planning, dengan pendekatan ini diharapkan:

a.   Terciptanya kesadaran, kesepakatan dan ketaatan masyarakat dan dunia usaha terhadap aturan tata ruang kawasan agrowisata dan sarana-sarana pendukungnya.

b.   Masyarakat dan dunia usaha ikut merencanakan, menggerakkan, melaksanakan dan juga mengontrol pelaksanaan program agrowisata dan penataan ruang kawasannya.

c.   Adanya kesadaran hukum dan budaya masyarakat akan pentingnya tata ruang kawasan agrowisata, sehingga masyarakat dan dunia usaha selalu berkoordinasi dan berhubungan dengan instansi pemerintah terkait jika melakukan kegiatan yang berkaitan dan berhubungan dengan usaha agribisnis dan agrowisata.

d.   Meningkatkan legitimasi program pembangunan kawasan agrowisata.

e.   Masyarakat dan dunia usaha menjadi pelaku langsung dan obyek dari program pengembangan kawasan agrowisata baik sebagai investor, tenaga pertanian maupun tenaga wisata.

d. Indikator Keberhasilan

Pedoman pengelolaan kawasan agrowisata bisa dinyatakan berhasil apabila dalam implementasi lapangan terjadi:

1)   Munculnya berbagai kawasan agrowisata yang mampu memberikan multi-effect secara positif baik dari sisi ekologi & lingkungan, ekonomi maupun sosial budaya.

2)   Masuknya investasi sektor swasta baik PMA maupun PMDN ke kawasan agrowisata.

3)   Tumbuhnya paradigma baru di jajaran departemen teknis terkait dan pemerintah daerah, dimana dalam pengembangan kawasan agrowisata, akan selalu merujuk pada RTRWN, RTRW, peraturan dan pedoman terkait.

4)   Pedoman pengelolaan ruang agrowisata nasional dan daerah ini tersosialisasi dengan baik kepada semua pihak yang berkepentingan

5)   Tidak terjadi konversi lahan pertanian maupun lahan konservasi alam yang menyalahi ketentuan RTRWN dan RTRW secara signifikan yang berkaitan dengan rencana pengembangan kawasan agrowisata di suatu wilayah.

6)   Tidak terjadi benturan dan kesimpangsiuran di tingkat teknis atas model pengelolaan ruang dan kawasan suatu wilayah.

e. Pemberdayaan Masyarakat

Pembinaan dan sosialisasi ditujukan kepada para masyarakat dan dunia usaha yang menjadi subjek dan objek dari pengembangan kawasan agrowisata, tolok ukur keberhasilannya adalah:

1)   Masyarakat dan dunia usaha yang terlibat sebagai pelaku dalam program pengembangan dan pengelolaan kawasan agrowisata sepenuhnya mengerti, mentaati, mematuhi dan berperan serta aktif dalam penegakan rambu-rambu dan etika pengembangan agrowisata.

2)   Meningkatnya tingkat kesejahteraan sosial masyarakat di kawasan agrowisata dan sekitarnya.

3)   Berkembangnya usaha berbasis agribisnis dan agroindustri, baik dalam skala kecil, menengah dan besar yang juga berorientasi pada insdustri wisata di kawasan agrowisata.

4)   Tidak terjadi konversi lahan kawasan agrowisata secara tidak terkendali yang dapat merusak ekologi dan lingkungan.

TELADAN  1.

PENGEMBANGAN WISATA AGRO

KOTA BATU , JAWA TIMUR

Latar Belakang

Kota Batu adalah salah satu wilayah yang pada tahun 2001 menjadi daerah otonom. terpisah dari wilayah pemerintah Kabupaten Malang. Sebagai Kota Otonom yang baru, perlu segera disusun Kebijakan, Strategi dan Program-progam pembangunan berdasarkan potensi dan peluangnya. Wilayah Batu sangat potensial disektor pertanian, khususnya holtikultura, potensi tersebut merupakan peluang untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata agro. Salah satu kendala dalam mengembangkan kawasan Wisata Agro adalah terbatasnya prasarana dan sarana dasar pelayanan kota yang masih dibawah kebutuhan nyata. Penataan dan pengembangan kawasan Wisata Agro diharapkan wilayah Batu menjadi kawasan cepat tumbuh (Rapid Growth Area), yakni mampu mempercepat laju pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan masyarakat, disisi lain kerusakan lingkungan hutan menjadi masalah yang harus segera dikendalikan.

Sasaran:

•     Memberikan pelayanan prima pada masyarakat kota Batu khususnya pada insan wisata maupun wisatawan yang berkunjung ke Kota Batu.

•     Menata dan mengembangkan sektor unggulan obyek wisata agro dan sektor pendukungnya.

Terminologi Perkotaan:

1.   PERKOTAAN adalah wilayah yang berfungsi sebagai pusat pelayanan berbagai jasa dan barang.

2.   PRASARANA (infrastruktur) adalah jaringan/aset fisik yang membentuk struktur untuk pelayanan sarana yang berpola sistem (tidak langsung di nikmati).

3.   SARANA adalah produk atau jasa fasilitas yang diciptakan oleh prasarana.·

4.   LAYANAN JASA adalah kegiatan manusia dalam bentuk kinerja hasil manajemen yang langsung dinikmati pengguna jasa.

5.   FASILITAS adalah kemudahan yang diciptakan oleh prasarana, sarana dan layanan hasil.

6.   UTILITAS adalah produk yang dimanfaatkan langsung oleh penggura jasa.

7.   WISATA AGRO adalah bidang singgung antara sektor pertanian dengan sektor pariwisata, khusus pemanfaatan sumberdaya pertanian/ hutan untuk kepariwisataan.

Masalah Dan Prospek Pengembangan Kota Batu:

Beberapa masalah pokok di Kota Batu, Antara lain:

• Kerusakan lingkungan hutan dan lingkungan sumbr daya air

• Kesulitan air bersih.

• Jalan belum belum beraspal dan lalu-lintas -

• Peaduduk setengah pengangguran.

• Kebersihan dan pertamanan Kota

• Penataan Kota

Karakteristik Kota Batu, adalah :

• Sumberdaya alam dimanfaatkan untuk pertanian dan hutan.

• Nuansa pegunungan dengan udara sejuk dan pemandangan indah.

• Masyarakat Inovatif.

Prospek Pengembangan Kota Batu:-

• Sentra roduksi Holtikultura dan bunga.

• Kawasan Kota agro.

Visi Dan Misi Kota Batu

• Visi Kota Batu: KOTA WISATA AGRO 2020

• Misi Kota Batu:

Ö   Memberikan Pelayanan Prima.

Ö   Mengembangkan Sektor Unggulan, khususnya Pertanian, Agroindustri dan Agrowisata.

Ö   Meningkatkan Kualitas SDM.

Ö   Membangun Prasarana dan Sarana Kota.

Ö   Mengendalikan Kawasan Lindung.

Ö   Menata Ruangan Kota Batu.

Arah Dan Kebijakan Strategi Pembangunan Kota Batu

Arah Kebijkan Umum Pembangunan Kota Batu:

1.   Memenuhi kebutuhan pelayanan dasar masyarakat (Basic Services), seperti  Kebutuhan air bersih, Tranportasi kota,Pendidikan latihan kerja.

2.   Mengembangkan sektor unggulan daerah (Core Comptetence)

Dasar Pertimbangan Penataan Kota Batu:

• Pertimbangan Spasial (Ruang) mengarah pada terbentuknya sistem·

• Pertimbangan Struktural mengarah pada hiraki fungsi jaringan.·

• Pertimbangan Fungsional mengarah pada tingkat pelayanan.

Rencana Umum Tata Ruang Kota Batu:

1. Rencana Bagian Wilayah Kota (RBWK)·

•     BWK I meliputi: Kel. Sisir, Kel. Temas, Kel. Ngaglik, Kel. Songgokerto, Sebag. Ds. Oro-oro Ombo, Sebag. Ds. Pandanrejo·

•     BWK II meliputi: Desa Junrejo, Desa Tlekung, Desa Dadaprejo, Desa Mojorejo, Desa Pendem, Desa Torongrejo, Sebag Ds. Oro-oro Ombo·

•     BWK III meliputi:Desa Bumiaji, Desa Bulukerto, Desa Girippurno, Sebag. Ds. Pandanrejo·

•     BWK IV meliputi Desa Punten, Desa Sidomulyo, Desa Sumberejo, Desa Gunungsari, Desa Tulungrejo, Desa Sumbergondo2.

2. Tata Jenjang Pusat Pelayanan Kota

• Pusat pelayanan Kota Batu (BWK I)-

Ö Orientasi kegiatan terpusat di BWK III-

Ö Pusat Pemerintahan- Central Business District-

Ö Pusat Pelayanan Sosial ·

• Sub Pusat Kota-

Ö BWK I Pusat BWK Kelurahan Sisir-

Ö BWK II Pusat BWK Desa Junrejo-

Ö BWK III Pusat BWK Desa Bumiaji-

Ö BWK IV Pusat BWK Desa Punten


Strategi Pengembangan Kota Batu:

1. Model Pengembangan Wilayah

Pemanfaatan dan pengolahan sumberdaya alam di Kota Batu secara optimal akan menjadikan wilayah Kota Batu sebagai Kawasan Wisata agro Cepat Tumbuh (Rapid Growth Resort), dan dalam upaya mewujudkan Kawasan Cepat Tumbuh, maka di gunakan model pengembangan wilayah berkelanjutan, sebagai berikut :

• GROWTH CENTER adalah Kawasan Pusat pertumbuhan diharapkan mendorong perkembangan kawasan di sekelilingnya (hinterland) yaitu efek rembesan kebawah (trickle down effect). Karakter Kawasan Pusat Pertumbuhan, yaitu .-

Ö Central Businees District-

Ö Pusat Pemerintahan-

Ö Pusat Pelayaan Sosial-

Ö Kawasan Permukiman Padat.

• AGROPOLITAN DISTRICT adalah penyediaan fasilitas pelayanan perkotaan pada kawasan pertanian / pedesaan, karakter. Agropolitan District yaitu :-

Ö Sentra Produksi Pertanian -

Ö Agroindustri-

Ö Agribisnis -

Ö Wisata Agro.

• ZONA KONTROL KETAT adalah Kawasan Lindung Muilak dan Lindung Terbatas.

2. Langkah-langkah Penataan dan Pengembangan Wisata Agro.

Beberapa langkah Penataan – Pengembangan Wisata Agro di Wilayah Kota Batu, sebagai berikut :

• Menginventarisasi / Identifikasi Obyek Wisata Agro·

• Menentukan Jenis Obyek Wisata Agro-

Ö Wisata Kebun Sayur-

Ö Wisata Kebun Bunga-

Ö Wisata Kebun Buah-

Ö Wisata Kebun Obat-

Ö Wisata Tanaman Padi Organik-

Ö Wisata Gunung-Hutan-

Ö Wisata Ternak Sapi Perah.

• Menentukan Batas Cakupan Pelayannan·

• Menentukan Model Penataan Pengembangan Kawasan Wisata Agro-

Ö Kemasan Obyek Wisata Agro-

Ö Pengelolaan Kawasan Wisata Agro-

Ö Fasilitas Kawasan Wisata Agro.

• Menentukan Pusat Wisata Agro·

• Merencanakan Program / Proyek Terpadu Pengembangan Kawasan Wisata Agro.

Rencana Pengembangan Kawasan Wisata Bunga Sidomulyo

(contoh)

KEGIATAN WISATA AGRO DI KOTA BATU

Kegiatan wisata dengan mengunjungi objek-objek pertanian sekaligus menikmati suasana pedesaan, udara sejuk pegunungan, hamparan hijau dedaunan, akhir-akhir ini semakin diminati oleh para wisatawan khususnya orang-orang kota. Agrowisata di keun apel secara profesional dirintis sejak tahun 1991 di Nongkojajar, Pasuruan di bawah pembinaan Balai Benih Induk Hortikultura Nongkojajar. Selanjutnya, diikuti daerah-daerah sentra apel lain (Batu: Kusumo

Agro).

Agrowisata di Nongkojajar sebenarnya tidak hanya tanaman apel, tetapi juga tanaman buah-buahan lainnya (jeruk dan durian). Agrowisata di Nongkojajar yang lebih berkembang adalah agrowisata apel, karena tanaman apel tidak mengenal musim, ada setiap saat. Agrowisata di Nongkojajar beranggotakan 40 petani apel, namun saat ini (1995) yang aktif dalam kegiatan agrowisata sebanyak 10 petani (kelompok tani Kresna) dengan luas lahan sekitar 50 ha yang berlokasi ditepi jalan beraspal. Kegiatan agrowisata biasanya ramai pada hari-hari libur karena para wisatawan datang secara rombongan atau satu keluarga. Untuk masuk kebun dikenakan biaya Rp. 1.500,00/orang dan dapam memakan buah apel sepuasnya. Apabila memetik buah apel untuk dibawa pulang dikenakan harga Rp. 2.500,00/ kg. Agar kegiatan agrowisata ini tidak merusak pertamanan apel, peranan pemandu sangat penting untuk memperhatikan petunjuk-petunjuk cara memetik buah apel yang baik.

(Dikutip dari: R. Bambang Soelarso, Ir., Budidaya Apel, Kanisius, 1996, halaman 67-68).

Sumber: Kepala Bappeko Batu-Malang, Propinsi Jawa Timur, Makalah pada Diskusi Strategi Pengembangan Kawasan Strategis dan Cepat Tumbuh, Bappenas, 2001).

PENATAAN DAN PENGEMBANGAN URAIAN KEGIATAN
RENCANA PENATAAN KAWASAN RENCANA PENATAAN RUANG

KAWASAN SIDOMULYO

PEMBANGUNAN

INFRASTRUKTUR DAN UTILITAS

* PERBAIKAN JALAN / GANG
  • PEMBANGUNAN DRAINASE DAN SANITASI
  • PEMBANGUNAN PEDESTRIAN
  • FASILITAS PERSAMPAHAN DAN LAMPU JALAN
  • FASILITAS PARKIR
FASILITAS UMUM DAN SOSIAL * PENATAAN STAND BUNGA

* TPS DAN TONG SAMPAH

* TAMAN BUNGA

SEKTOR UNGGULAN * BUDIDAYA BUNGA

* SOUVENIR

* PEDAGANG BUNGA

KEMITRAAN PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL * PETANI BUNGA

* PAGUYUBAN BUNGA


KUSUMA AGROWISATA

SEKITAR tahun 1992 Kusuma Agrowisata sudah menggeluti tanaman jeruk selain tanaman apel yang menjadi unggulan pada saat itu di Kota Batu. Dengan ketekunan, ketelitian dan pengalaman selama ±15 tahun lamanya dari H. Hary Bagio, tanaman jeruk, apel dan kini juga mengembangkan strawberry, dapat terlihat di lahan perkebunan Kusuma Agrowisata. Jenis-jenis jeruk di Kusuma Agrowisata ada 3 macam, yaitu: jeruk Jova, jeruk Groovery (tanpa biji) dan jeruk Keprok Punten. Untuk jeruk jenis Jova spesifiknya hanya berada di daerah Jawa Timur. “Karena buah yang asalnya dari lembah Jova, Palestina itu dibawa sendiri oleh Pak Harjito dan buah ini masih ada juga di daerah Selokerto, Dau”, ungkap Hary Bagio. Sebenarnya Kusuma Agrowisata pernah mengembangkan jeruk jenis Nambangan atau dikenal jeruk Pamelo, namun tidak cocok dikarenakan tidak cocok ketinggiannya sehingga buah tersebut memiliki rasa getir. Menurut Hary Bagio, prinsip dasar untuk budidaya tanaman jeruk adalah memperhatikan agroklimatnya, seperti suhu, ketinggian tempat dan kelembaban dan juga memperhatikan karakteristik tanaman yang akan ditanam.

Untuk tanaman jeruk cocok sekali di daerah tropis dengan ketinggian, untuk jeruk Jova misalnya, adalah 200 -700 m dialas permukaan air laut. Luas areal sekitar ± 4 ha yang ada di lahan Kusuma Agrowisata, dibagi menjadi di antaranya 2 ha dialas untuk tanaman jeruk Groovery dan sedikit Valencia. Dua hektar lainnya ada dibawah dan berada di kawasan tanaman apel ditanami jeruk berumur 12 tahun. “Memang ukurannya, sudah tua. Tetapi, mereka bisa menghasilkan 60 ton setiap panennya,” jelas Hary Bagio. Total umur jeruk menurutnya sekitar 8 – 11 bulan dengan proses mulai pembuahan sampai pemanenan.Saat sebelum pembuahan perlu adanya stressing agar bisa dibuahkan setiap 6 bulan sekali di musim kemarau. Dimaksud stressing adalah tidak ada perlakuan pemupukan dan pemberian air. Pemanenan di Kusuma Agrowisata dilakukan hanya sekali dalam tiap tahun agar perawatannya mudah.

Menata wisata petik jeruk dapat dilihat dari pengaruh iklim terhadap tanaman apel. Seperti tidak adanya apel di kebun berarti juga untuk sementara waktu berhenti pula wisata petik apel karena tidak berbuah akibat pengaruh musim penghujan. Misalnya apabila pada saat ini sampai bulan Juli musimnya panen jeruk, dikarenakan 5 bulan sebelumnya hujan terus menerus mengguyur tanaman apel sehingga tidak dapat berbunga. Selain itu juga perlu adanya rotasi penanaman dengan membaginya secara blok-blok agar terjadwal pemanenannya dan sesuai waktu yang diinginkan. Pemanenan jeruk pada musimnya kalau dihitung nilai ekonomi perhitungan produksi (Takson) menurut Hary Bagio dibagi menjadi dua bagian yaitu ; bukan petik dan petik berapa. Bukan petik dipakai untuk pemenuhan produksi seperti pengolahan pangan dan di jual ke pasaran ataupun juga sampai menerima pesanan dari luar. Harga jual di pasaran untuk jeruk jenis keprok berkisar Rp 8.000/kg, jeruk Groovery Rp 6.000/kg dan Jova Rp 7.000/kg. Kelebihan produksi dimasukkan dalam petik atau lebih mudah dipahami masuk ke dalam “Paket Wisata Petik” di Kusuma Agrowisata.

Dengan kisaran hitung yang dibuat adalah ton dikonversikan ke kilogram, kemudian dengan pembagi 2-3 (orang) maka akan didapat jumlah yang dikonsumsikan. Di luar paket wisata petik, katanya; “Konsumen dapat memetik langsung di pohon sesuai yang diinginkan, kemudian dapat ditimbang untuk mengetahui total harganya.”  Konsep wisata paket di Kusuma Agrowisata mempunyai nilai plus, karena menurut Hary Bagio, konsumen sebelum masuk ke area petik memperoleh servis dengan mendapatkan minuman Welcome Drink; tinggal pilih sari apel atau juice jeruk, kemudian bisa petik langsung dengan jatah maksimum 2 buah jeruk yang bisa dikupaskan atau kupas sendiri kalau ingin langsung memakannya. Kemudian, pulangnya bisa membawa oleh-oleh seperti jenang apel, wingko apel atau sayurmayur beserta sari strawberry. “Dijamin konsumennya akan puaslah,” cetusnya. Ia menambahkan, Kusuma Agrowisata juga menerima pemesanan berbagai macam bibit, seperti: apel, jeruk dan lainnya.

(Dikutip dari: Tabloid AGRO TODAY, No. 03 Tahun 1, Mei-Juni 2003).

TELADAN 2.

AGROWISATA SALAK PONDOH DI LERENG MERAPI

Alam Indonesia menjanjikan sejuta pesona. Objek apa saja tampaknya bisa dikemas untuk menjaring wisatawan. Bukan hanya pantai, laut, pegunungan, budaya, atau peninggalan bersejarah, tapi juga kebun salak. Inilah yang sedang digarap secara intensif Pemda Sleman, Yogyakarta, di lereng Gunung Merapi. Namanya Wisata Agro Salak Pondoh (WASP). Terletak di tiga dusun (Gadung, Candi, dan Ganggong), Desa Bangunkerto, Kecamatan Turi, sebagian fasilitas agrowisata itu sudah bisa dinikmati. Kolam pemancingan misalnya, setiap hari libur selalu dipadati pengunjung. Di sisi kolam itu, berdiri tegak sebuah bangunan untuk pentas kesenian. Selebihnya adalah hamparan kebun-kebun salak, yang tampak sekali sudah tertata rapi. Gelombang turis mulai mengalir ke kawasan sejuk tersebut, terutama dari Belanda dan Jepang. “Pekan depan akan datang rombongan wanita dari negara-negara ASEAN, sekitar 100 orang,” tutur Sudibyo SU, koordinator pengembangan WASP Sleman.

Fasilitas yang belum lengkap, tidak menghalangi objek wisata ini untuk go public. Dalam setiap kesempatan Bupati Sleman, Drs. Arifin Ilyas, dengan bangga memperkenalkan wisata agro di wilayahnya. “Kami ingin Wisata Agro Salak Pondoh, menjadi tempat persinggahan para turis dalam perjalanan dari Candi Prambanan ke Candi Borobudur,” ujarnya suatu ketika.

Tekad Bupati mendapat dukungan penuh dari masyarakat yang berdiam di lokasi objek wisata itu. Sejak turis berdatangan, sebagian dari mereka sudah mulai kecipratan rejeki, antara lain dari hasil penjualan salak atau makanan lain di sekitar tempat itu. Belum lagi berkah berupa dibangunnya berbagai fasilitas penunjang, seperti jalan desa yang kini beraspal mulus. WASP diresmikan sebagai objek wisata pada tahun 1990. Nama itu dipilih karena aset utamanya adalah pembudayaan salak Pondoh. Di DI Yogyakarta, ini merupakan objek wisata baru. Dari kota gudeg itu lokasinya sekitar 23 kilometer.

Berada di ketinggian sekitar 400 – 500 meter di atas permukaan laut, suhu udara kawasan itu siang hari sekitar 22 derajat Celcius. Dalam lima tahun terakhir ini, rata-rata curah hujannya 2,392 milimeter, dengan hari hujan 92 kali per tahun.Berkunjung ke lokasi WASP, mata clan pikiran segera saja disergap suasana pedesaan yang khas. Rumah-rumah penduduk dengan halaman sangat luas, pohon salak bertebaran di setiap pojok. Di tempat-tempat tertentu, penduduk membuka kios kecil menawarkan buah salak dan makanan kecil. “Turis asing lebih suka melihat langsung ke pekarangan rumah,” tutur Sudibyo. WASP dibagi beberapa bagian. Ada zona inti seluas 17 hektar yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas tambahan, termasuk penginapan. Kolam pemancingan dan panggung pertunjukan terletak di kawasan ini. Di luar zona inti ada desa wisata seluas 60 hektar. Kawasan ini tak ubahnya sebuah dusun biasa, dengan rumah-rumah penduduk dan aktivitas kesehariannya, tapi ditata sedemikian rupa agar tampak menarik. Di desa wisata ini, turis dapat mengikuti proses budi daya salak, mulai dari cara penanaman hingga memanennya. Di luar kedua bagian itu masih ada hamparan pemukiman dan kebun buah-buahan seluas 633 hektar, yang tidak hanya menyajikan salak Pondoh.Daerah WASP mempunyai jenis tanah regosol yang berasal dari batuan Gunung Merapi. Endapan vulkaniknya tergolong muda, dengan kedalaman efektif sekitar 60-90 sentimeter.

Tanah di sini memiliki kadar pasir lebih dari 60 persen. Derajat keasamannya (pH) berkisar 5,5 sampai 7,5 (agak asam netral), dengan kemiringan 2 hingga 15 persen.Masyarasat Desa Bangunkerto umumnya menanam padi, ubi kayu, jagung, dan sayur-sayuran. Ada juga yang menanam jeruk, mangga, rambutan, pisang, duku, kokosan, nangka, langsat, dan tebu, selain salak Pondoh dan salak biasa. Pohon kelapa tumbuh di sela-sela rumah penduduk, menjulang dari kerimbunan rumpun salakRumah penduduk tergolong dalam kondisi sedang. Sebagian malahan sudah cukup bagus, terbuat dari tembok. Meski demikian, masih ada yang terbuat dari bilik bambu dengan atap rumbia. Satu-dua antena televisi menjulang di atas atap. Prasarana menuju WASP terus dibenahi. Jalan desa yang tiga tahun lalu masih berbatubatu, kini sudah berlapis aspal. Lalu lintas semakin ramai, setelah dibukanya jalur angkutan Turi-Tempel.

Turi adalah kota kecamatan di dekat kawasan wisata Kaliurang. Sedangkan Tempel terletak di jaIan raya Yogyakarta – Magelang. Makin hidupnya jalur Tempel – Turi membuat prospek WASP semakin cerah.Di masa mendatang, WASP bisa disatukan dalam paket wisata Candi Prambanan dan Borobudur. Wisatawan yang berkunjung ke Prambanan meneruskan perjalanannya ke Borobudur melalui kawasan WASP. Begitu juga turis dari Borobudur yang akan ke Prambanan. Itu sebabnya mengapa pengembangan WASP tidak mengkonsentrasikan zona inti, tapi diperluas dengan desa-desa wisata. “Kami ingin turis yang lewat sini dapat menikmati pemandangan khas,” ujar Sudibyo. Wajah dusun-dusun di sana kini sedang dipermak pagarpagar dibuat rapi, papan-papan petunjuk bertebaran di mana-mana. dan kioskios kecil dihias semarak. Sekilas tampak seperti wajah desa ketika akan menyambut kedatangan pejabat atau menjelang lomba desa. Itulah pemandangan keseharian Bangunkerto.

Upaya penataan itu direncanakan tidak merusak sendi-sendi sosial dan ekonomi masvarakat setempat. Pengembangan desa wisata akan tetap mempertahankan pola dan bentuk asli (tradisional), baik dalam tata ruang maupun penampilan arsitekturnya. Tata ruang desa disesuaikan dengan persyaratan kesehatan lingkungan, dan pemanfaatan lingkungan pekarangan dengan menanam tanaman-tanaman produktif.Pemanfaatan lahan tegalan atau ladang, tetap dikelola oleh penduduk untuk dijadikan tempat tujuan wisatawan, sebagai pendukung zona inti. Pengembangan desa-desa wisata, dimaksudkan agar dapat memperpanjang lama tinggal (length of stay). Untuk mewujudkan desa wisata ini, dibuatlah kelompok-kelompok dusun yang termasuk dalam bagian kawasan wisata agro, dengan fokus utama sebagai desa wisata buah. Rencana buah-buahan yang akan ditanam di tempat tersebut, selain salak Pondoh, adalah buah rambutan, durian, mangga, duku, petai, langsem, dan sebagainya.Menurut Sudibyo, untuk lebih meningkatkan daya tarik WASP akan dilengkapi kebun bonsai, taman anggrek, juga pasar burung. Sebuah museum mungkin dicantumkan pula dalam rencana pengembangan tempat wisata ini. “Perlu dibangun rumah makan yang menyediakan masakan untuk wisatawan domestik maupun mancanegara,” tambahnya.Dalam tahun 1993/1994 ini, lanjut Sudibyo, dinas-dinas terkait di Pemda Sleman, sudah melakukan koordinasi untuk pengembangan wisata agro.

Beberapa fasilitas penunjang mulai dibangun. Memang masih jauh dari kelengkapan fasilitas yang direncanakan.Meski demikian, beberapa biro perjalanan sudah memasukkan WASP, sebagai objek wisata yang disodorkan kepada turis asing. Terlebih bila turis tersebut merencanakan perjalanan dari Yogyakarta ke Borobudur.

(Dikutip dari: Widji Anarsis, Agribisnis Komoditas Salak, Bumi Aksara, 1999,

halaman 95-98).

sumber : http://soemarno.multiply.com

1.   PENDAHULUAN

Tanah dapat didefinisikan sebagai material mineral  yang tidak padu yang berada di permukaan bumi dan yang berfungsi sebagai medium alami bagi pertumbuhan tanaman darat. Akan tetapi kalau praktek pengelolaan tanah dilibatkan dan dengan demikian dipengaruhi oleh faktor-faktor genetik dan lingkungan, maka akan banyak terjadi modifikasi pada tanah.  Efek modi­fikasi ini terhadap lengas tanah, temperatur, oksigen, aspek-aspek kim­iawi, dan ketersediaan hara dapat muncul.

Sistem pengelolaan tanah pertanian seringkali memodifikasi zone perakaran secara nyata.  Kegiatan pengolahan tanah dilakukan untuk menggemburkan tanah sehingga memudahkan penetrasi akar, mengubur residu tanaman sebe­lumnya, menyediakan lingkungan yang sesuai bagi benih, dan mengendalikan gulma.  Tradisi, estetika, dan manfaat-manfaat ekonomi telah memotivasi  petani untuk melakukan pengolahan tanah dan budidaya tanaman, yang pada akhirnya akan memodifikasi zone perakaran.

Data yang sahih tentang pengaruh modifikasi zone perakaran terhadap ketersediaan hara agak sulit dan mahal diperoleh. Heterogenitas di antara dan di dalam lokasi serta interaksi yang kompleks di antara faktor-faktor telah mengakibatkan kesulitan interpretasi data terutama kalau replikasi waktu tidak dilakukan.  Walaupun demikian masih dimungkinkan untuk mengu­bah dan mengatasi kekurangan hara yang diakibatkan oleh adanya modifikasi zone perakaran.

Dalam rangka memperkenalkan teknik-teknik yang tersedia untuk memperbaiki rezim kesuburan tanah dan menyembuhkan kekurangan hara, maka dianggap perlu untuk terlebih dahulu memahami sifat dan karakteristik dari perma­salahan yang dihadapi.  Untuk ini maka harus memahami berbagai pengeta­huan tentang fenomena kesetimbangan  dalam tanah yang mengendalikan suplai hara ke akar tanaman.  Kalau informasi ini telah dikuasai, maka perlu mengevaluasi presisi dan nilai prognostik dari metode-metode yang tersedia untuk menjelaskan status kesuburan tanah.  Hal ini memungkinkan kita untuk menentukan realibilitas  diagnosa kekurangan hara dalam suatu kasus tertentu.  Setelah itu berbagai pendekatan untuk menyembuhkan kekurangan hara tersebut dapat dirancang untuk memaksimumkan respon tanaman terhadap perlakuan penyembuhan.

Ada banyak problem dan kendala dalam diagnosis sifat dan keparahan prob­lem yang ada  dan pada akhirnya akan menimbulkan kesulitan dalam upaya menyembuhkan sesuatu problem kekurangan hara.  Banyak aturan-aturan dan kaidah-kaidah telah ditulis tentang subyek kesuburan tanah dan  diagnosis kekurangan hara.

1.1. Hubungan Tanah-Tanaman

Disamping sebagai tempat tegaknya tanaman, tanah juga mensuplai unsur hara esensial yang diperlukan oleh tanaman kecuali CO2 dan O2 yang beras­al dari atmosfer.  Interaksi antara fase padatan dan cairan dalam mensu­plai unsur hara esensial dari tanah ke akar tanaman, diabstraksikan dalam Gambar 1.  Karena secara umum telah disepakati bahwa tanaman menyerap sebagian besar haranya secara langsung dari larutan tanah, maka komponen ini akan menjadi fokus pembahasan.  Konsentrasi larutan tanah selalu encer, jarang yang melampaui 10 mM kecuali pada kondisi saline.  Larutan tanah berada dalam kondisi kesetimbangan dinamik dengan fase padatan tanah yang mencerminkan cadangan hara.  Hal ini dilukiskan dalam Tabel 1 yang hanya menunjukkan kecilnya persentase kation tersedia dalam fase larutan tanah.

1.2. Suplai dan ketersediaan hara

Untuk dapat lebih memahami kesetimbangan hara dalam tanah, maka perlu untuk mengkaji konsep-konsep ketersediaan dan suplai hara kepada tanaman.  Istilah “ketersediaan” itu sendiri masih belum terdefi­nisikan secara baik, tetapi telah diartikan sebagai kondisi dimana  tanaman mampu mendapatkan hara.  Misalnya, ion-ion dalam larutan tanah mudah tersedia tetapi jumlah totalnya sedikit.  Oleh karena itu kesinam­bungan penyerapan hara dari larutan tanah tergantung kepada laju pembaha­ruan konsentrasinya dari cadangan hara yang berada pada fase padatan.  Oleh karena itu pada umumnya dianggap benar bahwa tambahan pertama dari hara yang diambil akan lebih mudah tersedia dibandingkan dengan tambahan- tambahan berikutnya karena enerji ikatannya kepada fase padatan tanah semakin besar.

2.  FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI  KETERSEDIAAN  HARA

Ketersediaan hara bagi tanaman ditentukan oleh faktor-faktor yang mempen­garuhi kemampuan tanah mensuplai hara dan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan tanaman untuk menggunakan unsur hara yang disediakan.  Tujuan dari uji tanah adalah mengukur faktor-faktor ini dan menginterpretasikan hasil-hasilnya dalam konteks perlakuan penyembuhan yang mungkin diperlu­kan.  Beberapa faktor dapat ditentukan melalui pekerjaan laboratorium.  Sedangkan faktor lainnya seperti kandungan oksigen udara tanah, suhu tanah dan lainnya harus ditentukan di lapangan.

2.1. Faktor yang mempengaruhi konsentrasi larutan tanah

Unsur hara yang melarut dalam larutan tanah berasal dari beberapa sumber seperti pelapukan mineral primer, dekomposisi bahan organik, deposisi dari atmosfer, aplikasi bahan pupuk, rembesan air tanah dari tempat lain, dan lainnya.  Kondisi pH tanah merupakan faktor penting yang menentukan kelarutan unsur yang cenderung berkesetimbangan dengan fase padatan . Kelarutan oksida- oksida hidrous dari Fe dan Al secara langsung tergantung pada konsentrasi hidroksil (OH) dan menurun kalah pH meningkat.

Faktor lain yang sangat penting dalam menentukan konsentrasi hara dalam larutan tanah adalah potensial redoks.  Faktor ini berhubungan dengan keadaan aerasi tanah yang selanjutnya sangat tergantung pada laju respir­asi jasad renik dan laju difusi oksigen. Ia mempengaruhi kelarutan unsur hara mineral yang mempunyai lebih dari satu bilangan oksidasi (valensi), seperti C, H, O, N, S, Fe, Mn, dan Cu.  Kandungan air yang mendekati atau melebihi kondisi kejenuhan  merupakan sebab utama dari buruknya aerasi karena kecepatan difusi oksigen melalui pori yang terisi air jauh lebih lambat daripada pori yang berisi udara.

Kalau tanah yang semula dalam kondisi oksidasi menjadi lebih reduksi maka akan dapat terjadi reaksi-reaksi:

(a).       denitrifikasi nitrat,

(b). reduksi MnO2 menjadi Mn++;

(c).      reduksi Cu++ menjadi Cu+  ;

(d). reduksi oksida hidrous Fe+++ menjadi Fe++,

(e). reduksi SO4= menjadi H2S,

(f)        produksi CH4,

(g).       produksi H2.

2.2. Pergerakan Unsur Hara Menuju Permukaan Akar

2.2.1. Intersepsi akar

Kalau akar tanaman tumbuh berkembang dalam ta-nah, mereka menempati ruang yang semula ditempati oleh unsur hara yang dapat diserap. Oleh karena itu permukaan akar harus kontak dengan unsur hara ini selama proses penggan­tian ruang tersebut. Estimasi sumbangan intersepsi akar terhadap kebutu­han hara tanaman dapat dilakukan atas dasar tiga asumsi berikut:

(1).  Jumlah maksimum hara yang di-intersep adalah jumlah yang diperkir­akan tersedia dalam volume tanah yang ditempati oleh akar

(2).  Akar menempati rata-rata 1% dari total volume tanah

(3).  Sekitar 50% dari total volume tanah terdiri atas pori; oleh kare­nanya akar menempati sekitar 2% dari total ruang pori.

2.2.2. Aliran massa

Air secara konstan  bergerak mendekati atau menjauhi permukaan akar. Sejumlah air kontak dengan permukaan akar kalau ia diserap untuk menggan­tikan kehilangan transpirasi.  Sejumlah air lainnya kontak dengan permu­kaan akar kalau ia bergerak dalam responnya terhadap gradien potensial air dalam tanah.  Air tanah ini mengandung unsur hara terlarut dan jumlah unsur hara tertentu yang diangkut ke prmukaan akar oleh salah satu dari proses ini disebut sebagai hara yang diangkut oleh aliran massa.

Persentase kebutuhan hara yang dapat dipenuhi oleh aliran massa tergan­tung pada (a) kebutuhan ta-naman akan unsur hara, (b) konsentrasi hara dalam larutan tanah, (c) jumlah air yang ditranspirasikan  per unit bobot jaringan, dan (d) volume efektif air, yang bergerak karena gradien poten­sial dan yang kontak dengan permukaan akar.

2.2.3. Difusi

Persamaan berikut ini melukiskan faktor-faktor penting yang menentukan kecepatan difusi unsur hara menuju ke permukaan akar:

dq/dt = DAP(C1 - C2)/L

dimana: dq/dt = mencerminkan laju difusi ke permukaan akar; D = koefisien difusi unsur hara dalam air; A = luas penampang yang diasumsikan mencer­minkan total permukaan penyerapan dari akar tanaman untuk maksud difusi ini; P = fraksi dari volume tanah yang ditempati oleh air (juga termasuk faktor tortuosity); C1 = konsentrasi hara terlarut pada suatu titik yang jarak L dari permukaan akar; C2 = konsentrasi hara terlarut pada permu­kaan akar; dan L = jarak dari permukaan akar ke titik tertentu C1

Persamaan ini tidak akan berlaku secara tepat untuk sistem tanah, akan tetapi ia mampu menunjukkan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kecepatan difusi unsur hara seperti P dan K ke permukaan akar, yaitu:

(1). Faktor P, mencerminkan fraksi dari total volume tanah yang mengan­dung air.  Laju difusi akan tergantung pada kadar air tanah, dan tanah yang bertekstur halus diharapkan akan memungkinkan difusi yang lebih cepat pada kondisi konsentrasi larutan yang sama dibandingkan dengan tanah yang teksturnya kasar karena ia mempunya kapasitas menahan air yang lebih besar pada potensial air tanah yang setara.

(2).  Besarnya gradien konsentrasi (C1-C2)/L.  Konsentrasi yang tidak sama akan menyediakan gaya dorong bagi difusi.  Kalau C1 merupakan kon­sentrasi larutan tanah dan C2 konsentrsi pada permukaan akar, laju difusi akan lebih tinggi kalau C1 semakin besar dan C2 semakin kecil dan L konstan. Sehingga kemampuan tanaman untuk menyerap hara menurunkan kon­sentrasi C2 hingga sangat rendah dan hal ini akan meningkatkan laju difusi yang tinggi karena konsentrasi hara dalam larutan (C1) menjadi tinggi. Faktor jarak L akan dipengaruhi oleh adanya faktor kapasitas dalam kesetimbangan dengan larutan tanah karena reaksi kesetimbangan akan cenderung mempertahankan konsentrasi yang relatif tinggi di dekat permu­kaan akar.

(3).  Faktor A, mencerminkan total luas permukaan akar yang tersedia untuk penyerapan dan menjadi fakor yang sangat penting.  Sejumlah hara yang sama dapat diserap dengan laju yang lebih lambat per satuan luas permu­kaan kalau total luas permukaan penyerapan lebih besar.  Oleh karena itu, luasnya sistem perakaran merupakan faktor penting yang mempengaruhi serapan yang dikendalikan oleh difusi.  Distribusi akar dalam kaitannya dengan distribusi spasial unsur hara tersedia dan air tersedia sangat penting.

2.3. Pembaharuan Hara dalam Larutan Tanah

Kalau unsur hara diambil dari larutan tanah, akan terjadi kecenderungan untuk menggantikan defisit hara dari fase padatan tanah.  Konsentrasi hara dalam larutan tanah sering disebut sebagai faktor intensitas dan sumber hara pada fase padatan tanah yang mensuplai kembali larutan tanah disebut sebagai faktor kapasitas. Faktor kapasitas dapat dibagi-bagi secara sembarangan menjadi tiga kategori, yaitu:

(1).  bentuk-bentuk yang berkesetimbangan secara cepat dengan larutan tanah.

(2).  bentuk-bentuk yang berkesetimbangan secara lambat hingga agak lambat (kesetimbangan semu) dengan larutan tanah

(3).  bentuk-bentuk yang tidak berkesetimbangan de-ngan larutan tanah, karena tidak ada reaksi balik (unsur hara dibebaskan tetapi tidak dijerap kembali).

2.4.   Faktor yang mempengaruhi Kemampuan Ta-naman  Menyerap Hara

Faktor-faktor tanah yang mempengaruhi kemampuan tanaman menyrap hara adalah:

(1).  Konsentrasi oksigen dalam udara tanah.  Energi yang diperlukan untuk serapan hara berasal dari proses respirasi dalam akar tanaman.  Untuk semua tanaman akuatik ternyata proses respirasi ini tergantung pada suplai oksigen  dalam udara tanah.

(2).  Temperatur tanah. Penyerapan unsur hara berhubungan dengan aktivi­tas metabolik yang selanjutnya sangat tergantung pada suhu.  Konsentrasi hara dalam larutan tanah yang lebih besar seringkali diperlukan  untuk mencapai laju pertumbuhan maksimum dalam kondisi tanah dingin dibandingkan dengan tanah-tanah yang hangat.

(3).  Reaksi-reaksi antagonistik yang mempengaruhi serapan hara.  Walau­pun konsentrasi hara pada permukaan akar bisa menjadi faktor paling kritis yang mempengaruhi laju serapan pada kondisi lingkungan normal, reaksi-reaksi antagonistik antara ion-ion juga dapat menjadi penting.  Kurva baku respon hasil tanaman terhadap penambahan unsur hara tunggal pertama kali menunjukkan daerah respon pertumbuhan, kemudian daerah ha- sil maksimum yang mendatar, dan akhirnya zone depresi hasil kalau konsen­trasi mendekati tingkat toksik.

(4).  Substansi toksik. Suatu substansi yang mengganggu proses metabo­lisme tanaman juga dapat mempengaruhi serapan hara.  Substansi toksik seperti ini di antaranya adalah konsentrasi Mn atau Al yang tinggi dalam tanah masam, konsentrasi garam terlarut yang sangat tinggi, jumlah B yang berlebihan, dan lainnya.

3. DIAGNOSIS DEFISIENSI UNSUR HARA

3.1. Pendahuluan

Tujuan uji tanah telah dijelaskan oleh Tisdale dan Nelson (1966) dan oleh Melsted (1967) adalah: (1) untuk mengevaluasi status kesuburan sebidang lahan tertentu, (2) meramalkan peluang untuk mendapatkan  respon yang menguntungkan terhadap penggunaan kapur dan pupuk, (3) menyediakan landa­san untuk rekomendasi pengapuran dan pemupukan, dan (4) mengevaluasi  status kesuburan tanah suatu wilayah.

Dengan kata lain, uji tanah dapat digunakan untuk diagnosis, untuk pendu­gaan dosis pupuk, atau untuk pemupukan tanaman. Diagnosis defisiensi unsur hara dalam tanaman dapat dilakukan atas dasar analisis daun atau analisis tanah.  Pemisahan dua macam pendekatan ini semata-mata hanya bersifat “keyakinan” saja, karena keduanya tidak “mutually exclusive”.  Secara umum ada empat fase dalam uji tanah, ya-itu (1) sampling tanah, (2) analisis tanah, (3) penyusunan rekomendasi, dan (4) interpertasi rekomendasi bagi petani.

3.2. Sampling tanah

3.2.1. Banyaknya sampel

Pada umumnya telah diketahui bahwa kesalahan yang cukup besar melekat dalam pengambilan contoh tanah dari lapangan.  Dalam memutuskan berapa jumlah sampel yang harus diambil, harus dilakukan permufakatan antara jumlah yang banyak yang diperlukan oleh kaidah statustuk dengan jumlah yang lebih sedikit yang dikendalai oleh biaya.  Reduksi biaya sampling dapat dikurangi kalau petani sendiri mampu mengambil sampel tanah.

3.2.2. Waktu sampling

Kandungan hara tersedia dalam tanah beragam sepanjang tahun, oleh karena inilah maka semua tanah harus diambil contohnya pada waktu yang sama dalam setahun.  Akan tetapi untuk efisiensi kerja laboratorium rutin maka diharuskan ada contoh tanah secara kontinyu. Ke dua hal ini menjadi persyaratan yang tidak saling menenggang.

3.2.3. Kedalaman sampling

Kalau unsur hara dalam tanah bersifat tidak mobil, seperti fosfat, maka secara teoritis tidak sulit untuk mendapatkan kedalaman sampling yang memuaskan.  Akan tetapi kalau unsur hara dalam tanah bersifat mobil maka diperlukan kompromi antara apa yang seharusnya dan apa yang mungkin dilakukan.

3.2.4. Penyiapan dan penyimpanan sampel tanah

Pengeringan contoh tanah sebelum preparasi dan penyim panannya akan mengu­bah ketersediaan fosfat (Ghosh dan Wiklander, 1968; Wiklander dan Kout­ler-Anderson, 1966) dan nitrogen (Storrier, 1966).  Pengaruh pengeringan terhadap ketersediaan kalium juga cukup besar sehingga seringkali anali­sis kalium tanah dilakukan dengna menggunakan lumpur yang disiapkan di lapangan.

3.2.5. Frekuensi sampling tanah

Mountier dan During (1967) menyimpulkan bahwa jalan pintas untuk mereduk­si ragam spatial ialah mengulang setiap sampling, tetapi hal ini sulit untuk dipraktekkan.  Sampling tanah setiap tahun mungkin telah dapat dianggap ideal kalau variasi di antara ulangan dalam suatu tahun jauh lebih rendah dibandingkan dengan variasi di antara tahun.  Hal yang sering terjadi ialah bahwa variasi antar ulangan lebih besar daripada variasi antar tahun, sehingga dalam kondisi seperti ini akan diperoleh nilai hara tersedia yang lebih rendah setelah aplikasi pupuk.

3.3. Analisis contoh tanah

Metode analisis apapun yang digunakan, tampaknya kesalahan analitik masih jauh lebih kecil daripada kesalahan sampling.  Biasanya variasi antar laboratorium jauh lebih besar daripada variasi di dalam suatu laboratori­um.  Analisis tanah yang paling sering dilakukan adalah pH, P-tersedia, Nitrogen, dan bahan organik.

Dalam hubungannya dengan suplai N-tanah, Fox dan Piekielek (1978) meng­kaji dua macam indeks ketersediaan N-tanah, yaitu ekstraksi 0.01 M NaHCO3 dan ekstraksi 0.01M CaCl2. Hasil ekstraksi ini ternyata berkorelasi nyata dengan kemampuan delapan macam tanah (dari Pennsylvania) untuk menyedia­kan N bagi tanaman jagung.  Ternyata absorpsi UV oleh ekstraks 0.01 M NaHCO3 pada 260 nm berkorelasi nyata dengan kemampuan tanah menyediakan nitrogen. Dalam penelitiannya yang lain (Fox dan Piekelek, 1978b) ditemu­kan bahwa N-NH4 ekstraks autoklaf dan N-total berkorelasi nyata dengan kemampuan tanah menyediakan nitrogen.

3.4. Penyusunan rekomendasi

Untuk menyusun rekomendasi dari suatu analisis maka beberapa hubungan harus ditetapkan antara kandungan hara dalam tanah dan respons tanaman.  Dengan unsur hara mikro ternyata rekomendasi merupakan taraf aplikasi yang akan menyembuhkan defisiensi; sedangkan unsur hara makro selain untuk menjamin suplai di atas tingkat kritis, juga diarahkan pada dosis optimum berdasarkan korelasi dengan respon tanaman.

Stanford (1977) mengemukakan bahwa penggunaan pupuk N yang efektif apabi­la jumlah pupuk yang diberikan (Nf) ditentukan berdasarkan kebutuhan N tanaman untuk mencapai hasil optimum secara ekonomis (Nc). Disamping itu juga harus memperhatikan jumlah N yang tersedia dalam tanah (Ns) dan efisiensi atau recovery N (E). Sehingga Nf = (Nc-Ns)/E.  Nilai Nc  untuk tanaman tahunan pada umumnya dapat diestimasi dengan baik. Penghitungan Ns menghadapi banyak masalah karena jumlah N-tersedia dalam tanah tergan­tung pada jumlah N-organik yang dapat dimineralisasikan selama satu musim pertumbuhan (Nm) dan jumlah N-mineral yang tersedia bagi tanaman (ammoni­um dan nitrat) (Na). Nilai Na ini dipengaruhi oleh praktek pengelolaan, faktor iklim, dan sifat-sifat tanah. Pendugaan na sangat ditentukan oleh waktu (frekuensi) dan sampling lapangan yang cukup.

Dalam penyusunan rekomendasi pupuk harus diperhatikan tingkat efisiensi yang diinginkan, dan hal ini selanjutnya akan berhubungan erat dengan kemungkinan kehilangan hara pupuk dari tanah sebelum dapat diserap oleh tanaman.

3.4.1. Tingkat kritis

McKenzie (1966) menetapkan tingkat kritis bagi Cu dan Zn.  Ia menemukan hubungan yang baik antara Cu dan Zn larut EDTA dengan respon tanaman, tingkat kritis unsur hara ini bergaam dengna pH tanah. Kebanyakan estimasi ketersediaan unsur hara diperoleh dengan menggunakan larutan pengekstraks.

Holford (1966) menentukan tingkat kritis 51-150 ppm K-larut asam asetat bagi tanaman tebu di Fiji. Sementara itu Barrow et al. (1967)  dalam penelitiannya tentang potensial dan kapasitas hara  menetapkan nilai minimum potensial kalium bagi tanaman clover dalam media kultur larutan hara dan media tanah.  Dalam penelitian ini clover ditanam dalam berbagai kondisi tanah hingga suplai kaliumnya dihabiskan, kemudian potensial kaliumnya diukur.

3.4.2. Korelasi-korelasi

Pada tanaman tebu di Queensland, Yates (1965) menemukan bahwa respon fosfat berkorelasi dengan fosofor yang terekstraks dalam 0.01 N H2SO4, tetapi korelasi dengan K-tanah larut HCl jelek.  Bruce (1966) menyatakan bahwa  0.01 N H2SO4 merupakan pengekstraks yang cocok untuk penggunaan rutin. Bradley dan Fitzsimmons (1964) mengklasifikasikan tanah-tanah gandum menjadi “tinggi”, “medium”, dan “rendah” atas dasar analisis Bray-1.  Mereka menunjukkan bahwa  tanah-tanah yang tergolong “tinggi” tidak menunjukkan respon dengan tanaman gandum, sedangkan  tanah-tanah yang tergolong “rendah” menunjukkan respon yang baik, meskipun belum tentu signifikan, terhadap pemupukan superfosfat.

Dalam perhitungan rekomendasi ekonomis, titik pada kurva dimana slope sama dengan nisbah output/input, akan menentukan dosis pupuk . Kita tidak mengetahui apakah hasil lebih rendah yang diperoleh pada skala usahatani disebabkan oleh alterasi bentuk kurva respon atau pergantian tempatnya. Kalau rataan hasil yang lebih rendah sebagai akibat dari pergeseran vertikal ke bawah kurva  respon eksperimental, maka dosis pupuk yang ditentukan secara eksperimental akan dapat diterapkan  di lahan petani.  Akan tetapi kalau lebih rendahnya rataan hasil usahatani  adalah sebagai akibat dari alterasi bentuk kurva atau perges­eran lateral, maka  dosis pupuk yang ditentukan secara eksperimental ti- dak dapat dibenarkan untuk situasi usahatani.

Maynard dan Barker (1974) mengkaji lebih lanjut tentang akumulasi nitrat akibat pemupukan nitrogen dalam kaitannya dengan berbagai tipe daun melalui percobaan dengan media kultur pasir dengan konsentrasi nitrat beragam dari 0.187 hingga 48 meq/l.  Ternyata konsentrasi kritis nitrat dalam daun bervariasi di antara kultivar spinach, yaitu 0.045% hingga 0.17%.  Kadar nitrat dalam media kultur dengan kadar nitrat tanaman dan pertumbuhan tanaman biasanya menunjukkan hubungan yang erat.

3.5. Menginterpretasikan Rekomendasi bagi Petani

Interpretasi rekomendasi oleh suatu lembaga penyuluhan pertanian barang­kali menjadi kemungkinan yang terbaik. Barber (1967) menyatakan bahwa meskipun interpretasi dan  rekomendasi yang dilakukan oleh laboratorium dapat melibatkan semua  informasi mutakhir, namun kontak personal dengan petani dan usahataninya dapat terabaikan dan faktor-faktor seperti tipe manajer, situasi finansial, dsb tidak dapat dipertimbangkan.  Iowa State University (1968) merekomendasikan dosis hara “tinggi” atau “medium” untuk setiap area yang diuji; dosis “tinggi” digunakan kalau pengelolaan­nya baik dan kelengasan subsoil-nya juga sesuai.

4.  EVALUASI KESUBURAN TANAH DAN   REKOMENDASI PEMUPUKAN

4.1.  Analisis Jaringan Tanaman

Ada dua tipe analisis tanaman yang telah sering digunakan.  Tipe pertama adalah uji jaringan dengan menggunakan bahan jaringan segar di lapangan, dan tipe ke dua adalah analisis total yang dilakukan di laboratorium dengan teknik-teknik analisis yang lebih teliti.

Analisis tanaman mempunyai keuntungan pokok yaitu bahwa ia mengintegrasi­kan  pengaruh tanah, tanaman, iklim dan peubah-peubah pengelolaan.  Dengan cara ini maka hasil analisis tanaman dipandang sebagai ukuran akhir dari ketersediaan unsur hara.  Akan tetapi kelemahan yang pokok dari cara ini adalah berkaitan dengan “waktu”, seringkali sudah terlambat untuk menyembuhkan kekurangan hara tanpa mengalami kehilangan hasil.

Lazimnya analisis tanaman digunakan untuk tiga maksud penting, yaitu (i) identifikasi problematik unsur hara tanaman dan mengkuantifikasikan koreksinya melalui penetapan tingkat kritis unsur hara, (ii) menghitung nilai serapan hara untuk menunjang program pemupukan, dan (iii) memonitor status hara tanaman permanen, atau yang secara praktis disebut “crop logging”.

Analisis tanaman didasarkan atas anggapan bahwa jumlah unsur hara dalam tanaman merupakan indikasi suplai unsur hara tertentu dan dengan demikian secara langsung berhubungan dengan kuantitas dalam tanah.  Karena keku­rangan unsur hara  akan membatasi pertumbuhan tanaman, maka unsur hara lainnya dapat terakumulasi dalam cairan sel dan menunjukkan nilai uji yang tinggi, tanpa memperhatikan suplainya.

Tingkat kritis telah berhasil diidentifikasikan untuk bberapa unsur hara dalam berbagai jenis tanaman.  Banyak definisi tentang tingkat kritis telah diusulkan, tetapi salah satu definisi yang bermanfaat bagi petani ialah “kadar unsur hara di bawah mana hasil tanaman atau penampilannya menurun di bawah optimum”. Akan tetapi pada kenyataannya agak sulit memi lih taraf yang spesifik karena kadar unsur hara lainnya dalam tanaman  dapat mempengaruhi tingkat kritis  sesuatu unsur hara.  Pada tanaman jagung ternyata tingkat kritis N, P atau K ternyata mempunyai kisaran yang agak luas, tergantung pada keseimbangan unsur hara lainnya dan taraf hasil yang diinginkan.  Tingkat kritis boron akan lebih tinggi kalau kadar kalsium tanam,an sangat tinggi.

Uji cepat untuk menentukan  unsur hara dalam cairan sel dari jaringan tanaman segar ternyata mempunyai posisi penting  dalam diagnosis kebutu­han tanaman.  Dalam uji ini hasilnya disajikan  dalam bentuk “sangat rendah”, “rendah”, “medium”, atau “tinggi”.  Tujuannya untuk menduga taraf unsur hara tanaman.

4.1.1. Bagian Tanaman yang Diuji

Hal penting yang harus diperhatikan adalah bagian tanaman mana yang akan memberikan indikasi terbaik bagi status hara tanaman. Kalau suplai nitro­gen menurun, bagian pucuk tanaman tempat digunakannya nitrogen dalam proses metabolisme akan menunjukkan nilai uji nitrat yang rendah.  Dalam hal P dan K akan terjadi hal yang sebaliknya, dimana bagian tanaman sebelah bawah akan defisien lebih dahulu.  Beberapa contoh bagian tanaman untuk keperluan analisis jaringan disajikan dalam Tabel 1.  Daun-daun muda tidak boleh untuk bahan analisis.

4.1.2. Waktu Analisis

Fase kemasakan merupakan hal yang sangat penting dalam analisis jaringan tanaman.  Rata-rata tanam-an budidaya tumbuh selama periode 100 – 150 hari, dan status haranya akan berubah selama periode tersebut.  Tanaman muda yang cukup hara mungkin saja akan kekurangan pada akhir pertumbuhan­nya.  Akan tetapi kalau diperkirakan akan terjadi defisiensi dan tanaman diuji lebih awal maka akan ada peluang untuk mengoreksinya.

Tabel 1.       Bagian Tanaman yang Digunakan untuk Analisis Jaringan Tana­man

Tanaman Nitrogen Fosfor Kalium
Jagung Batang utama Tulang daun Helai atau tu
atau tulang daun dekat tongkol lang daun dekat tongkol
Kedelai Tangkai daun Tangkai daun
bagian atas
Kentang Batang atau Tangkai daun Tangkai daun
tangkai daun bagian bawah
Tomat …………… …… ” …… ………….

Sumber: Ohlrogge (dalam Tisdale dan Nelson, 1975)

Pada umumnya fase pertumbuhan yang paling kritis untuk analisis jaringan ialah pada saat  pembungaan hingga awal fase pembuahan.  Selama periode ini penggunaan unsur hara mencapai tingkat maksimumnya.  Misalnya pada tanaman jagung seringkali diambil  daun di dekat tongkol pada saat muncul bunga jantan.  Hasil analisis ini hanya dapat dimanfaatkan untuk program pemupukan tanaman berikutnya.

Waktu dalam seharian juga berpengaruh terhadap kadar nitrat jaringan tanaman, pagi hari biasanya kandungan nitrat lebih tinggi dibandingkan dengan siang hari, terutama kalau suplai nitrogen terbatas.  Nitrat terakumulasi pada malam hari dan digunakan pada siang hari pada saat karbohidrat disintesis.  Oleh karena itu uji nitrat jaringan tanaman tidak boleh dilakukan pada saat terlalu pagi atau terlalu sore hari. Beberapa hal penting adalah:

(1). Idealnya ialah mengikuti serapan unsur hara sepanjang musim dengan melakukan uji lapangan lima atau enam kali.  Kadar hara seharusnya lebih tinggi pada awal musim kalau tanaman tidak mengalami stress.

(2).  Kebutuhan tanaman akan unsur hara umumnya mencapai maksimumnya pada saat fase pembungaan.  Kalau uji lapangan hanya dapat dilakukan sekali selama musim pertumbuhan tanaman, maka pada saat pembungaan inilah waktu yang paling tepat.

(3). Pembandingan tanaman di lapangan  sangat bermanfaat.  Tanam-an dari daerah defisiensi diuji dan dibandingkan dengan tanaman dari daerah normal.

(4). Tanaman sangat beragam, sehingga harus diuji 10-15 tanaman dan hasilnya dirata-ratakan.

4.1.3. Kegunaan

Uji jaringan tanaman dan analisis tanaman dilakukan karena alasan-alasan berikut ini:

(1).  Untuk membantu menentukan kemampuan tanah dalam mensuplai unsur hara.  Mereka digunakan bersama-sama dengan hasil uji tanah dan informasi tentang sejarah pengelolaan lahan.

(2).  Untuk membantu mengidentifikasikan gejala defisiensi dan menentukan saat-saat kekurangan unsur hara sebelum muncul gejala defisiensi.

(3).  Untuk membantu menentukan efek perlakuan kesuburan terhadap suplai unsur hara dalam tanaman. Hal ini akan sangat berguna untuk mengu­kur efek tambahan pupuk meskipun tidak ada informasi tentang respon hasil.  Dalam beberapa kasus ternyata unsur hara yang ditambahkan ke tanah tidak diasimilir karena penempatannya yang salah, cuaca kering, pencucian, fiksasi atau aerasi yang buruk.

(4).  Untuk mengkaji hubungan antara status unsur hara tanaman dan penampilan tanaman

(5).  Untuk mensurvei daerah yang luas.

4.1.4. Interpretasi

Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam kaitannya dengan interpret­asi diagnosis status hara tanaman adalah: (1). Penampilan dan kesuburan tanaman secara umum; (2). Kadar hara-hara lain dalam tanaman; (3). Gangguan hama dan penyakit; (4). Kondisi tanah, aerasi dan kelembaban yang buruk ; (5). Kondisi iklim, dan (6). Waktu dalam seharian.

4.1.5. Tingkat kritis unsur hara

Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, istilah “tingkat kritis” biasanya berhubungan dengan ambang batas defisiensi dan kecukupan.  Tingkat kritis pada analisis tanaman ini mengikuti hukum minimum, dan pada hakekatnya menggunakan pendekatan yang sama dengan konsepsi yang dikembangkan oleh Cate dan Nelson.  Beberapa contoh tingkat kritis unsur hara tanaman disajikan dalam Tabel 5.2.

Tabel 5.2.    Tingkat kritis yang memisahkan keadaan defisiensi dan kecu­kupan unsur hara dalam beberapa tanaman.

Unsur hara Tebu Padi Jagung Kedelai
Nitrogen; %N 1.5 2.5 3.0 4.2
Fosfor; %P 0.05 0.10 0.25 0.26
Kalium; %K 2.25 1.00 1.90 1.71
Kalsium;%Ca 0.15 0.15 0.40 0.36
Magnesium; %Mg 0.10 0.10 0.25 0.26
Belerang; %S 0.01 0.10 0.00 0.00
Boron; ppm 1.00 3.40 10.00 21.00
Tembaga; ppm Cu 5.00 6.00 5.00 10.00
Besi; ppm Fe 10.00 70.00 15.00 51.00
Mangan; ppm Mn 10-20 20.00 15.00 21.00
Molibdenum; Mo - - 0.1 1.00
Seng; ppm Zn 10.00 10.00 15.00 21.00
Silika; %Si - 5.00 - -

Sumber: Sanchez (1976).

4.1.6. Serapan hara sebagai sarana penduga

Kekurang-akuratan uji tanah untuk menangani problematik nitrogen telah mendorong berkembangnya pendekatan lain dalam mengestimasi dosis pupuk nitrogen. Bartholomew (1972) mengungkapkan adanya hubungan yang konstan antara hasil biji serealia dengan total serapan nitrogennya (termasuk serapan akar). Hubungan seperti ini pada tanaman jagung, gandum dan padi dapat disajikan dalam bentuk grafik.  Slope dari kurva-kurva gambar ini menunjukkan bahwa rata-rata kenaikan hasil jagung dan padi untuk setiap tambahan 1 kg nitrogen adalah 30-35 kg biji, sedangkan gandum hanya 15-20 kg.  Kalau diketahui hasil tanaman tanpa pupuk (hasil ambang) dan batas hasil kon­stan maksimum, maka dengan bantuan grafik ini dapat ditentukan jumlah pupuk nitrogen yang diperlukan untuk meningkatkan hasil tanaman hingga mencapai maksimumnya.

Hubungan antara serapan N dengan hasil biji disajikan dalam bentuk grafik regresi. Kalau misalnya hasil ambang tanaman jagung sebesar 2 ton/ha dan diketahui pula hasil tanaman jagung dengan pemupukan N dan pengelolaan yang baik mampu mencapai 6 ton/ha, maka tanaman akan menyerap ekstra nitrogen sebanyak 100 kg N/ha (140 – 40) untuk mencapai hasil 6 ton/ha. Perbedaan efisiensi pemupuk-an nitrogen pada jagung, padi dan gandum dapat dianalisis lebih lanjut.

4.1.7. Analisis Total

Analisis total dilakukan pada keseluruhan tanaman atau pada bagian-bagian tanaman. Teknik-teknik analisis yang tepat digunakan pengukuran  berbagai unsur setelah material tanaman dikeringkan, dihaluskan, dan diabukan.  Spektrograf dapat menentukan beberapa unsur secara simultan dan “Atomic Absorption” menjadi semakin penting.  Dengan menggunakan metode kuantitatif seperti itu dapat dideteksi perbe­daan-perbedaan yang lebih kecil dibandingkan dengan uji jaringan tanaman.  Unsur hara yang telah diasimilasikan dan yang belum diasimilasikan dapat dideteksi.

Ada beberapa informasi yang menyatakan bahwa pada beberapa jenis tanaman tertentu ternyata hubungan antara kadar kalium pada daun di bagian bawah dengan kadar kalium dalam daun di bagian atas merupakan indikasi defisi­ensi atau kecukupan. Kalau kadar kalium pada daun bagian bawah lebih rendah dari kadar kalium pada daun di bagian atas maka tanaman defisiensi kalium.  Akan tetapi kalau kadar kalium daun di bagian bawah sama atau lebih besar maka tanaman tidak defisiensi kalium.

(1). Hasil Tanaman vs Kadar Hara dalam Tanaman

Hingga taraf tertentu, peningkatan dosis hara tanaman (seperti misalnya nitrogen), akan meningkatkan kadar unsur dalam tanaman dan hasil tanaman.  Suatu teladan dapat disajikan dalam grafik, dimana pemupukan nitrogen mening­katkan kadar N daun jagung sebanding dengan peningkatan hasil.

Hubungan antara hasil jagung dengan kadar kalium daun jagung disajikan dalam bentuk regresi.  Tampaknya zone kritis kadar kalium berada di sekitar nilai kadar K sebesar 2%. Salah satu masalah penting yang dihadapi dalam menginterpretasikan anali­sis tanaman adalah keseimbangan di antara unsur hara.  Pada kondisi lingkungan yang seragam tanaman akan cenderung untuk menyerap jumlah yang konstan kation-kation hara, termasuk ammo nium, atas dasar kesetaraan.  Demikian juga jumlah anion-anion umumnya juga konstan.  Misalnya kalium kalium dalam tanaman ditingkatkan, maka kalsium dan magnesium akan cende­rung menurun, dan sebaliknya .

(2).  Waktu Sampling

Kadar beberapa macam unsur hara dalam tubuh tanaman dapat menurun dengan cepat  dari periode awal musim hingga akhir musim pertumbuhan tanaman .  Dengan demikian  fase pertumbuhan untuk sampling harus dipilih dan diidentifikasikan dengan hati-hati.

(3).  Survei

Pengumpulan  sampel-sampel tanaman dari banyak lapangan, dengan analisis selanjutnya dengan spektrograf, akan memberikan indikasi umum tentang  kadar unsur hara. Memang untuk memungkinkan interpretasi atas kadar-kadar hara ini harus dibandingkan dengan tingkat kritis yang diperoleh dari petak-petak (daerah) yang terkontrol.  Metode ini sangat berguna untuk mendapatkan informasi pendahuluan tentang unsur hara seperti Zn, B, Co, dan Cu.

(4).  Penggunaan Rutin (Crop logging)

Analisis tanaman secara kuantitatif telah banyak digunakan dalam peneli­tian untuk mendapatkan ukuran-ukuran lain dari efek perlakuan.  Akan tetapi tanaman-tanaman komersial seperti perke bunan tebu, cengkeh, kopi, dan lain-lainnya dianalisis secara periodik. Dalam hal seperti ini anali­sis tanaman harus dibarengi dengan analisis tanah dan informasi tentang praktek budidaya tanaman.

Suatu sistem sampling tanaman secara intensif telah dikembangkan oleh Clements (1960) untuk memonitor status unsur hara dan air pada kebun tebu sebagai arahan bagi praktek pemupukan dan irigasi.  Setiap petak kebun tebu diambil sampelnya secara periodik setiap 35 hari selama 6 bulan pertama musim pertumbuhannya, dan hasil analisisnya digambarkan pada grafik-grafik “berputar” (running graphs). Peta hara menunjukkan kadar N helai daun dan kadar P, K pelepah daun. Informasi curah hujan, irigasi, temperatur dan tinggi tanaman dicatat, demikian juga praktek pemupukan dan irigasinya.  Kalau analisis jaringan tanaman dapat dilakukan secara cepat di laboratorium, maka teknik “crop logging” ini mampu memberikan informasi yang sangat baik tentang pertumbuhan tanaman dan dapat membantu meningkatkan efisiensi pemupukan dan irigasi.

4.2. Uji Biologi

Penggunaan tanaman yang sedang tumbuh telah menjadi semakin menarik dalam kajian-kajian kebutuhan pupuk, dan telah  banyak perhatian yang diberikan terhadap penggunaan metode ini untuk mengukur status kesuburan tanah.

4.2.1. Uji Lapangan

Metode petak-lapangan merupakan salah satu uji biologis yang paling banyak dikenal.  Serangkaian perlakuan yang dicobakan tergantung pada permasalahan penelitian yang akan dikaji jawabannya.  Perlakuan-perlakuan ini dicobakan di lapangan dengan meng gunakan Rancangan Percobaan yang sesuai. Percobaan-percobaan lapangan seperti ini berguna untuk memformulasikan rekomendasi umum.  Kalau banyak pengujian telah dilakukan pada tanah- tanah yang telah diketahui karakteristiknya, maka rekomendasi yang dida­sarkan pada kajian-kajian seperti itu dapat diekstrapolasikan ke tanah- tanah lainnya yang mempunyai karakteristik serupa.  Percobaan lapangan sangat mahal dan memerlukan banyak waktu, dan tidak dapat mengendalikan faktor-faktor iklim dan faktor lainnya secara penuh.

4.2.2. Petak Uji di Lahan Petani

Sebagian lahan milik petani diperlakukan dengan dosis pupuk tertentu dalam rangka untuk menguji rekomendasi yang disusun berdasarkan uji tanah dan analisis tanaman.  Uji multi-lokasi seringkali sangat diperlukan. FAO  pernah menggelar program evaluasi kesuburan tanah di daerah tropika dengan melalui percobaan pengujian pupuk secara sederhana.  Program ini bertujuan untuk mengenalkan pupuk sebagai sarana untuk meningkatkan hasil tanaman di daerah tropika (Mukerjee, 1963; Hauser, 1974).

Program ini menggunakan metode Mukerjee “method of dispersed experi ments”. Asumsi dasarnya ialah bahwa kebutuhan pupuk diestimasi dengan melakukan banyak percobaan pupuk tanpa ulangan pada lahan petani yang dipilih secara acak.  Individu-individu percobaan yang terletak pada daerah (tipe tanah) yang seragam dianggap sebagai ulangan.  Individu per cobaan melibatkan perlakuan kombinasi perlakuan NPK faktorial 2x2x2.  Dosis pupuk yang digunakan agak rendah (20 dan 40 kg/ha) karena tujuannya adalah untuk mencapai efisiensi maksimum dari investasi pupuk.

4.2.3. Uji Laboratorium dan Rumah-kaca

Teknik biologis yang lebih sederhana dan lebih cepat telah dikembangkan dengan melibatkan tanaman dan jumlah tanah yang lebih sedikit dalam percobaan di rumah kaca. Salah satu pendekatan yang pernah dikembangkan adalah didasarkan pada identifikasi defisiensi unsur hara dengan menggunakan teknik “missing element” atau “minus one test”, atau “plus one test”.  Pada “minus one test”, perlakuan lengkap dianggap sebagai kontrol, sedangkan perlakuan- perlakuan lainnya merupakan perlakuan lengkap dikurangi satu macam unsur hara secara berturut-turut.

Menurut Chaminade (1972), percobaan pot dengan teknik “minus one test” ini dapat memberikan tiga macam informasi, yaitu (i) unsur  hara apa yang defisien, (ii) kepentingan relatif defisiensi, dan (iii) laju penurunan kesuburan tanah pada panen yang berturutan kalau digunakan indikator tanama  pasture. Dalam banyak kasus ternyata tahap yang dipandang masih lemah adalah penentuan dosis pupuk untuk perlakuan lengkap. Kesalahan yang serius dapat terjadi kalau dosis ditetapkan secara sembarangan.  Oleh karena itu diperlukan uji tanah sebelum pelaksanaan percobaan rumah kaca.

4.3. Analisis contoh Tanah

Uji ini merupakan metode kimiawi untuk mengestimasi kemampuan tanah mensuplai unsur hara.  Meskipun metode-metode biologis  untuk mengevalua­si kesuburan tanah mempunyai keun tungan-keuntungan tertentu, namun keban­yakan dari metode ini memerlukan banyak waktu, sehingga akan terdapat kesulitan kalau diterapkan pada banyak contoh tanah.  Sebaliknya uji tanah secara kimiawi, jauh lebih cepat dan mempunyai keuntungan diband­ingkan dengan gejala defisiensi dan analisis tanaman karena metode ini dapat menentukan dugaan kebutuhan hara sebelum tanaman ditanam.

Analisis contoh tanah mengukur  sebagian dari total suplai hara dalam tanah.  Untuk dapat menggunakan hasil evaluasi ini untuk menduga kebutuhan unsur hara suatu tanaman maka harus dikali-brasikan dengan per-cobaan pemupukan di lapangan dan di rumah kaca.

4.3.1. Tujuan Uji Tanah

Informasi yang diperoleh dari uji tanah digunakan dalam banyak hal.

(1).  Untuk mempertahankan status kesuburan tanah di suatu bidang lahan. Suatu usaha dilakukan untuk mengekstraks sebagian unsur hara yang akan dikalibrasikan dengan kapasitas tanaman untuk menyerap unsur hara dari tanah.

(2).  Untuk memperkirakan peluang respon yang meng-untungkan terhadap kapur dan pupuk.  Meskipun  respon terhadap tambahan hara  tidak selalu dapat diperoleh pada tanah-tanah yang miskin karena adanya faktor pemba­tas lainnya, namun peluang responnya masih lebih besar dibandingkan dengan tanah-tanah yang nilai uji tanahnya tinggi (tanah kaya).

(3).  Untuk memberikan landasan bagi rekomendasi do-sis kapur  dan pupuk.

(4).  Untuk mengevaluasi status kesuburan tanah di suatu wilayah.

Dengan demikian secara sederhana tujuan uji tanah adalah untuk menda­patkan “suatu nilai” yang akan membantu meramalkan  jumlah unsur hara yang diperlukan  untuk menunjang suplai unsur hara dalam tanah.  Misaln­ya, tanah yang menunjukkan nilai uji tanah “tinggi” tidak akan memerlukan banyak tambahan pupuk.

4.3.2. Pengambilan Contoh Tanah

Salah satu asek yang sangat penting dari uji tanah adalah cara menda­patkan contoh tanah yang dapat mewakili daerah yang diuji. Biasanya contoh tanah komposit sebanyak 500-1000 g diambil dari suatu bidang lahan.  Dengan demikian prosedur pengambilan contoh tanah harus benar- benar diikuti.  Analisis kmiawi di laboratorium menggunakan contoh tanah.  Kalau contoh tanah yang diambil tidak mewakili kondisi lapangan maka hasil rekomendasinya juga akan keliru.  Pada umumnya kesalahan sampling tanah di lapangan lebih besar dibandingkan dengan kesalahan di laborator­ium.

(1).  Peralatan Sampling Tanah

Ada dua persyaratan penting bagi peralatan sam-p ling, yaitu (a). Dapat ‘mengiris dan mengambil contoh’ tanah secara seragam mulai dari permukaan hingga kedalaman tertentu; dan (b). Dapat mengambil sejumlah contoh tanah yang sama dari setiap area. Salah satu peralatan yang lazim digunakan adalah bor tanah.

(2). Daerah Sampling

Luas daerah yang dapat diwakili  oleh satu con-toh tanah sangat beragam, sangat dipengaruhi oleh keragaman kondisi wilayah dan tujuan evaluasi.

(3).  Banyaknya Sub-sampel

Setiap contoh tanah  merupakan contoh komposit yang terdiri atas tanah dari hasil pemboran yang dilakukan di beberapa titik. Satu contoh tanah komposit untuk mewakili area tertentu disarankan terdiri atas 15 – 20 titik pemboran.  Sanchez (1976) merekomendasikan suatu contoh (sampel) tanah yang representatif harus terdiri atas 10-20 sub-sampel daeri daerah perakaran tanaman di wilayah (lahan) yang tidak menunjukkan va-riasi slope, drainase, warna dan sejarah pemupukan yang mencolok.

(4). Kedalaman Sampling

Untuk tanaman budidaya secara umum, contoh tanah biasanya diambil hingga kedalaman olah yaitu 15-25 cm.  Akan tetapi dalam beberapa hal kedalaman pengolahan tanah hingga 30 cm, sehingga hal ini juga harus diperhatikan dalam sampling tanah.  Pengambilan contoh subsoil disarankan untuk tanaman yang perakarannya cukup dalam, seperti tebu dan teh (Wong, 1971)

(5). Waktu Pengambilan Contoh

Contoh tanah dapat diambil setiap saat asalkan kondisi tanahnya memung­kinkan.  Ada kalanya contoh tanah diambil pada saat tanaman sedang tum­buh.

(6). Menganalisis Contoh Tanah

Suatu uji tanah secara kimiawi harus dirancang untuk me-mungkinkan perk­iraan jumlah unsur hara yang berhubungan dengan fraksi pertukaran kation, fraksi yang mengikat fosfat, dan dalam kondisi tertentu diharapkan juga mampu memperkirakan unsur hjara yang berhubungan dengan dekomposisi bahan organik.  Sebagian besar kation unsur hara yang tersedia bagi tanaman ditahan dalam bentuk kation-tukar.  Sedangkan di antara anion-anion hara ternyata fosfat paling kuat diikat tanah, sulfat kurang kuat dan nitrat tidak ditahan oleh partikel-partikel tanah.

Beberapa macam larutan pengekstraks telah ba-nyak digunakan dalam rangka untuk mengkorelasikan  hasil uji tanah dengan per-tumbuhan tanaman.  Akan tetapi, perlu disadari bahwa larutan peng-ekstraks mengadakan kontak dengan tanah hanya beberapa menit, sedangkan tanaman menyerap hara dari tanah selama musim per-tumbuhannya.  Menurut Bray (1948), tingkat kehanda­lan metode ekstraksi ini ditentukan oleh tiga hal, yaitu (i) harus mampu meng-ekstraks  semua atau sebagian bentuk unsur hara tersedia dalam tanah yang cirinya berbeda-beda, (ii) prosedur ekstraksinya harus cepat dan akurat, (iii) jumlah unsur hara yang terkestraks harus berkorelasi dengan pertumbuhan dan respon tanaman terhadap unsur hara yang terkait pada berbagai kondisi.

4.3.3. Korelasi dan Kalibrasi Uji Tanah

Pada hakekatnya tujuan pokok dari kajian korelasi di rumah kaca adalah untuk membandingkan berbagai metode ekstraksi dan menentukan tingkat kritis “tentatif”. Sedangkan kajian lapangan bertujuan untuk menetapkan tingkat kritis yang “definit” untuk suatu metode ekstraksi yang terpilih.  Walaupun analisis tanah secara kimiawi masih dibayangi oleh berbagai kesulitan, namun masalah terbesar dalam  program uji tanah adalah kali­brasi hasil uji.  Pada hakekatnya hasil uji tanah dikalibrasikan dengan respon tanaman terhadap pemupukan di lapangan.  Respons pertumbuhan dan hasil tanaman dari berbagai dosis pupuk dapat dihubungkan dengan jumlah unsur hara yang tersedia dalam tanah.

Sebagaimana kita ketahui bahwa pertumbuhan dan hasil tanaman merupakan fungsi dari banyak peubah, selin ketersediaan unsur hara.  Fitts (1955) mengelompokkan peubah-peubah ini menjadi empat kategori, ya-itu tanah, tanaman, iklim, dan pengelolaan.  Apabila hasil tanaman berkorelasi dengan suatu peubah tertentu, misalnya P-tersedia dalam tanah, maka hal ini berarti bahwa P-tersedia tersebut merupakan faktor pembatas yang lebih penting dibandingkan peubah-peubah lainnya yang tidak dikendalikan dalam suatu kajian korelasi.  Sebagai suatu teladan dapat di- kemukakan hasil penelitian Hauser (1973) tentang korelasi hasil analisis P-tanah dengan respon kapas . Pengelompokkan hasil analisis P-tanah dikelompokkan menjadi tiga katego­ri, yaitu rendah, medium dan tinggi. Dosis rekomendasi didasar-kan pertim­bangan jumlah pupuk yang diperlukan untuk menaikkan nilai analisis P- tanah menjadi kategori “tinggi”.

Suatu pendekatan lain ialah menggambarkan hubungan antara persentase hasil (hasil relatif) dengan nilai uji tanah.  Tingkat kritis seringkali ditetapkan sekitar 75% hasil relatif.  Cate dan Nelson (1965) mengemukakan suatu me-tode plotting hasil relatif (persen dari hasil maksimum) sebagai fungsi dari nilai-nilai analisis tanah.  Diagram pencar titik-titik dibagi menjadi empat kuadran oleh garis vertikal dan horisontal.  Kedua garis ini digeser- geser sedemikian rupa sehingga banyaknya titik-titik yang berada pada kuadran kiri bawah dan kanan atas mencapai maksimum, dan titik-titik yang berada pada kuadran kiri atas dan kanan bawah mencapai minimum.

Pada situasi seperti ini maka titik perpotongan antara garis vertikal dengan sumbu horisontal (hasil analisis tanah) dianggap sebagai “titik kritis” untuk hasil analisis tanah yang bersangkutan.  Sedangkan titik perpotongan antara garis horisontal dengan sumbu vertikal (hasil relatif) merupakan pembatas antara tanah-tanah yang respon tinggi dengan tanah-tanah yang respon rendah.  Oleh karena itu tingkat kritis membagi titik-titik data menjadi dua kelompok, yaitu kelompok respon hasil sangat besar dan kelompok yang mungkin tidak respon. Keuntungan dari metode Cate dan Nelson ini ialah karena ia sejalan dengan keterbatasan uji tanah, me-tode ini hanya memisahkan tanah-tanah yang respon terhadap penambahan pupuk dari tanah-tanah yang tidak respon. Selain itu metode ini juga mampu menunjukkan tanah-tanah yang tidak sesuai dengan metode ekstraksi yang digunakan (yaitu titik-titik yang berada dalam kuadran kiri atas dan kanan bawah).

Berbagai laboratorium uji tanah mengklasifikasikan tingkat kesuburan tanah (empris) menjadi sangat rendah, rendah, medium, tinggi, atau sangat tinggi, berdasarkan atas  hasil-hasil uji kimiawi.  Beberapa pakar yang berwenang lainnya juga telah mengembangkan suatu indeks kesuburan tanah.  Indeks ini pada hakekatnya merupakan kecukupan relatif yang dinyatakan sebagai persentase dari jumlah yang diperlukan untuk mencapai hasil maksimum.  Nilai-nilai persentase tersebut dapat dikonversi menjadi kg/ha.  Suatu teladan disajikan dalam Tabel 5.3.

Peluang respon tanaman terhadap pemupukan pa-da berbagai macam kondisi tanah yang mempunyai hasil uji tanah berbeda-beda telah banyak dibicara­kan para pakar.  Konsepsi umum disajikan dalam gambar grafik. Seringkali kalibrasi uji tanah juga dipersulit oleh adanya kenyataan bahwa  banyak faktor selain kesuburan tanah juga mempengaruhi respon tanaman.  Varietas tanaman sangat menentukan responnya terhadap pemupukan, perbedaan sangat jelas dapat diketemukan antara varitas unggul dan lokal .

Tabel 5.3. Teladan Indeks Kesuburan Tanah

Tingkat kesuburan Indeks kesuburan; %
Sangat rendah 0 – 50
Rendah 60 – 70
Medium 80 – 100
Tinggi 110 – 200
Sangat tinggi 210 – 400
Ekstrim tinggi > 400

Keterangan: Teladan hipotetik

4.3.4.  Interpretasi dan Rekomendasi

(A). Filosofi Interpretasi Uji Tanah

Banyak perkembangan telah terjadi dalam bidang pengukuran jumlah unsur hara yang tersedia dalam tanah. Akan tetapi masalah besar yang masih tetap dihadapi ialah bagaimana menginterpretasikan  hasil-hasil uji dalam rangka menentukan kebutuhan pupuk.  Derajat ketelitian ditentukan oleh banyak faktor, termasuk pengetahuan tentang tanah, tingkat hasil yang diharapkan, taraf pengelolaan, dan cuaca.

Konsepsi tentang persentase hasil didasarkan pada gagasan bahwa hasil yang diharapkan (sebagai persentase  dari hasil maksimum) diramalkan dari analisis P dan K tanah.  Pupuk ditambahkan se-cukupnya untuk meingkatkan hasil hingga mencapai hasil relatif 95% atau lebih.  Konsepsi ini dapat diterapkan pada berbagai kondisi, tetapi interaksi-interaksi di antara unsur hara dapat menyebabkan penyim-pangan.  Ketika konsepsi ini dikembangkan oleh Bray, ia menyatakan bahwa  konsep ini hanya berlaku kalau po-pulasi dan model jarak tanamnya sama dan pada kondisi tanah dan fluktuasi musiman yang sama.

(B). Model-model matematik

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, tingkat kritis memisahkan tanah- tanah yang respon pupuk dengan tanah-tanah yang tidak respon pupuk.  Akan tetapi konsepsi tingkat kritis ini belum mampu memberikan informasi tentang rekomendasi pupuk.

Tujuan dari interpretasi uji tanah ialah untuk menetapkan berapa banyak unsur hara harus diberikan untuk mencapai respon hasil tertentu di dalam kategori tanah-tanaman yang diperkirakan.  Suatu kategori tanah-tanaman menyatakan bahwa interpretasi harus dibedakan antara tanah-tanah yang terletak di atas dan di bawah tingkat kritis, dan juga harus dibedakan antar jenis tanaman.  Dalam kajian-kajian korelasi uji tanah, ada dua model matematik yang lazim digunakan, yaitu (i) model kontinyu (kurvilinear) dan model diskon­tinyu (linear).

Model-model kontinyu klasik berdasarkan pada hukum tam-bahan hasil yang semakin menurun; dimana suatu fungsi kurvi-linear yang cocok digunakan untuk mendekati data respon hasil.  Fungsi-fungsi yang lazim digunakan adalah kuadratik, fungsi akar kuadrat, logaritmik, dan Mitscherlich.  Dosis pupuk optimum sesuai dengan suatu titik pada kurva dimana revenue- marjinal sama dengan biaya-marjinal. Titik ini dapat ditentukan secara matematik atau secara grafik dengan jalan menggambarkan  garis rasio harga/biaya dalam diagram respon hasil. Hasil optimum terjadi pada titik dalam kurva yang slope garis singgungnya sama dengan slope garis biaya. Persamaan respon hasil juga dapat dikembangkan sesuai dengan pengelompokkan tanah selama kajian korelasi uji tanah. Persamaan res-pon hasil dapat dikembangkan untuk tanah-tanah yang berada dalam kategori “uji tanah rendah”. “uji tanah medium” dan “uji tanah tinggi” .  Gambaran ini juga menyajikan suatu modifikasi pen-ting, yaitu kisaran optimum dan bukannya titik op-timum.  Kisaran A dan C menyatakan rekomen­dasi untuk mencapai profit per hektar yang tertinggi; sedangkan kisaran B dan D mencerminkan biaya pemupukan lebih rendah dan keuntungan per satuan pupuk lebih tinggi.

Model “linear response and plateau” telah dikembangkan oleh Waugh, Cate, dan Nelson. Model ini berdasarkan pada hukum minimum Liebig dan model korelasi Cate-Nelson. Model respon ini pada hakekatnya terdiri atas dua garis lurus.  Garis pertama mencerminkan daerah respon tinggi, dan garis ke dua yang mengikutinya mencerminkan daerah tidak respon (garis horisontal). Hasil ambang adalah ha-sil tanaman yang tidak diberi pupuk (misalnya unsur hara X), sedangkan hasil-konstan menyatakan hasil tanaman dimana unsur hara (unsur X) tidak lagi menjadi faktor pembatas.  Hasil-relatif adalah hasil-ambang dibagi dengan hasil-konstan.  Dosis rekomendasi adalah dosis pupuk yang diper lukan untuk mencapai hasil-konstan.  Kalau unsur hara X tidak lagi menjadi faktor pembatas, maka unsur lainnya mungkin menjadi faktor pembatas. Hasil-ambang terakhir mencerminkan efek faktor pembatas genetik dan peubah lain.

(C).  Rekomendasi untuk Berbagai Tingkat Hasil

Interpretasi hasil-hasil uji tanah melibatkan eva-luasi ekonomi tentang hubungan antara nilai uji tanah dengan respon pupuk.  Akan tetapi pada kenyataannya respon potensial beragam dengan faktor tanah, cuaca, dan kemampuan pengelolaan budidaya oleh petani .  Sehubungan dengan hal tersebut, rekomendasi pupuk bisa beragam sesuai dengan tingkat hasil yang diinginkan .  Dosis rekomendasi pupuk N tergantung pada polatanam sebelumnya dan sasaran hasil.

Kalau teknologi dan praktek pengelolaan tanaman menjadi lebih baik atau insentif ekonomis meningkat, maka potensial hasil dan rekomendasi pupuk dapat ditingkatkan.  Bagi para petani komersial  biasanya sasarannya ialah mempertahankan  unsur hara pada tingkat  yang mampu mempertahankan keuntungan maksimum setiap hektar lahan.  Hal ini berarti  bahwa unsur hara tidak boleh menjadi faktor pembatas selama pertumbuhan tanaman, mulai dari perkecambahan hingga panen.

(D).  Tipe-tipe Rekomendasi

Pada umumnya ada empat macam alternatif tindakan kalau tanah miskin P atau K.

(a). Pupuk Dasar.

Pemupukan dengan maksud korektif  dilakukan untuk mening-katkan keterse­diaan unsur hara dalam tanah hingga taraf tertentu.  Misalnya, tambahan pupuk  10 kg P2O5 akan meningkatkan nilai uji P1 sebesar satu kg, dan penambahan sekitar 3 kg K2O akan emningkatkan nilai uji tanah K sebesar satu kg.  Akan tetapi seringkali jumlah pupukyang harus ditambahkan sangat beragam tergantung pada tekstur tanah.  Tanah diuji kembali dalam 2-3 tahun untuk melihat apakah koreksi pemupukan diperlukan lagi.  Kemudian  penambahan dosis pupuk dilakukan  untuk menggan-tikan kehilangan hara dari tanah, melalui panen, erosi, pencucian dan fiksasi.

(b). Pemupukan musiman

Pupuk N, P dan K dapat ditambahkan kepada setiap musim tanam dalam sistem rotasi tanaman.  Praktek seperti ini mungkin dapat mengakibatkan penin­gkatan ketersediaan hara dalam tanah atau paling tidak mempertahankan tingkat ketersediaan unsur hara dalam tanah.  Pendekatan pemupukan seper­ti ini mungkin lebih sesuai kalau kapital pe-tani terbatas, lahan yang dipupuk masih baru diusahakan, atau lahan sewaan.  Hasil tanaman akan tidak terlalu tinggi, dan keuntungan per hekytar lahan lebih rendah, tetapi keuntungan per satuan biaya akan lebih tinggi dibandingkan dengan metode pemupukan dasar.

Tabel 4. Rekomendasi pupuk N dan P untuk jagung

Uji tanah; P1 Sasaran hasil;  bu/Acre:
(lb/P/Acre) 100-124 125-149 150-174 > 175
….. Dosis pupuk tahunan P2O5  lb/Ac
0- 9 70 80 90 100
10-19 60 70 80 90
20-29 50 60 70 80
30-59 40 50 60 70
60-99 30 40 50 60
> 100 20 20 25 30
……. Dosis pupuk N………
Jagung terus
menerus 140 180 220 260

Sumber: Tisdale dan Nelson, 1975.

(c).  Rotasi Tanaman

Dalam suatu sistem rotasi, misalnya jagung-kedelai, umumnya petani hanya memupuk tanaman jagung.  Akan tetapi harus diingat bahwa setiap tanaman dalam sistem rotasi menyerap sejumlah unsur hara dari tanah.  Dalam program pemupukan sistem rotasi tanaman harus diperhatikan bebera­pa hal berikut:

(1).  pupuk diberikan sebelum tanaman yang paling responsif dan menguntungkan,

(2).  pupuk fosfat diberikan di dekat tanaman jagung

(3).  tanaman hijauan pakan menyerap banyak kalium, sehingga pemupukan musiman diperlu­kan untuk mempertahankan hasil

(4).  Kedelai lebih respon terhadap tingkat kesuburan tanah  yang tinggi daripada pemupukan langsung.  Akan tetapi pada tanah-tanah yang ku-rang subur diperlukan pemupukan langsung pada kedelai.

(E). Sistem Penggantian

Kalau ketersediaan P dan K tanah ditingkatkan hingga  taraf yang dibu­tuhkan, maka rekomendasi pupuk selanjutnya dilakukan dengan tujuan untuk menggantikan kehilangan unsur hara sesuai dengan tingkat hasil yang diharapkan.  Misalnya kalau thasil biji kedelai sebesar 50 kg dan mengam­bil 3/4 kg P2O5 dan 1.4 kg K2O per ha, maka dosis pupuk yang mungkin dapat disarankan adalah 40 kg P2O5 dan 70 kg K2O.

Ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam  sistem seperti di atas, yaitu:

(a).  Pada tanah-tanah yang mempunyai kemampuan besar untuk mensuplai unsur hara, maka rekomendasi pupuk hanya 50% dari kehilangan hara

(b).  Berapa tingkat ketersediaan unsur hara dalam ta-nah yang dianggap cukup?

(c).  Apakah petani masih ingin meningkatkan dosis pupuk kalau potensial hasil tanamannya meningkat?

(d).  Kandungan P, K, dan unsur hara lain dalam  hasil tanaman beragam

(e).  Apakah pemupukan hanya ditujukan untuk menggantikan jumlah hara yang hilang agar tingkat kesuburan tanah dapat dipertahankan?  Hal ini akantergantung pada fiksasi dan pelepasan unsur hara dalam tanah dan kehilangan-kehilangan la-innya.

(f).  Kalau sejumlah pupuk ditambahkan apakah dapat diharapkan tanaman mampu 100% efisien menyerap unsur haranya?

(g).  Dalam beberapa tanah jumlah pupuk yang diperlukan setara dengan jumlah kehilangan ditambah 10-25%-nya.

(F).  Metode Resep

Metode resep untuk menyusun rekomendasi pupuk pada hakekatnya didasarkan pada  gagasan bahwa ta-naman dapat hidup ‘aman’ dengan memanfaatkan jumlah tertentu N, P, dan K yang terkandung dalam tanah, rabuk, dan pupuk.  Kalau jumlah unsur hara yang diperlukan untuk mencapai tingkat hasil tertentu dapat diketahui, maka jumlah tambahan lewat pupuk dan/atau rabuk dapat diperhitungkan.  Prinsip yang melandasi  metode ini ialah memformu­lasikan  rekomendasi pupuk yang sesuai dengan kebutuhan.  Kebutuhan ini ditentukan oleh sistem rotasi tanaman, pengelolaan tanaman, analisis tanah, dan tanaman yang akan ditanam.

sumber : http://soemarno.multiply.com/

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.